Misi Emak-Emak Menghidupkan Tanah Pesisir Tambak Lorok Semarang
SEMARANG, iNewsJoglosemar.id – Pesisir Tambak Lorok Kota Semarang dikenal sebagai daerah yang kering dan panas. Meski demikian, warga yang dipelopori emak-emak memiliki semangat besar untuk mengubah kampung di tepi Laut Jawa itu agar tak selamanya tandus.
Kelompok Wanita Tani (KWT) Cantik Bahari RW 15 dan KWT Agro Tanjung RW 10 Tanjung Mas mengikuti peningkatan kapasitas di KPPT Salatiga selama dua hari. Kegiatan ini merupakan bagian dari program pemberdayaan mitra binaan PT PLN Indonesia Power UBP Semarang dalam memperkuat ketahanan pangan dan kemandirian ekonomi masyarakat pesisir.
Ketua KWT Cantik Bahari RW 15, Sri Wahyuni, menggambarkan kondisi wilayahnya dengan jujur. “Kami dari Tambak Lorok RW 15 ini adalah daerah pesisir pantai yang mana daerah kita gersang, tandus. Kita bersyukur dengan kedatangan PLN Indonesia Power yang mendampingi kami dalam kegiatan penghijauan di wilayah, alhamdulillah,” ujarnya.
Menurutnya, banyak pengetahuan baru yang didapat selama pelatihan. “Yang pertama yaitu ilmu yang selama ini kita tidak tahu, kita bisa menjadi tahu. Jadi banyak pertanyaan yang kita sampaikan karena memang kita tidak tahu dan baru ini kita tahu.”
Ia juga mengakui adanya kesalahan praktik yang selama ini dilakukan. “Kita tuh selama ini tahunya nyiram, ya asal nyiram aja katanya tuh. Nyiram tuh juga pakai trik-trik. Kita enggak perlu kebanyakan air karena itu akan mengakibatkan tanah itu menjadi tandus.”
Semangat untuk segera mempraktikkan ilmu itu pun tak terbendung. “Ini yang kita aplikasikan itu kita merasa enggak sabar. Ingin segera sampai rumah, ingin langsung kita praktikkan ilmu yang kita dapatkan,” tambahnya.
Sementara itu, Setiyowati dari KWT Agro Tanjung RW 10 menyampaikan rasa syukurnya atas pendampingan yang diberikan. “Di sini kami banyak sekali ilmu yang kami dapatkan selama 2 hari. Kami mengetahui penataan berbagai macam tanaman yang bisa kita terapkan di wilayah. Dan juga kami banyak mendapat ilmu juga tentang penggunaan sampah organik,” katanya.
Ia menambahkan bahwa pengelolaan sampah organik di wilayahnya sebenarnya sudah berjalan, namun belum optimal. “Dari pembelajaran 2 hari ini kami jadi tahu untuk sampah organik kami nanti sesampainya di wilayah akan kami terapkan ke semua warga untuk dijadikan pupuk dan juga bisa menjadi nilai jual.”
Editor : Enih Nurhaeni