Aksi Teatrikal Tolak Geothermal, Takbir Bergema di Depan Kantor Bupati Semarang
SEMARANG, iNewsJoglosemar.id - Suasana berbeda menyelimuti depan gerbang Kantor Bupati Semarang, Ungaran. Seorang pria berpakaian karung goni menutupi tubuhnya, kepala berteduh caping, berdiri menghadap gedung pemerintahan. Namanya Lilik Yuliantoro.
Sembari duduk bersimpuh, dengan lantang, ia mengumandangkan takbir. Suaranya menggema, bukan untuk memulai perayaan, melainkan untuk menyuarakan penolakan. Penolakan terhadap proyek Geothermal Gunung Ungaran yang dinilainya mengancam lingkungan hidup.
Aksi teatrikal ini bukan tanpa makna. Karung goni dan caping yang dikenakan Lilik adalah simbol kehidupan petani. Karung goni adalah wadah hasil bumi, simbol dari tanah yang diolah dan panen yang dinanti. Simbol dari mereka yang hidup bergantung pada tanah, air, dan alam. Simbol dari mereka yang paling terdampak jika lingkungan rusak.
“Allahu akbar. Tolak geothermal!,” serunya.
Satu kalimat itu menjadi inti dari seluruh aksi. Lilik dan kawan-kawan tidak menolak pembangunan. Mereka tidak anti-terhadap energi. Yang mereka tolak adalah kehancuran lingkungan yang mengancam hak hidup masyarakat.
Gunungan Wayang dari Sesepuh
Sebelum melanjutkan perjalanan panjangnya, Lilik menerima sebuah benda pusaka berupa gunungan wayang. Benda itu diserahkan langsung oleh Mbah Renggo, sesepuh dari Candi Gedong Songo.
Gunungan wayang dalam tradisi Jawa bukan sekadar properti pertunjukan. Ia adalah simbol kehidupan, simbol dari pohon hayat yang menopang segala makhluk. Dalam pewayangan, gunungan menjadi pembuka dan penutup lakon, menandai awal dan akhir sebuah perjalanan.
Penerimaan gunungan dari Mbah Renggo menjadi semacam restu spiritual. Sebuah pengukuhan bahwa perjalanan yang ditempuh Lilik bukan sekadar aksi politik, melainkan juga perjuangan budaya dan spiritual untuk menjaga kehidupan.
Dengan gunungan wayang di tangan, Lilik melangkah. Ia membawa serta doa dan harapan warga kaki Gunung Ungaran.
Bagian dari Gerakan Jateng Guyub
Aksi teatrikal Lilik bukanlah aksi tunggal. Ia merupakan bagian dari gerakan Jateng Guyub yang tengah melakukan long march selama tiga hari dari Candi Gedong Songo, Bandungan.
Perjalanan panjang itu ditempuh sebagai bentuk penolakan terhadap proyek Geothermal Gunung Ungaran. Candi Gedong Songo dipilih sebagai titik awal karena lokasinya yang berada di kawasan yang dinilai terancam oleh proyek tersebut.
Setelah menggelar aksi teatrikal di Kantor Bupati Semarang, Lilik tidak berhenti. Ia melanjutkan perjalanan kaki sendirian menuju Kantor Gubernur Jawa Tengah di Semarang.
Langkahnya menyusuri jalan, seorang diri, dengan pakaian karung goni dan caping yang masih melekat di tubuhnya, ditemani gunungan wayang pemberian Mbah Renggo. Tujuannya jelas, yakni puncak aksi pada 24 September 2026 bersama elemen masyarakat lain.
Pengawalan Polisi
Perjalanan Lilik tidak sepenuhnya sendiri. Sepanjang jalan, ia mendapatkan pengawalan dari pihak kepolisian. Aparat memastikan perjalanan berjalan aman dan tertib.
Namun yang lebih mengharukan, di belakangnya, kelompok warga terus mengikuti. Warga, kawan-kawan aliansi, dan simpatisan mengiringi langkah Lilik dari belakang. Mereka bukan sekadar penonton, melainkan bagian dari perjuangan yang sama.
Editor: Enih Nurhaeni