Balada Emak-Emak Driver Ojol Bertemu Kecelakaan, Mau Menolong tapi Takut Salah

Taufik Budi
Balada Emak-Emak Driver Ojol Bertemu Kecelakaan, Mau Menolong tapi Takut Salah. Foto: ist

 

SEMARANG, iNewsJoglosemar.id – Di jalan raya, driver ojek online kerap berada di posisi yang sulit. Mereka sering menjadi orang pertama yang melihat korban kecelakaan lalu lintas tergeletak di aspal. Di satu sisi ada dorongan untuk menolong, di sisi lain muncul rasa takut: takut salah langkah, takut memperparah kondisi korban, atau takut menghadapi luka dan darah. Tak jarang, pilihan yang tersisa hanyalah menonton sambil menunggu bantuan datang.

Dilema inilah yang selama ini dialami banyak driver ojol di Kota Semarang. Tingginya mobilitas membuat mereka hampir setiap hari bersinggungan dengan risiko kecelakaan lalu lintas maupun kondisi darurat kesehatan di jalan.

Salah satunya dirasakan Niken (35), Mitra Driver Gojek asal Semarang. Selama lebih dari delapan tahun bekerja sebagai driver sejak 2017, ia mengaku sudah sering bertemu langsung dengan peristiwa kecelakaan.

“Menurut saya sangat-sangat bermanfaat sekali. Apalagi saya juga sudah pernah mengalaminya ya. Jadi menurut saya itu ilmu yang benar-benar bermanfaat banget,” ujar Niken usai mengikuti pelatihan Bantuan Hidup Dasar (BHD).

Sebelum mendapat pelatihan, Niken mengaku dirinya kerap hanya bisa berdiri bingung saat melihat korban kecelakaan. Ada keinginan untuk menolong, tetapi rasa takut lebih besar.

“Tidak seperti dulu yang hanya bisa melihat dan bingung, tidak bisa ngapa-ngapain, mau nolong tidak bisa,” katanya.

Ia menuturkan, ketakutan tersebut muncul karena tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang pertolongan pertama. Apalagi saat berhadapan dengan korban yang mengalami luka serius.

“Kalau saya awalnya memang dari dulu memang takut ya, apalagi kalau melihat darah,” ujarnya.

Dalam beberapa kejadian, Niken hanya mampu menghubungi layanan darurat. “Ya saya hanya bisanya cuma nelpon ambulan hebat saja, tidak bisa ngapa-ngapain, cuma bisa nelpon sama melihat saja,” tuturnya.

Padahal, sebagai pekerja jalanan, ia menyadari risiko bertemu kecelakaan sangat tinggi. “Apalagi kita kerja di jalan, ya kemungkinan besar menghadapi yang musibah lakar di jantung,” katanya.

Bagi Niken, pelatihan ini perlahan mengubah posisinya dari sekadar penonton menjadi orang yang lebih berani mengambil peran, meski rasa takut masih ada.

“Karena saya sendiri jujur juga takut juga. Cuma kita kalau nurutin takut, ya enggak bisa nolong orang lain kan. Kita berani-beraniin aja lah gimana caranya,” ujarnya.

Untuk menjawab kondisi tersebut, Gojek, layanan on-demand dari PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (BEI: GOTO), berkolaborasi dengan Dinas Kesehatan Kota Semarang menggelar pelatihan Bantuan Hidup Dasar bagi Mitra Driver Gojek di Semarang. Pelatihan ini bertujuan mengedukasi dan membekali driver dengan kemampuan dasar penanganan kondisi darurat di jalan raya.

Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Kota Semarang, Nur Dian Rakhmawati, menekankan bahwa dalam banyak kasus kecelakaan, masyarakat di sekitar lokasi menjadi pihak pertama yang berada di tempat kejadian.

“Dalam banyak kasus, masyarakat sekitar adalah pihak pertama yang berada di lokasi sebelum tenaga medis datang. Menit-menit awal sangat menentukan keselamatan korban. Karena itu, tindakan awal yang benar menjadi sangat penting,” ujarnya.

Ia menegaskan, pelatihan Bantuan Hidup Dasar dapat dipelajari oleh masyarakat umum, termasuk driver ojol. “Pelatihan ini bukan untuk menjadikan mitra driver sebagai tenaga medis, tetapi agar mereka memahami langkah dasar yang aman dan tidak memperburuk kondisi korban sambil menunggu bantuan profesional,” lanjutnya.

Area Head Gojek Semarang, Nur Andriansyah, menyebut mitra driver Gojek memiliki posisi strategis karena mobilitas mereka yang tinggi dan interaksi langsung dengan masyarakat di jalan.

“Ribuan Mitra Driver Gojek beraktivitas di jalan setiap hari dan berinteraksi langsung dengan masyarakat. Selain jumlahnya banyak dan sering berada lebih dulu di lokasi kejadian, mitra-mitra kami memiliki jiwa sosial yang tinggi,” katanya.

Melalui pelatihan ini, Gojek berharap para driver tidak lagi hanya menjadi penonton saat terjadi kecelakaan. “Melalui pelatihan ini, kami berharap dapat membekali mereka agar lebih siap, lebih tenang, dan tahu apa yang boleh serta tidak boleh dilakukan dalam situasi darurat,” ujar Nur Andriansyah.

Ia menambahkan, kolaborasi dengan Dinas Kesehatan memastikan materi pelatihan sesuai standar kesehatan. “Ini adalah bentuk dukungan Gojek terhadap upaya mendorong keamanan lalu lintas dan di jalan raya Kota Semarang. Keselamatan bukan hanya tanggung jawab satu pihak, tetapi tanggung jawab bersama,” katanya.

 

 

 

Editor : Enih Nurhaeni

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network