Banjir Rob Demak dan Disinformasi Iklim: Riset yang Dipaparkan di Madrid
DEMAK, iNewsJoglosemar.id - Banjir rob yang terus melanda pesisir Demak, Jawa Tengah, bukan hanya persoalan air laut yang naik. Warga juga menghadapi abrasi, kerusakan lingkungan, dan perubahan kondisi kawasan yang berdampak pada kehidupan sehari-hari.
Di tengah kondisi itu, informasi tentang perubahan iklim tidak selalu tunggal. Berbagai narasi beredar tentang penyebab banjir, perubahan lingkungan, dan solusi yang dianggap tepat. Sebagian informasi membantu, sebagian lain berpotensi menyesatkan.
Persoalan itulah yang menjadi fokus riset berjudul “Beyond the Tide: Climate Disinformation, Religious Authority, and Coastal Vulnerability in Demak.” Riset ini mengkaji hubungan antara disinformasi perubahan iklim, otoritas keagamaan, dan kerentanan masyarakat pesisir.
Penelitian ini berangkat dari pertanyaan bagaimana masyarakat yang hidup di tengah ancaman nyata perubahan iklim memahami dan merespons krisis tersebut. Tidak hanya dari sisi lingkungan, tetapi juga dari informasi yang mereka terima dan percayai.
Menurut tim peneliti, kerentanan terhadap perubahan iklim tidak hanya ditentukan oleh faktor geografis dan kondisi lingkungan. Kualitas informasi dan sumber otoritas yang dipercaya masyarakat juga memengaruhi cara mereka memahami risiko dan mengambil keputusan.
“Krisis iklim bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga persoalan informasi. Ketika masyarakat menghadapi banjir rob dan berbagai dampak perubahan iklim secara langsung, mereka juga berhadapan dengan berbagai narasi yang dapat memengaruhi pemahaman mereka tentang penyebab, dampak, maupun solusi atas persoalan tersebut,” ujar Wijayanto, Ph.D.
Riset Lapangan di Demak
Riset ini merupakan proyek yang sedang berlangsung atau ongoing research project. Tim peneliti terdiri dari Wijayanto, Ph.D., akademisi Departemen Politik dan Pemerintahan sekaligus Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, Kerja Sama, dan Komunikasi Publik Universitas Diponegoro (Undip), bersama peneliti dari Universitas Amsterdam, yakni Jaron Harambam dan Lara De Poter.
Pada pertengahan Agustus 2026, tim melakukan kunjungan ke lokasi penelitian di Kabupaten Demak. Kunjungan lapangan itu menjadi bagian penting dalam proses pengumpulan dan pendalaman data. Tim mengobservasi kondisi kawasan pesisir dan mendalami pengalaman masyarakat menghadapi dampak perubahan iklim serta berbagai narasi yang berkembang mengenai krisis tersebut.
Otoritas Keagamaan Jadi Sorotan
Penelitian ini juga menyoroti peran otoritas keagamaan dalam membentuk pemahaman masyarakat tentang perubahan lingkungan dan krisis iklim. Dalam masyarakat yang memiliki ikatan sosial dan keagamaan kuat, tokoh dan institusi keagamaan dapat menjadi sumber penting dalam membangun pemahaman, kepercayaan, dan respons kolektif.
Karena itu, penelitian ini tidak hanya melihat otoritas keagamaan sebagai bagian dari persoalan. Otoritas keagamaan juga dilihat sebagai aktor potensial dalam membangun komunikasi publik dan merespons perubahan iklim. Pemahaman tentang hubungan antara agama, informasi, dan kerentanan lingkungan dinilai penting untuk mengembangkan strategi adaptasi serta komunikasi perubahan iklim yang lebih kontekstual.
“Kita perlu melihat perubahan iklim secara lebih komprehensif. Upaya adaptasi tidak cukup hanya dengan membangun infrastruktur fisik. Kita juga perlu memahami bagaimana masyarakat memaknai krisis ini, siapa yang mereka percayai, dan informasi seperti apa yang membentuk keputusan mereka,” tambah Wijayanto, Ph.D.
Dipaparkan di Madrid
Hasil riset ini kemudian dipaparkan dalam konferensi internasional European Association for Southeast Asian Studies (EUROSEAS) 2026 di Universidad Complutense de Madrid (UCM), Spanyol, pada 1–3 September 2026.
Dalam forum tersebut, Wijayanto mempresentasikan paper “Beyond the Tide: Climate Disinformation, Religious Authority, and Coastal Vulnerability in Demak.” Presentasi ini menjadi kesempatan untuk membawa persoalan lokal Indonesia ke dalam percakapan akademik global.
Menurut Wijayanto, forum akademik internasional seperti EUROSEAS penting untuk mempertemukan pengalaman lokal dengan perkembangan kajian global serta membangun kolaborasi penelitian lintas negara. Kolaborasi antara Undip dan para peneliti dari Universitas Amsterdam juga menunjukkan pentingnya jejaring riset internasional dalam menghasilkan pengetahuan yang berangkat dari persoalan konkret di masyarakat.
“Persoalan yang kita hadapi di pesisir utara Jawa mungkin bersifat lokal, tetapi tantangan perubahan iklim dan disinformasi adalah persoalan global. Karena itu, penting bagi kita untuk membawa pengalaman masyarakat Indonesia ke dalam diskusi internasional, sekaligus belajar dari pengalaman dan penelitian yang berkembang di berbagai negara,” jelas Wijayanto, Ph.D.
Riset yang Berpijak pada Persoalan Lokal
Partisipasi dalam konferensi internasional ini sejalan dengan komitmen Universitas Diponegoro untuk memperkuat peran riset dan inovasi dalam menjawab persoalan strategis yang dihadapi masyarakat. Kehadiran Undip dalam forum akademik global tidak hanya menjadi bagian dari penguatan reputasi internasional, tetapi juga upaya memastikan bahwa riset yang dikembangkan relevan dan bermanfaat secara nyata.
Hal tersebut sejalan dengan semangat “Undip Bermartabat, Undip Bermanfaat.” Melalui riset yang berangkat dari persoalan nyata masyarakat, Undip berupaya memberikan kontribusi akademik yang kuat dan bermartabat di tingkat internasional, sekaligus menghasilkan pengetahuan dan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat.
“Bagi Undip, internasionalisasi bukan semata-mata tentang hadir dalam forum global atau meningkatkan reputasi internasional. Yang lebih penting adalah bagaimana pengetahuan yang kita hasilkan dari pengalaman dan persoalan masyarakat Indonesia dapat memberikan kontribusi bagi dunia, sekaligus bagaimana jejaring global dapat membantu kita menghadirkan solusi yang lebih baik bagi masyarakat,” tegas Wijayanto, Ph.D.
Dengan mengangkat persoalan disinformasi perubahan iklim, otoritas keagamaan, dan kerentanan masyarakat pesisir di Demak, riset ini menunjukkan bahwa persoalan lokal dapat memiliki relevansi global. Penelitian ini diharapkan memperkuat pemahaman mengenai hubungan antara perubahan iklim, ekosistem informasi, otoritas sosial, dan masyarakat, sekaligus memberi kontribusi bagi pengembangan strategi komunikasi, literasi informasi, dan kebijakan adaptasi perubahan iklim yang lebih responsif terhadap kebutuhan masyarakat pesisir.
Editor: Enih Nurhaeni