Ia menegaskan bahwa petani yang mengalami gagal panen akibat banjir memerlukan perlakuan khusus agar tetap bisa melanjutkan usahanya.
“Mungkin jumlah lahan yang terdampak tidak terlalu luas dibandingkan total keseluruhan. Namun, perhatian dari pemerintah tetap diperlukan agar petani tidak semakin terpuruk,” tegasnya.
Banjir yang melanda Grobogan pada 7-8 Maret 2025 disebabkan oleh jebolnya tanggul di Sungai Tuntang dan Sungai Klitih pada Minggu (9/3). Akibatnya, 21 desa di enam kecamatan terendam air, termasuk area persawahan.
Sarif meminta Pemerintah Provinsi Jateng dan Pemkab Grobogan segera berkoordinasi untuk menghitung total kerugian yang dialami petani dan menentukan langkah pemulihan.
“Bencana ini terus berulang, sehingga perlu ada solusi jangka panjang agar tidak terjadi lagi di masa depan,” tandasnya.
Editor : Enih Nurhaeni
Artikel Terkait