Selain kondisi jalan, pengendara juga perlu memperhatikan tekanan angin pada ban motor.
Sebagian pengendara beranggapan bahwa ban dengan tekanan angin yang sangat keras akan membuat motor melaju lebih cepat.
Padahal, di musim pancaroba yang sering disertai hujan, ban yang terlalu keras justru dapat mempersempit bidang kontak ban dengan aspal.
Kondisi tersebut membuat ban lebih mudah tergelincir ketika melewati jalan yang basah.
Karena itu, pengendara disarankan untuk selalu memastikan tekanan angin ban sesuai dengan standar pabrikan agar daya cengkeram terhadap aspal tetap optimal.
Risiko lain yang perlu diwaspadai adalah fenomena aquaplaning.
Aquaplaning terjadi ketika ban motor tidak lagi menyentuh permukaan aspal karena mengambang di atas lapisan air.
Kondisi ini sering terjadi pada genangan air di jalur cepat atau jalan yang tidak rata.
Apabila ban motor sudah gundul, air tidak memiliki jalur untuk keluar melalui alur ban sehingga motor dapat kehilangan kendali secara tiba-tiba.
Selain itu, perubahan suhu ekstrem juga dapat mempengaruhi kondisi material ban.
Panas terik pada siang hari dapat membuat karet ban memuai, kemudian tiba-tiba terkena hujan dingin pada sore hari.
Perubahan suhu secara drastis ini dapat mempercepat munculnya retak halus pada dinding ban.
Pengendara disarankan untuk memeriksa apakah ban sudah menunjukkan tanda-tanda penuaan seperti retakan kecil atau permukaan yang mulai menipis.
Oke menegaskan bahwa kondisi ban yang baik menjadi faktor penting untuk memastikan keselamatan perjalanan.
“Ingat, ban yang prima adalah jaminan bahwa Kita akan sampai di rumah untuk bertemu keluarga. Di musim pancaroba ini, kurangi ego untuk memacu gas dalam-dalam saat cuaca tidak menentu. Lebih baik sampai telat sedikit karena menjaga ritme, daripada tidak sampai sama sekali karena ban yang kehilangan traksi," katanya.
Editor : Enih Nurhaeni
Artikel Terkait
