Kendaraan Listrik Mulai Dilirik di Semarang, Isu Banjir Jadi Pertimbangan
SEMARANG, iNewsJoglosemar.id – Pasar mobil listrik di Kota Semarang dinilai semakin menarik seiring meningkatnya perhatian masyarakat terhadap kendaraan yang efisien energi dan dinilai lebih sesuai dengan kebutuhan perkotaan. Kondisi geografis Semarang yang memiliki sejumlah kawasan rawan banjir juga menjadi salah satu faktor yang ikut dipertimbangkan konsumen dalam memilih kendaraan.
Commercial Director Polytron Tekno Wibowo menilai, perubahan minat tersebut tidak terlepas dari bergesernya perilaku masyarakat yang mulai mempertimbangkan efisiensi, kemudahan perawatan, serta dampak lingkungan dalam memilih kendaraan.
Menurut Tekno, keputusan Polytron masuk ke segmen motor dan mobil listrik didasarkan pada pengalaman panjang perusahaan di industri elektronik. Selama ini, Polytron dikenal memproduksi berbagai perangkat elektronik rumah tangga.
“Sepanjang Polytron selama ini di dalam membuat produk-produk seperti elektronik, seperti TV, audio termasuk appliances itu sebetulnya sudah membuktikan bahwa kita tidak pernah main-main dengan kualitas,” kata Tekno, Kamis (29/1/2026).
Ia menjelaskan, secara teknologi, kendaraan listrik memiliki sistem yang lebih sederhana dibandingkan kendaraan berbahan bakar bensin. Hal tersebut dinilai memiliki keterkaitan dengan kompetensi yang selama ini dimiliki industri elektronik.
“Kalau dulu mobil bensin itu sangat rumit, ada blok mesin dan banyak komponen mekanis. Pada mobil listrik, konsepnya lebih sederhana, terdiri dari kontroler dan baterai, dan seluruh sistemnya berbasis listrik,” ujarnya.
Tekno menambahkan, kondisi jalan dan iklim di Indonesia, termasuk risiko banjir di sejumlah wilayah perkotaan, menjadi salah satu aspek yang diperhatikan dalam pengembangan kendaraan listrik. Menurutnya, konsumen perlu mendapatkan pemahaman yang tepat terkait karakteristik kendaraan listrik di kondisi tersebut.
“Yang cocok untuk Indonesia itu produk dengan karakter SUV, karena kondisi di Indonesia mungkin sering banjir,” kata dia.
Dari sisi ketahanan, ia menyebut sistem baterai kendaraan listrik Polytron telah memiliki standar perlindungan tertentu. Meski demikian, ia menekankan bahwa kendaraan listrik tetap memiliki batasan penggunaan.
“Kalau dari sisi baterai sudah IP67, artinya memiliki perlindungan terhadap air. Tetapi yang perlu dipahami, ini tetap mobil listrik, bukan kendaraan amfibi,” ujarnya.
Selain faktor ketahanan, kenyamanan penumpang juga disebut menjadi salah satu pertimbangan konsumen, khususnya untuk penggunaan keluarga maupun aktivitas jarak menengah.
Terkait pasar, Tekno mengakui adopsi mobil listrik secara nasional masih terkonsentrasi di wilayah Jabodetabek. Namun, ia melihat kota-kota di luar kawasan tersebut, termasuk Semarang, mulai menunjukkan potensi seiring meningkatnya kesadaran terhadap efisiensi energi dan isu keberlanjutan.
“Di luar Jakarta, manfaat mobil listrik juga mulai dirasakan, baik dari sisi biaya energi maupun perhatian generasi muda terhadap isu lingkungan,” katanya.
Editor : Enih Nurhaeni