Terinspirasi Ginger Ale di Australia
Dalam perjalanannya ke Australia, Ika menemukan bahwa produk minuman berbasis jahe sangat populer di sana, terutama ginger ale. Ia pun mengunjungi Ginger Factory, pabrik sekaligus tempat wisata yang khusus memproduksi berbagai produk berbahan dasar jahe.
"Di semua supermarket pasti ada ginger ale dalam berbagai varian, baik dalam kemasan kaleng maupun botol. Saya sampai bertanya-tanya dari mana asal produk ini," kenangnya.
Di sana, Ika melihat bahwa budaya konsumsi ginger ale justru lebih diminati oleh anak muda, sedangkan teh jahe lebih disukai kalangan tua. "Saya melihat ini sebagai peluang besar. Di Indonesia, minuman jahe identik dengan minuman orang tua, sedangkan di luar negeri justru anak muda yang lebih banyak mengonsumsinya," kata Ika.
Tak hanya sekadar meniru konsep ginger ale, Ika berupaya mengembangkan produk dengan cara yang lebih alami. "Saya ingin membuat ginger ale tanpa bahan kimia tambahan. Setelah belajar dari beberapa ahli fermentasi, akhirnya kami menemukan cara untuk menghasilkan soda alami tanpa karbonasi buatan," jelasnya.
Minuman Jaenak dibuat melalui proses fermentasi menggunakan bakteri baik Lactobacillus serta madu sebagai pemanis alami. "Dari proses fermentasi ini, kita mendapatkan sensasi soda alami tanpa bahan kimia. Selain itu, madu yang digunakan memberikan manfaat tambahan bagi kesehatan," tambahnya.
Ginger ale buatan Ika tidak hanya sekadar minuman segar, tetapi juga memiliki manfaat kesehatan. "Sensasi soda alami dari fermentasi jahe ini bisa membantu meredakan mual, mabuk kendaraan, bahkan menjaga daya tahan tubuh. Saya sendiri sering mengonsumsinya saat merasa tidak enak badan," ujar Ika.
Selain itu, minuman ini aman dikonsumsi oleh ibu hamil karena tidak mengandung bahan kimia tambahan. Selain membantu mengatasi mabuk perjalanan, Jaenak juga dapat meredakan sakit tenggorokan dan meningkatkan sistem imunitas tubuh.
"Komposisinya hanya tiga bahan utama: jahe, lemon, dan madu. Semua alami, tanpa bahan pengawet," jelasnya.
Karena merupakan produk fermentasi, ginger ale Jaenak memiliki daya tahan yang cukup lama tanpa bahan pengawet tambahan. Produk ini pun memiliki segmen pasar yang luas, terutama di kalangan muda yang ingin menikmati minuman sehat tanpa mengorbankan rasa.
"Minuman ini bisa bertahan hingga satu tahun. Semakin lama disimpan, kadar gula alaminya akan semakin berkurang karena dikonsumsi oleh bakteri baik dalam proses fermentasi," ujar Ika.
Jaenak kini menjadi salah satu produk unggulan Kingkaf yang paling dicari, terutama dalam berbagai bazar dan pameran. "Setiap kali ada pameran, pasti yang dicari pertama kali adalah Jaenak. Ini menunjukkan bahwa masyarakat mulai tertarik dengan minuman sehat berbahan dasar alami," ujarnya.
Dengan inovasi seperti ginger ale Jaenak, Ika Yuanita menunjukkan produk lokal berbahan alami memiliki potensi besar untuk bersaing di pasar global. Tidak sekadar minuman segar, ginger ale ini juga menjadi solusi sehat bagi para pemudik yang ingin mengatasi mabuk perjalanan secara alami.
Editor : Enih Nurhaeni
Artikel Terkait