Saparan di Lereng Merbabu: Tamu Datang Wajib Makan, Satu Rumah Bisa Siapkan 400 Porsi
SEMARANG, iNewsJoglosemar.id – Tradisi Saparan di lereng Gunung Merbabu bukan sekadar ritual tahunan. Di Dusun Wates, Desa Wates, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, tradisi ini berubah menjadi ajang silaturahmi besar-besaran. Rumah warga terbuka untuk tamu, dan setiap orang yang datang wajib menikmati hidangan yang telah disiapkan tuan rumah.
Bukan hanya jajanan atau kudapan, tamu yang datang juga dipersilakan makan besar. Bahkan, warga rela menyiapkan makanan dalam jumlah banyak untuk menjamu saudara, teman, sahabat, hingga tamu yang datang dari luar dusun.
Tradisi tersebut menjadi bagian dari Merti Dusun Wates yang digelar setiap bulan Sapar dalam kalender Jawa. Warga memaknainya sebagai ungkapan syukur atas rezeki dan keselamatan sekaligus momentum untuk mempererat silaturahmi.
Istichomah, salah seorang warga Dusun Wates, mengatakan hidangan menjadi bagian penting dalam tradisi Saparan. Setiap rumah biasanya menyiapkan makanan untuk ratusan tamu. Menunya beragam mulai dari epal daging, sambal goreng hati, telur baloado, sup daging, hingga bakso, menu berkuah utuk mengusir hawa dingin pegunungan.
“Kalau tempat saya sekitar 200-an tamu. 200 orang. Sama teman, sama sahabat,” kata Istichomah, Senin (27/7/2026).
Menurutnya, menjamu tamu dalam jumlah banyak bukan beban, melainkan bagian dari rasa syukur. Semakin banyak orang yang datang, justru semakin membuat tuan rumah merasa bahagia.
“Kalau Saparan itu kegiatannya yang penting, filosofi awalnya adalah setelah bersih desa kita berpesta desa. Tadi sudah bersih makam, bersih sungai, itu bersih desa. Nah, pesta itu kan mengundang, bersyukurlah. Bersyukur itu mengundang saudara, mengundang teman, mengundang sahabat untuk berkumpul bersama,” ujar perempuan yang juga Kepala Dinas Sosial Kabupaten Semarang itu.
Karena itu, makanan yang disiapkan bukan sekadar suguhan kecil. Tamu yang datang juga harus menikmati makanan berat.
“Harus makan besar,” tegasnya.
Di tengah banyaknya menu yang disiapkan warga, terdapat makanan yang dianggap wajib hadir dalam tradisi Saparan, yakni jadah dan wajik atau jenang.
Jadah merupakan makanan berbahan dasar ketan berwarna putih, sedangkan wajik atau jenang memiliki warna lebih gelap. Bagi warga, kedua makanan tersebut bukan hanya hidangan, tetapi memiliki makna tersendiri.
Istichomah menjelaskan jadah memiliki filosofi sebagai perekat. Sementara perpaduan warna putih dan cokelat atau gelap menggambarkan sesuatu yang berbeda tetapi tetap dapat menyatu.
“Karena itu satu untuk perekat. Kemudian yang kedua menunjukkan antara putih dan hitam itu menyatu. Itu jadi satu. Jadi mesti ada jadahnya juga harus ada wajiknya atau ada jenangnya,” jelasnya.
Jadah dan wajik tersebut biasanya hadir dalam acara kenduri maupun kegiatan tradisi warga lainnya.
Dengan demikian, meja makan dalam tradisi Saparan bukan hanya menjadi tempat menyuguhkan makanan. Di balik hidangan yang disajikan, tersimpan pesan tentang kebersamaan, persatuan dan rasa syukur masyarakat.
Gunawan Tri Rahmadi, warga Dusun Wates, menjelaskan Saparan pada dasarnya berkaitan dengan hari jadi atau merti dusun yang waktunya jatuh pada bulan Sapar.
