Hujan Deras Iringi Jamasan Pusaka Sunan Pandanaran, Reda saat Kirab ke Rumah Dinas Bupati

Taufik Budi
Hujan Deras Iringi Jamasan Pusaka Sunan Pandanaran, Reda saat Kirab ke Rumah Dinas Bupati. Foto: Taufik Budi

 

SEMARANG, iNewsJoglosemar.idHujan deras mengguyur saat prosesi jamasan pusaka peninggalan Sunan Pandanaran dalam rangka peringatan Hari Jadi ke-505 Kabupaten Semarang, Rabu (11/2/2026). Namun, ketika pusaka selesai dijamas dan dikirap menuju rumah dinas Bupati Semarang, hujan perlahan reda.

Prosesi sakral tersebut menjadi bagian dari rangkaian Merti Bumi Selasih yang digelar Pemerintah Kabupaten Semarang. Enam pusaka peninggalan leluhur dijamas dalam ritual yang berlangsung khidmat meski cuaca kurang bersahabat.

Penjamas pusaka, MA Sutikno, menyebut momen tersebut sebagai hari istimewa bagi Kabupaten Semarang.

“Hari ini hari yang istimewa, karena ulang tahun Kabupaten Semarang yang ke-505. Ada pun secara simbolik, tadi telah terlaksana jamasan pusaka Kabupaten Semarang, peninggalan leluhur kita, yaitu Panji Pandanaran,” ujarnya.

Ia menegaskan, jamasan bukan sekadar mencuci pusaka, melainkan bentuk introspeksi bersama.

“Tentunya tidak hanya secara simbolik, mencucikan keris atau menjamas keris, tapi sebetulnya adalah introteksi bagi kita semua, selaku masyarakat Kabupaten Semarang,” kata Sutikno.

Ia menjelaskan, pusaka yang dijamas berjumlah enam. “Tadi ada pusaka enam, tiga berbentuk tombak, yang satu lurus, dan dua trisula, dan tiga lagi keris," terangnya.

Menurutnya, tombak merupakan simbol Kabupaten Semarang dan energi wilayah.

“Itulah simbol-simbol yang harus dilestarikan, karena tombak itu adalah simbol Kabupaten Semarang. Tombak adalah energinya untuk wilayah se-Kabupaten Semarang.”

Terkait usia pusaka, ia menyebut telah berusia ratusan tahun.

“Wah, sudah ratusan tahun. Itu era Pajajaran dan era Majapahit. Sampai sekarang bisa dihitung, karena sekarang ini bahkan diakui dunia, UNESCO mengakui bahwa pusaka menjadi warisan dunia.”

Air yang digunakan untuk jamasan diambil dari mata air 19 kecamatan di Kabupaten Semarang.

“Untuk air yang dijamas itu memang diambil wilayah 19 kecamatan yang ada di Kabupaten Semarang. Melibatkan beberapa warga, baik itu di desa-desa, antusias, bahkan anak-anak sekolah pun menyambut ketika air itu dibawa ke pendapa untuk dijamas,” ujarnya.

Sementara itu, Juru Kunci Pusaka Kabupaten Semarang Edy Sukarno menjelaskan makna filosofis ritual tersebut.

“Sebenarnya kearifan lokal ini sebuah tradisi yang syarat dengan pesan moral karena Metri Bumi Serasi artinya adalah kesadaran yang ingin kita bawa mengajak seluruh elemen masyarakat Kabupaten Semarang untuk sadar pada tanggung jawab manusia yang diciptakan oleh Tuhan sebagai wakil Tuhan untuk melakukan dharma tugas hidup memayu hayuning bawono,” ujarnya.

Ia menjelaskan air dari sumber mata air dikumpulkan dan digunakan untuk jamasan pusaka sebagai simbol kehidupan.

“Nah jamasan pusaka sendiri punya dua hal yang prinsip pertama secara esoteri itu dalam rangka merawat fisik pusaka agar pusaka itu tidak rusak karena korosi maka pusaka dibersihkan kembali baik bilah pusakanya maupun warangkanya.”

Secara spiritual, air menjadi lambang penguripan dan kesadaran diri.

“Nah setelah pusaka itu dijamas kemudian harus dikirab berarti orang yang sudah sadar pada sangkan paraning dumadi maka kewajibannya adalah adalah kirab yaitu memayu hayuning bawono.”

Editor : Enih Nurhaeni

Halaman Selanjutnya
Halaman : 1 2

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network