Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Undip Kawal Mimpi UMKM Desa Kenteng Jadi Penopang Wisata Bandungan
Advertisement . Scroll to see content

Punya Garis Pantai 750 Kilometer, Kenapa Rumput Laut Kita Masih Dikeringkan di Pinggir Jalan?

Sabtu, 19 September 2026 | 06:21 WIB
  • author Taufik Budi
Punya Garis Pantai 750 Kilometer, Kenapa Rumput Laut Kita Masih Dikeringkan di Pinggir Jalan?
Punya Garis Pantai 750 Kilometer, Kenapa Rumput Laut Kita Masih Dikeringkan di Pinggir Jalan? Foto: Ist

 

BREBES, iNewsJoglosemar.id — Ada pemandangan yang sudah puluhan tahun akrab di pesisir Pantura: rumput laut digelar begitu saja di pinggir jalan, di area tambak, atau di halaman rumah. Dibiarkan menunggu matahari. Kalau cuaca bersahabat, 18 jam kemudian barulah kering. Kalau hujan turun, hasil panen bisa rusak.

Cara itu memang murah. Tapi tidak selalu menguntungkan.

Debu jalanan, air, kotoran hewan, dan berbagai sumber cemaran lain ikut menempel pada rumput laut yang sedang dijemur. Kualitasnya turun. Harga jualnya pun tidak bisa tinggi. Padahal Indonesia memiliki garis pantai lebih dari 750 kilometer hanya di Jawa Tengah. Ironisnya, produk olahan rumput laut bernilai tambah tinggi masih banyak yang diimpor.

Dari kesenjangan itulah sebuah inovasi lahir.

Pada Rabu, 16 September 2026, Universitas Diponegoro (UNDIP) bersama Direktorat Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) Kementerian Kelautan dan Perikanan RI serta Pemerintah Kabupaten dan Kecamatan Brebes meresmikan Unit Pengering Rumput Laut Surya-Biomassa dengan Dehumidifikasi Udara di Desa Randusanga Kulon, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah.

Teknologi yang Menjawab Masalah

Unit ini bukan alat biasa. Ia dirancang untuk menjawab persoalan yang selama ini dianggap wajar oleh petani rumput laut: ketergantungan pada cuaca.

Dikembangkan oleh tim peneliti UNDIP yang dipimpin Prof. Dr. Moh Djaeni, S.T., M.Eng., dosen Fakultas Teknik UNDIP, unit ini memiliki kapasitas 2.000 kilogram. Ia memanfaatkan energi surya sebagai sumber panas utama dan biomassa sebagai sumber panas pendukung. Seluruh proses berlangsung di ruang tertutup, sehingga rumput laut terhindar dari kontaminasi debu, air, dan kotoran hewan.

Cara kerjanya cukup elegan. Unit ini menggunakan adsorber zeolit untuk menurunkan kelembapan udara sebelum dipanaskan dan dialirkan ke ruang pengering. Sirkulasi udara di dalam ruang didukung blower dan fan exhaust agar aliran panas merata. Ada RH meter untuk mengukur kelembapan dan anemometer untuk mengukur laju aliran udara.

Hasilnya? Proses pengeringan yang biasanya memakan waktu 18 jam lewat penjemuran manual, kini bisa diselesaikan dalam 8 jam. Lebih dari dua kali lipat lebih cepat. Dan yang tidak kalah penting: hasilnya lebih higienis.

"Kami berharap apa yang dikembangkan Prof. Djaeni serta tim dari UNDIP dan Unwahas, bisa menjadi produk yang biasa diimpor agar bisa kita buat sendiri dan memiliki nilai tambah yang tinggi," ujar Rektor UNDIP, Prof. Dr. Suharnomo, S.E., M.Si.

