SEMARANG, iNEWSJOGLOSEMAR.ID – Ika Yuanita, seorang pengusaha UMKM asal Semarang, sukses membangun bisnis kerupuk udang yang kini menembus pasar Eropa. Dengan merek Kingkaf, usahanya mampu memproduksi hingga 12 ton kerupuk udang setiap bulan. Produksi ini dilakukan di kawasan Ngaliyan, Semarang Barat, dengan melibatkan empat karyawan dan beberapa tenaga lepas.
"Kerupuk udang itu khas Indonesia. Hampir semua makanan tradisional kita cocok dipadukan dengan kerupuk. Banyak diaspora Indonesia di luar negeri yang merindukan rasa autentik ini, dan itulah yang menjadi peluang bagi kami," kata Ika Yuanita, di kediamannya kawasan Gombel Kota Semarang, Rabu (19/3/2025).
Awalnya, usaha pembuatan kerupuk ini dilakukan secara sederhana hanya untuk memenuhi pesanan di pasar. Namun, seiring meningkatnya permintaan, Ika mulai menerapkan sistem produksi yang lebih profesional. Ia juga mengganti metode kerja karyawannya agar lebih efisien dan terstruktur.
“Dulu kita produksi seadanya, hanya mengandalkan alat manual dan tenaga terbatas. Sekarang, dengan sistem yang lebih baik, kita bisa meningkatkan kapasitas produksi tanpa mengorbankan kualitas,” ujar Ika.
Tantangan Pasar Luar Negeri
Saat pertama kali masuk pasar Eropa, khususnya Jerman, Ika menghadapi tantangan besar. Salah satunya adalah kebiasaan masyarakat setempat yang tidak terbiasa menggoreng kerupuk sendiri.
“Banyak orang di Eropa, terutama warga lokal, tidak tahu cara menggoreng kerupuk dengan benar. Mereka tanya ke saya, ‘Bagaimana cara menggorengnya? Apakah ada yang sudah siap makan?’ Dari situ kami mulai mengembangkan produk yang lebih praktis dan siap santap,” jelasnya.
Untuk memenuhi kebutuhan ini, Ika membuat varian kerupuk yang sudah matang dan bisa langsung dinikmati tanpa perlu digoreng. Inovasi ini ternyata mendapat respons positif dari pasar luar negeri.
“Mereka menginginkan ukuran kerupuk yang tidak terlalu besar. Kalau biasanya yang kita konsumsi kan ukuranya cukup besar, ah yang diinginkan warga Eropa kira-kira hanya setengah ukurannya. Selain itu, mereka juga inginnya kita menggunakan minyak goreng kelapa, bukan sawit,” terangnya.
Dalam memproduksi kerupuk udang, Ika sangat selektif dalam pemilihan bahan baku. Ia hanya menggunakan daging udang tanpa kulit dan kepala, sehingga menghasilkan produk dengan cita rasa lebih murni dan tekstur lebih renyah.
“Kita pakai 100% daging udang, tidak ada campuran kulit atau kepala. Selain itu, kita juga memastikan semua bahan bebas gluten, karena banyak konsumen yang mencari produk dengan kualitas tinggi dan sehat,” ungkapnya.
Jaringan Distribusi Luas
Saat ini, pasar utama kerupuk udang Kingkaf di dalam negeri berada di wilayah Jawa Timur. Ika telah bekerja sama dengan beberapa distributor yang memasok produk ke berbagai toko dan supermarket di sana.
“Saat ini distribusi terbesar masih di Jawa Timur karena banyaknya permintaan. Kami juga menyediakan berbagai grade kerupuk, dari super hingga kelas standar, sesuai kebutuhan pasar,” tambahnya.
Untuk pasar ekspor, Ika bekerja sama dengan seorang distributor di Eropa yang mendistribusikan produknya ke toko-toko Asia di Jerman dan sekitarnya. Kerja sama ini bermula dari pertemuan dalam sebuah acara kurasi produk UMKM.
“Dari even kurasi, saya bertemu dengan seorang distributor yang punya banyak channel toko di Eropa. Sekarang setiap bulan atau dua kali sebulan, kita rutin kirim produk ke sana,” katanya.
Produksi Berbasis Keberlanjutan
Untuk memastikan keberlanjutan bisnisnya, Ika tidak hanya fokus pada produksi, tetapi juga pengembangan sumber daya manusia. Ia bahkan membiayai pendidikan karyawannya untuk belajar manajemen agar mereka dapat memahami bisnis dengan lebih baik.
“Saya ingin karyawan tidak hanya sekadar membuat kerupuk, tapi juga paham bagaimana mengelola bisnis ini. Makanya saya bantu mereka kuliah di jurusan manajemen. Dengan begitu, mindset mereka berubah dan mereka bisa ikut membangun usaha ini bersama-sama,” jelasnya.
Ika Yuanita menambahkan Rumah BUMN Semarang memiliki peran besar mendukung perkembangan usahanya. Dengan bekal berbagai pelatihan strategi bisnis dan inovasi, ia berkomitmen mengembangkan usahanya agar kerupuk udang khas Indonesia semakin dikenal di pasar global.
Rumah BUMN Semarang terus mendorong para pelaku UMKMagar mampu menembus pasar ekspor. Salah satu langkah yang dilakukan adalah melalui pelatihan-pelatihan yang bertujuan meningkatkan kapasitas pelaku usaha.
UMKM Go Export
Koordinator Rumah BUMN Semarang, Endang Sulistiawati, menyampaikan bahwa saat ini pihaknya tengah membina lebih dari 7.000 UMKM yang tersebar di berbagai daerah di Jawa Tengah. Dari jumlah tersebut, sekitar 3.000 UMKM berasal dari Kota Semarang. Upaya pembinaan dilakukan secara berkelanjutan dengan berbagai program pelatihan.
“Di Rumah BUMN Semarang, kami mengadakan berbagai pelatihan, mulai dari pemasaran digital, pengelolaan keuangan, peningkatan kualitas produk, hingga strategi ekspor ke pasar global,” ujar perempuan yang akrab disapa Tia tersebut.
Selain memberikan pelatihan, Rumah BUMN Semarang juga membuka akses ke berbagai jaringan bisnis dan pameran untuk membantu UMKM memasarkan produknya. Tak hanya itu, Rumah BUMN bersifat inklusif, di mana pelaku UMKM difabel juga diberikan kesempatan yang sama dalam memperoleh pelatihan serta fasilitas seperti QRIS dan BRImo untuk mendukung transaksi digital.
Tia menambahkan bahwa Rumah BUMN Semarang merupakan salah satu dari 54 titik Rumah BUMN yang tersebar di seluruh Indonesia. Keberadaannya bertujuan untuk membantu UMKM agar bisa naik kelas dengan empat pilar utama, yakni go modern, go online, go digital, dan go export.
Melalui berbagai inisiatif ini, diharapkan semakin banyak UMKM yang mampu bersaing di pasar internasional. Dengan bimbingan dan dukungan dari Rumah BUMN, para pelaku usaha diharapkan dapat meningkatkan daya saing produk mereka serta memperluas pangsa pasar di kancah global.
Editor : Enih Nurhaeni
Artikel Terkait