Nostalgia 1953, KA Merbabu Kini Tampil Jadul dengan Livery Hijau Kuning Era DKA
SEMARANG, iNewsJoglosemar.id – KA Merbabu yang melayani relasi Semarang Tawang–Gambir kini tampil berbeda. Rangkaian kereta tersebut menggunakan livery vintage hijau kuning yang mengingatkan pada era 1953-an, masa Djawatan Kereta Api (DKA). Perubahan tampilan ini menjadi bagian dari perayaan HUT ke-81 PT Kereta Api Indonesia (Persero).
Executive Vice President PT KAI Daop 4 Semarang, Mohamad Arie Fathurrochman, menjelaskan bahwa livery hijau kuning adalah livery yang paling lama digunakan di kereta api Indonesia.
"Ini dimaksudkan sebagai tanda, sebagai pengingat bahwa livery hijau kuning ini adalah livery yang paling lama digunakan di kereta api. Ini juga mengingatkan bagi kami terutama juga buat masyarakat bahwa kereta api ini akan terus bergerak sepanjang masa untuk melayani masyarakat Indonesia," ujarnya, Senin (28/9/2026).
Menurut Arie, livery hijau kuning digunakan sekitar tahun 1953-an, berbarengan dengan kedatangan lokomotif CC 200 ke Indonesia untuk persiapan Konferensi Asia Afrika.
"Livery vintage ini digunakan untuk mengingatkan kita bahwa livery ini adalah livery terlama yang digunakan oleh kereta api hijau kuning. Dari masa DKA sampai ke masa PJKA," jelasnya.
Penerapan vintage livery tersebut merupakan hasil kolaborasi KAI Daop 4 Semarang bersama Indonesian Railway Preservation Society (IRPS). Livery ini terinspirasi dari kereta seri ABL-9000, kereta bersejarah yang mulai digunakan oleh DKA pada 1 Oktober 1954.
Kereta seri ABL-9000 memiliki konfigurasi kelas 1 dan kelas 2 dalam kompartemen yang dipisahkan sekat berpintu. Kapasitasnya masing-masing 12 tempat duduk kelas 1 dan 47 tempat duduk kelas 2. Sebanyak 49 unit ABL-9000 dipesan oleh DKA dan diproduksi oleh tiga pabrikan asal Prancis, yakni Société Lorraine, Carel Fouché, serta Brissonneau et Lotz.
Pada masa awal pengoperasiannya, kereta ABL-9000 digunakan untuk mendukung layanan ekspres pada sejumlah rute, termasuk Jakarta–Surabaya, Jakarta–Semarang, Jakarta–Yogyakarta, dan Jakarta–Bandung. Kereta seri ini juga memiliki catatan dalam perjalanan sejarah nasional ketika digunakan untuk mendukung perjalanan peserta Konferensi Asia-Afrika pada 1955.
Satu rangkaian KA Merbabu yang menggunakan livery vintage ini terdiri atas 9 kereta eksekutif New Image, 1 kereta makan New Image hasil modifikasi Balai Yasa Tegal, dan 1 kereta pembangkit. Kapasitas totalnya mencapai 450 tempat duduk dalam satu rangkaian.
Dengan kapasitas tersebut, KA Merbabu dapat melayani hingga 450 pelanggan dalam setiap perjalanan pada relasi Semarang Tawang–Gambir pulang pergi.
Arie menegaskan bahwa tidak ada perubahan interior pada KA Merbabu. Interior yang digunakan tetap seperti biasa.
"Enggak ada, enggak ada. Jadi ini memang interiornya adalah interior yang biasa digunakan untuk KA Merbabu. Hanya saja livery-nya kita ubah menjadi vintage," ujarnya.
Saat ditanya mengapa tidak memilih tampilan futuristik, Arie menegaskan bahwa tujuan utama adalah mengingatkan perjalanan panjang kereta api.
"Tadi seperti yang disampaikan, ini mengingatkan kita bahwa pelayanan kereta api sudah cukup panjang. Bahwa livery yang paling panjang digunakan adalah livery hijau kuning. Jadi ini sebagai pengingat buat kita semua bahwa kereta api sudah melayani masyarakat Indonesia begitu lama dan kami juga bertekad supaya ke depan pun kami masih bisa melayani masyarakat Indonesia," jelasnya.
Ia memastikan livery vintage ini akan terus digunakan hingga ada program baru dari KAI.
Semarak HUT ke-81 KAI di Daop 4 Semarang juga menghadirkan perspektif lain melalui pembacaan puisi "Di Stasiun Tawang" karya Louis-Philippe Dalembert. Kegiatan tersebut menghadirkan kolaborasi bersama Triyanto Triwikromo, sastrawan dan akademisi Universitas Diponegoro, serta Ucik Fuadhiyah, dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Universitas Negeri Semarang.
Pemilihan Stasiun Semarang Tawang sebagai ruang pembacaan puisi memiliki makna tersendiri. Stasiun yang telah berdiri sejak 1914 tersebut merupakan salah satu bangunan bersejarah di Kota Semarang.
"Kereta api dan sastra memiliki satu ruang pertemuan yang sama, yaitu manusia dan perjalanannya. Stasiun menjadi tempat banyak cerita dimulai maupun berakhir," kata Arie.
Editor: Enih Nurhaeni