Senyum Ibu Muda Sefti, 5 Tahun Tak Pulang Kampung Kini Bisa Mudik Gratis

Sementara itu, Ketua Paguyuban Rantau Jawa Tengah (PRJT) Bandung Raya, Farhan Juniaji menegaskan bahwa program ini sangat membantu masyarakat bawah. Ia mengatakan, peserta mudik gratis sebagian besar adalah pekerja informal.
"Ada 17 persen ojek online, 17,6 persen karyawan swasta, 11 persen pedagang kaki lima, 11 persen asisten rumah tangga, dan sisanya adalah guru ngaji, ibu rumah tangga, dan profesi lainnya," jelas Farhan.
Farhan bahkan mencontohkan ada satu keluarga pemulung dari Cikarang yang akhirnya bisa mudik setelah lima tahun tidak pulang. "Dijemput dan dibantu relawan, alhamdulillah bisa mudik juga tahun ini," ungkapnya.
Ia berharap ke depan jumlah bus bisa diperbanyak, sebab masih banyak perantau yang belum terakomodasi, khususnya tujuan Rembang, Pati, Blora, dan Kudus.
Dalam kesempatan yang sama, Wakil Gubernur Jateng Taj Yasin yang turut melepas para pemudik, mengajak mereka memanfaatkan rezeki mudik ini dengan bijak. "Nanti uangnya bisa buat modal usaha di kampung, agar ekonomi keluarga bisa lebih baik," pesannya.
Ia bahkan menawarkan kepada para pemudik yang berprofesi sebagai pemulung, bila ingin kembali menetap di Jateng, pemerintah siap memfasilitasi. "Dicek datanya, kalau mau pulang ke Jateng, kita bantu agar bisa hidup lebih baik," ujar Taj Yasin.
Program mudik gratis ini menjadi oase bagi para perantau yang lama merindukan suasana kampung halaman. Mereka pulang tak hanya membawa koper dan oleh-oleh, tapi juga harapan akan kehidupan yang lebih baik.
Editor : Enih Nurhaeni