Di Tengah Mabuk AI, Inilah yang Sebenarnya Dibutuhkan Pengguna Laptop
SEMARANG, iNewsJoglosemar.id — Tidak ada yang salah dengan AI. Yang salah adalah ketika seluruh pasar laptop seakan lupa bahwa ada hal-hal lain yang jauh lebih mendasar. Setiap peluncuran produk hari ini nyaris selalu dimulai dengan kata "AI". AI untuk produktivitas, AI untuk kreativitas, AI untuk segalanya. Tapi coba tanyakan ke pengguna di lapangan: apa yang sebenarnya mereka butuhkan?
Jawabannya jarang seseksis jargon pemasaran. Mereka butuh laptop yang tidak mudah rusak. Yang garansinya panjang. Yang servisnya gampang dijangkau. Yang baterainya tahan seharian. Yang tetap bisa diandalkan saat listrik mati atau internet putus.
Di tengah euforia AI itulah ASUS menggelar acara ASUS No.1 Quality & Service 2026 di Semarang. Bukan untuk berlomba menambah kata "AI" di spanduk, melainkan untuk mengingatkan pasar pada hal yang sering dilupakan: kepastian setelah pembelian.
Tidak ada yang meragukan kegunaan AI di laptop. Fitur seperti ringkasan dokumen, pembuatan draf, atau asisten offline memang membantu. ASUS sendiri membekali lini Zenbook, Vivobook S series, dan ProArt dengan Neural Processing Unit (NPU) hingga 50+ TOPS, bahkan 80 TOPS pada varian tertinggi — jauh melampaui standar minimum Copilot+ PC dari Microsoft.
Ada tombol Copilot khusus. Ada ASUS Virtual Assistant Omni yang bisa beroperasi sepenuhnya offline, menjaga privasi data sekaligus memastikan performa tetap responsif tanpa internet. Ada juga ASUS Zenni Claw, platform AI Agent yang mampu menyusun draf presentasi, itinerary perjalanan, hingga ringkasan berita harian.
Tapi semua itu menjadi tidak berarti jika laptopnya mudah rusak, garansinya cuma setahun, dan service center-nya jauh.
"Kepercayaan konsumen Indonesia terhadap ASUS selama lebih dari satu dekade terakhir mendorong kami untuk terus memperkuat standar kualitas dan layanan purna jual," ujar Lenny Lin, Country Manager ASUS Indonesia.
Kalimat itu bukan sekadar retorika. Ada bukti konkret yang menyertainya.
Di booth durability test, ASUS memperlihatkan langsung bagaimana unit mereka melewati pengujian MIL-STD 810H — standar militer yang mencakup guncangan, suhu ekstrem, kelembapan, dan tekanan udara rendah. Untuk Indonesia yang tropis, lembap, dan sering berpindah tangan, uji semacam ini lebih relevan daripada sekadar benchmark sintetis.
ASUS juga tidak berhenti pada angka uji. ProArt dilengkapi ASUS DialPad untuk mempercepat alur kerja kreatif. Zenbook memakai material Ceraluminum™ yang membuatnya salah satu laptop tertipis dan teringan di kelasnya. Vivobook hadir dengan layar NanoEdge ber-bezel tipis dan pilihan warna yang lebih personal.
Semua ini adalah jawaban atas pertanyaan yang jarang diajukan di panggung peluncuran: apakah laptop ini benar-benar bisa menemani hidup penggunanya?
Yang paling menarik dari acara ini justru bukan AI-nya, melainkan keputusan ASUS menaikkan garansi.
ASUS ProArt, ASUS Zenbook, ASUS Vivobook S series, dan ASUS Vivobook Flip kini mendapat hingga 3 Tahun Garansi Internasional & 3 Tahun ASUS VIP Perfect Warranty (ADP) — naik dari sebelumnya hanya 1 Tahun ADP. Vivobook classic menyusul dengan 2 Tahun Garansi Internasional & 2 Tahun ASUS VIP Perfect Warranty (ADP).
ADP, atau Accidental Damage Protection, melindungi dari kerusakan tak sengaja seperti tumpahan cairan atau benturan. Untuk laptop yang dipakai bekerja, berkarya, dan berpindah tempat setiap hari, ini bukan bonus kecil. Ini pernyataan bahwa produsen siap menanggung risiko bersama penggunanya.
Ekosistem aksesori ASUS juga mendapat garansi penggantian 100% selama 1 tahun untuk kendala fungsional, kecuali lini backpack.
Garansi panjang hanya berarti kalau servisnya mudah dijangkau. ASUS tampaknya sadar betul soal itu.
Kini ada 141 titik layanan resmi ASUS di Indonesia, dengan cakupan internasional di lebih dari 90 negara. Pengguna Zenbook, ProArt, dan ROG tetap mendapat ASUS Premium Service: Fastlane untuk mempercepat kunjungan servis, Free Round-Trip Shipping untuk menjemput dan mengantar laptop dari rumah ke service center, serta Laptop Spa untuk perawatan berkala — dari membersihkan debu hingga mengganti pasta jika diperlukan.
Ini infrastruktur yang tidak bisa dibangun dalam semalam. Dan justru di sinilah posisi ASUS berbeda.
ASUS juga menggarap sisi personal lewat pendekatan Pick Your Vibe. Vivobook hadir dalam pilihan warna lebih beragam. ASUS Vivobook 14 dan Vivobook Go 14 masing-masing tersedia dalam 3 varian warna yang mencerminkan karakter penggunanya.
Aksesori ikut bermain warna. ASUS Marshmallow Keyboard (KW100) dan ASUS Marshmallow Mouse (MD100) hadir dengan koneksi nirkabel, desain ringkas, dan tombol silent, dalam tiga pilihan warna pastel: Lilac Mist Purple, Quiet Blue, dan Sage Green. Bagi yang butuh kenyamanan lebih, ada ASUS SmartO Mouse (MD200) dengan desain ergonomis, sandaran ibu jari, dan sensor presisi tinggi.
Unit yang memenuhi syarat dapat dibeli melalui jaringan penjualan resmi ASUS: ASUS Exclusive Store di berbagai kota, gerai mitra resmi, ASUS Online Store, hingga official store ASUS di marketplace resmi. Pembelian di channel inilah yang memastikan unit terdaftar secara resmi sehingga keuntungan dan layanan dapat diakses melalui aplikasi MyASUS.
Dukungan ini juga berlaku lintas negara melalui jaringan service center global, termasuk untuk kerusakan tak disengaja — meskipun lini produk ASUS telah lolos pengujian militer MIL-STD 810H.
Di tengah pasar yang sibuk menjual kecerdasan, ASUS memilih menjual ketenangan. Bukan karena mereka tidak punya AI — mereka punya, dan jumlahnya tidak sedikit. Tapi karena mereka tahu, pada akhirnya, konsumen tidak hanya membeli spesifikasi. Mereka membeli rasa aman.
Dan rasa aman, berbeda dengan AI, tidak bisa diklaim. Ia harus dibuktikan.
Editor: Enih Nurhaeni