Inovasi ini bukan kerja sendirian. UNDIP menggandeng Universitas Wahid Hasyim Semarang (Unwahas) dan mitra industri PT Mutiara Global Industry dalam "Program Hilirisasi Riset Prioritas dan Strategis–SINERGI". Ada juga dukungan dari Pos Pelayanan Teknologi Tepat Guna (Posyantek) Cahaya Mulia.

Rektor Unwahas, Prof. Dr. H. Helmy Purwanto, S.T., M.T., IPM., menyatakan dukungannya. "Sekecil apapun hasil inovasi, kita berikan agar bermanfaat untuk masyarakat," tuturnya.

Peresmian unit ini dilakukan langsung oleh Rektor UNDIP bersama Direktur Jenderal PDSPKP yang diwakili oleh Direktur Pengolahan PDSPKP, Budi Yuwono, S.STPi., M.P., dan Bupati Brebes yang diwakili oleh Asisten Sekda Bidang Perekonomian dan Pembangunan Brebes, Ineke Tri Sulistyowaty, S.K.M., M.Kes.

Brebes dan Rumput Laut yang Belum Digarap Serius

Bagi Kabupaten Brebes, rumput laut adalah komoditas utama. Tapi pengelolaannya masih jauh dari optimal.

Ineke Tri Sulistyowaty menjelaskan bahwa masyarakat masih memiliki keterbatasan penggunaan teknologi. Metode penjemuran di pinggir jalan dan kawasan tambak desa menjadi satu-satunya cara yang terjangkau. Akibatnya, kualitas menurun dan nilai tambah tidak maksimal.

"Dengan unit pengering rumput laut ini diharapkan meningkatkan kualitas produk olahan rumput laut. Ke depannya, kami juga meminta agar program ini berlanjut dengan pendampingan dan pelatihan oleh kampus kepada petani dan pelaku UMKM rumput laut," ujar Ineke.

Asisten Ekonomi dan Pembangunan Jawa Tengah, Urip Sihabudin, S.H., M.H., yang mewakili Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen, juga berharap inovasi ini dapat direplikasi di daerah lain di Jawa Tengah.

Rangkaian acara ini juga diisi dengan Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (GEMARIKAN) bersama Direktorat Jenderal PDSPKP Kementerian Kelautan dan Perikanan RI dan DPD Ikatan Sarjana Perikanan Indonesia (ISPIKANI) Jawa Tengah.

Program ini menjadi bagian dari edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya konsumsi ikan untuk meningkatkan pemenuhan gizi keluarga sekaligus mendukung pencegahan stunting. Rektor UNDIP dan Dekan Fakultas Teknik UNDIP, Prof. Dr. Ir. Jamari, S.T., M.T., IPU., ASEAN Eng., turut serta dalam penyerahan secara simbolis paket produk ikan bergizi kepada masyarakat sasaran program.

Turut hadir dalam acara ini Wakil Gubernur Jawa Tengah diwakili oleh Asisten Ekonomi dan Pembangunan Jawa Tengah, Urip Sihabudin; Sekretaris Daerah Jawa Tengah, Sumarno, S.E., M.M.; perangkat daerah Pemerintah Kabupaten Brebes; tim dosen UNDIP dan Unwahas; serta Kepala Kantor Perwakilan Cabang BI.

Ada satu hal yang membuat inovasi ini berbeda dari banyak hasil riset lain: ia tidak berhenti di laboratorium.

Unit pengering ini sudah berdiri di Desa Randusanga Kulon. Sudah bisa digunakan. Sudah menghasilkan rumput laut kering berkualitas lebih baik. Pengembangan budidaya rumput lautnya pun dikelola bersama masyarakat pelaku UMKM binaan Kepala Desa Randusanga Kulon, H. Afan Setiono, S.E., M.Si.

Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah pusat, pemerintah daerah, mitra industri, dan masyarakat inilah yang membuat inovasi tidak hanya menjadi dokumen akademik. Ia menjadi solusi yang benar-benar menyentuh kehidupan.

 

 

Editor: Enih Nurhaeni

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut