SEMARANG, iNewsJoglosemar.id — Kabut yang biasanya menyelimuti perbukitan di kaki Gunung Ungaran Kabupaten Semarang kini ditembus garis panjang beton, membelah hijau sawah dan lembah. Jalan baru itu tak hanya menentukan arah perjalanan, tetapi juga membuka pintu wisata Nusantara.
Ruas Bawen–Ambarawa, merupakan bagian dari Jalan Tol Jogja–Bawen, yang baru saja dfungsikan sebagai jalur mudik. Ribuan kendaraan pemudik melintas jalur ini untuk bisa merayakan Lebaran Idulfitri di kampung halaman.
Panjangnya hanya sekira 5 kilometer, tetapi posisinya seperti engsel. Yakni, menghubungkan arus utama Trans Jawa dengan jalur dan kantong-kantong wisata yang selama belum sepenuhnya terurai akibat kemacetan.
Terbukti pada libur lebaran 2026, Benteng Willem I menjadi destinasi wisata favorit di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Pada periode 13-28 Maret, lokasi wisata baru tersebut mencatatkan jumlah kunjungan sangat tinggi, 27.860 pengunjung. Menempatkannya di posisi kedua setelah Taman Bunga Celosia di kawasan Bandungan, yang selama ini memang digandrungi pecinta update status di media sosial.
Seorang pengunjung Mirna Dewi, wisatawan asal Bekasi mengaku penasaran dengan Benteng Willem I atau lebih dikenal Benteng Pendem Ambarawa. Setelah banyaknya informasi dari Instagram dan Tiktok, ia bersama suami dan anaknya langsung terpikat mengunjungi benteng yang dibangun pada 1834–1845, saat pulang mudik Lebaran ke Magelang.
“Penasaran karena banyak foto-foto di Instagram kok bagus. Bangunan kuno dengan dinding tembok bata ekspos tapi masih kokoh sampai sekarang,”lugas Mirna diamini suaminya, Senin (16/3/2026).
Tak disangka, jalan bebas hambatan itu juga menyuguhkan pemandangan alam yang memukau. Pegunungan hijau dan area perbukitan, menjadikan jalur ini sering disebut view wisata, terutama saat melintas di kawasan dataran tinggi.
“Sekalian mengistirahatkan mata setelah perjalanan panjang,” sambungnya.
Perempuan yang bekerja sebagai guru sekolah swasta di Bekasi itu juga penasaran ingin melintasi jalur Tol Bawen-Ambarawa. Selama masa Lebaran 2026, jalan bebas hambatan ini dibuka terbatas mulai 13 hingga 30 Maret.
“Kebetulan sudah dibuka fungsional. Jadi bisa sekalian nyobain tol baru. Jalannya bagus tidak gelombang, memang cuma sebentar karena jaraknya pendek. Setelah keluar exit Ambarawa langsung masuk jalan lingkar hingga sampai sini (Benteng Pendem Ambarawa),” bebernya.
Direktur Utama PT Jasamarga Jogja Bawen, Dwi Winarsa, menyebut progres pembangunan Seksi 6 (Bawen-Ambarawa) telah mencapai 90 persen. Target penyelesaian fisik ditetapkan pada Mei 2026. Meski sebelum rampung sepenuhnya, jalan ini menjalankan peran penting sebagai menjadi jalur fungsional saat arus mudik Lebaran 2026.
“Secara konstruksi sudah siap digunakan. Arus mudik diarahkan melalui Jalur A (Jakarta menuju Ambarawa) atau dari Bawen menuju Ambarawa. Sementara arus balik menggunakan Jalur B,” kata dia.
Bagi pemudik, pertigaan Bawen dikenal sebagai titik macet pada hari-hari biasa apalagi menjelang Lebaran. Lokasinya menjadi simpul yang sering kali menguras energi, karena pertemuan arus dari Semarang, Solo, Yogyakarta, hingga kendaraan menuju kawasan wisata.
“Tol ini beroperasi pukul 06.00 hingga 17.00 WIB. Menunggu dari kepolisian, kalau Bawen padat, baru dibuka. Kalau masih lancar, belum dimanfaatkan,” kata Dwi.
Dua hari sejak dibuka melayani arus mudik, Tol Bawen-Ambarawa mencatat sebanyak 5.496 kendaraan melalui jalur tersebut. Artinya, ribuan kendaraan tidak lagi menumpuk di satu titik. Pemudik bisa menghemat waktu berkisar 15-20 menit dibanding menggunakan jalur konvensional.
Tol ini juga memiliki peran berbeda, karena bukan hanya sebagai pengurai kemacetan. Ada visi yang lebih jauh. Tol Jogja–Bawen disiapkan sebagai bagian dari konsep tol wisata Nusantara. Jalan tol bukan sekadar penghubung, tetapi penggerak destinasi wisata.