“Kalau Saparan ini ibaratnya hari jadi, hari jadi desanya sendiri itu kan pas mereka rata-rata jatuh di bulan Sapar. Makanya disebut Saparan,” kata Gunawan yang juga aggota DPRD Kabupaten Semarang.
Menurutnya, tidak semua wilayah memiliki waktu pelaksanaan yang sama. Ada pula tradisi yang jatuh pada bulan Rajab dan disebut Rejeban. Namun, di wilayahnya, tradisi merti dusun banyak berlangsung pada bulan Sapar.
Masing-masing dusun bahkan memiliki hari pelaksanaan sendiri berdasarkan penanggalan Jawa.
“Dusun Wates ini harinya Senin Kliwon. Jadi setiap bulan Sapar, Senin Kliwon ini yang kita ambil sebagai hari merti dusunnya,” ujarnya.
Tradisi tersebut terus dijaga dari tahun ke tahun. Selain sebagai ungkapan syukur atas nikmat dan rezeki, Saparan menjadi momentum warga untuk berkumpul dan memperkuat silaturahmi.
Konsepnya hampir seperti open house. Rumah-rumah warga terbuka bagi tamu yang datang dan satu hal yang menjadi kebiasaan: tamu tidak cukup hanya datang dan bersalaman, tetapi juga harus makan.
“Open house. Banyak tamu. Dan wajib makan,” kata Gunawan.
Menu yang disajikan setiap rumah tidak selalu sama. Masing-masing keluarga menyiapkan hidangan sesuai kemampuan dan kebiasaan masing-masing. Namun, prinsipnya sama, yakni menyediakan jamuan yang pantas bagi para tamu.
“Setiap rumah beda-beda. Tapi rata-rata kalau kita ngomong sekarang ini adalah MBG (makan bergizi gratis) swadaya. Ini jelas makanan bergizi gratis bener-bener,” ujarnya.
Jumlah tamu yang datang pun bisa mencapai ratusan bahkan ribuan orang jika dihitung secara keseluruhan.
Gunawan sendiri memperkirakan jumlah tamu yang datang ke rumahnya mencapai lebih dari 400 orang. Jumlah tersebut belum termasuk tamu yang berkunjung ke rumah-rumah warga lainnya.
“Ya 400-an lebih lah. Di tempat saya tamu-tamu biasa berkunjung sampai dini hari nanti,” katanya.
Besarnya jumlah tamu membuat Saparan di Dusun Wates terasa seperti pesta desa. Warga secara sukarela menyiapkan makanan, menerima tamu dan memastikan setiap orang yang datang tidak pulang dalam keadaan lapar.
Di sinilah kekuatan tradisi tersebut terlihat. Makanan menjadi medium untuk mempertemukan orang, sementara rumah warga menjadi ruang terbuka untuk menjalin kembali hubungan kekerabatan.
Di tengah perubahan zaman, masyarakat Dusun Wates masih berusaha mempertahankan tradisi tersebut. Gunawan mengatakan masyarakat masih memiliki kepedulian untuk menjaga dan menjalankan warisan budaya yang telah berlangsung dari generasi ke generasi.
“Pelestarian dengan penekanan terhadap tradisi ini masih masyarakat itu masih ngemong,” ujarnya.
Saparan akhirnya tidak hanya berbicara mengenai bulan Sapar atau ritual merti dusun. Di Dusun Wates, tradisi tersebut hidup melalui aktivitas sederhana: membersihkan lingkungan, berkumpul, membuka rumah bagi tamu, menyediakan makanan dan makan bersama.
Ada jadah dan wajik yang menyimpan filosofi persatuan. Ada makanan besar yang menjadi bentuk syukur. Ada pula ratusan tamu yang datang silih berganti.
Semua bertemu dalam satu pesan: menjaga kebersamaan agar tradisi tidak berhenti sebagai cerita masa lalu, tetapi tetap hidup di tengah masyarakat lereng Gunung Merbabu.
Editor : Enih Nurhaeni