“Tol ini bukan hanya menerima trafik, tapi menciptakan trafik,” ujar Direktur Pengembangan Usaha PT Jasamarga, Ari Respati.
Ia menyebut di sepanjang jalurnya, hampir setiap pintu keluar mengarah ke destinasi wisata besar. Borobudur di Magelang, dataran tinggi Dieng di Wonosobo, lalu Ambarawa dengan lanskap Rawa Pening dan Benteng Willem I.
Selama ini, akses ke lokasi berbagai wisata itu menjadi tantangan utama. Jarak relatif dekat, tapi waktu tempuh panjang karena kemacetan. Kini, hambatan itu mulai dipangkas.
Ambarawa menjadi contoh nyata. Kota kecil ini menyimpan banyak cerita masa lalu. Benteng Willem I yang berdiri sejak abad ke-19, Museum Kereta Api dengan lokomotif uap yang masih beroperasi, hingga hamparan Rawa Pening yang memantulkan indahnya langit sore.
“Pemudik bisa langsung keluar di Ambarawa, tanpa harus melewati titik-titik macet,” tambah Dwi.
Dari sana, arus kendaraan diarahkan ke jalur lingkar luar kota untuk menghindari penumpukan di pusat kota dan Terminal Bawen.
Kearifan Lokal
Ari juga menyampaikan gerbang tol dirancang tidak seragam. Setiap wilayah akan menampilkan identitasnya sendiri mulai dari arsitektur lokal, ornamen khas, hingga nuansa budaya setempat.
“Nantinya rest area ke depan tidak hanya menjadi tempat istirahat, tetapi juga ruang promosi produk lokal dan pengalaman wisata,” jelasnya.
Bahkan lanskap jalan pun direncanakan menampilkan tanaman atau vegetasi khas daerah. Tujuannya, selain penghijuan untuk mencegah erosi dan mengurangi emisi karbon juga sebagai penanda identitas wilayah.
“Banyak sekali tanaman lokal yang menjadi simbol (di suatu daerah), kami menanamnya sebagai tanaman penanda lokal,” imbuh Dwi.
Di balik ambisi itu, angka-angka besar ikut berbicara. Total investasi Tol Jogja–Bawen mencapai sekitar Rp18 triliun. Hingga kini, sekitar Rp7 triliun telah terserap untuk pembangunan Seksi 1 Yogyakarta (Sleman) – Banyurejo (8,80 km) dan Seksi 6 Ambarawa – Bawen.
Sementara segmen lain terus berproses. Seksi 2 Banyurejo – Borobudur yang menghubungkan Yogyakarta hingga Borobudur sepanjang sekitar 15 kilometer mulai masuk tahap konstruksi. Disusul Seksi 3 Borobudur – Magelang sepanjang 8 kilometer.
Kemudian Seksi 4 Magelang – Temanggung sepanjang 16 kilometer. Selanjutnya, Seksi 5 Temanggung – Ambarawa, yang menjadi ruas terpanjang yakni 22 kilometer. Tol Jogja-Bawen dari Seksi 1 dan Seksi 6, akan terhubung dengan Tol Trans Jawa ruas Semarang-Solo
“Nanti semuanya terhubung, jalur ini membentang sepanjang 76 kilometer dan menjadi penghubung wisata baru di Jawa Tengah,” tandasnya.
Jasamarga juga menyatakan ada tiga kunci utama dalam pelayanan di tol terutama saat arus mudik dan balik. Di antaranya adalah kualitas jalan, layanan, dan informasi.
Layanan darurat seperti ambulans dan derek disiagakan, termasuk tiga pos pengamanan di sepanjang jalur fungsional. Sementara dari sisi informasi, pendekatan digital diperkuat.
Pengamat transportasi Universitas Katolik Soegijapranata Semarang, Djoko Setijowarno, menyampaikan jalan tol terutama yang baru bukan ruang untuk euforia memacu kecepatan. Ia memberi catatan kepada pengemudi agar tetap bijak dan mengutamakan keselamatan berkendara.
“Kalau lancar, jangan ngebut. Justru pelan itu lebih aman,” ujarnya.
Menurutnya, kecelakaan beruntun yang kerap terjadi di jalan tol akibat kendaraan melaju terlalu cepat dalam kondisi lengang. Apalagi, pada tol baru yang menyajikan pemandangan alam, sehingga perhatian pengemudi tak fokus ke jalan.
“Faktor cuaca, terutama hujan juga bisa memengaruhi permukaan jalan. Pengguna jalan tol disarankan mengakses aplikasi Travoy untuk memantau kondisi lalu lintas secara real-time. Di situ kita memantau kepadatan hingga rekayasa lalu lintas,” jelasnya.
Editor : Enih Nurhaeni
Artikel Terkait
