Karnaval Sumberejo Bikin Warga Ogah Pulang, 8 Dusun Tumpahkan Kreativitas hingga Malam

Taufik Budi
Karnaval Sumberejo Bikin Warga Ogah Pulang, 8 Dusun Tumpahkan Kreativitas hingga Malam. Foto: iNesJoglosemar.id/Taufik Budi

 

SEMARANG, iNewsJoglosemar.id — Jangan berharap bisa cepat pulang jika datang ke Karnaval Budaya Desa Sumberejo, Kecamatan Pabelan, Kabupaten Semarang. Beragam atraksi yang disuguhkan warga membuat penonton betah berlama-lama, bahkan karnaval diperkirakan berlangsung hingga malam hari.

Karnaval dalam rangka HUT ke-81 Kemerdekaan RI ini menjadi pesta rakyat yang benar-benar digerakkan masyarakat. Delapan dusun ikut ambil bagian dengan membawa beragam pertunjukan, mulai dari tari-tarian, musik, kostum, hingga atraksi yang dibuat secara swadaya.

Bukan pertunjukan seadanya. Warga rela mengeluarkan uang dari kantong sendiri untuk membeli kostum, membuat properti, hingga menyewa perlengkapan demi tampil maksimal di hadapan warga lainnya.

Anggota DPRD Kabupaten Semarang dari Fraksi PDI Perjuangan, Agus Budiyono, mengatakan pemerintah desa hanya memberikan stimulan. Selebihnya, masyarakat bergerak sendiri dengan semangat gotong royong.

“Pemerintah desa hanya memberikan stimulan, selebihnya masyarakat ini berkreasi. Masyarakat juga rela mengeluarkan uang, urunan dan sebagainya,” kata Agus.

Menurut Agus, tradisi tersebut bukan sesuatu yang baru. Karnaval budaya Desa Sumberejo telah menjadi agenda rutin sejak sekitar 2008 dan digelar bergantian dengan pagelaran wayang.

“Ini karnaval budaya di Desa Sumberejo agenda dua tahun sekali. Karena satu tahun karnaval, satu tahun wayangan. Itu agenda sudah berjalan,” ujarnya.

Tahun ini, antusiasme warga kembali meledak. Masing-masing dari delapan dusun bahkan membawa beberapa penampilan. Sejumlah warga yang awalnya tidak masuk daftar peserta akhirnya bergabung dengan kontingen dusun karena tingginya keinginan untuk ikut tampil.

Salah satunya Dusun Kubang. Sekitar 150 warga dari berbagai kelompok usia terlibat dalam kontingen tersebut. Mereka menampilkan barongsai, kelompok ibu-ibu, kostum, kisah Rama dan Sinta, hingga drumblek yang dimainkan para remaja.

Galuh, warga Dusun Kubang, mengatakan persiapan dilakukan hanya sekitar dua pekan. Sebagian besar properti dibuat sendiri oleh warga, sementara beberapa perlengkapan lainnya diperoleh dengan menyewa.

“Untuk persiapannya kita hanya kurang lebih dua minggu saja. Untuk propertinya kita bikin sendiri, hanya beberapa saja yang sewa,” kata Galuh.

Menurutnya, keterlibatan warga tidak mengenal usia. Anak-anak, remaja, ibu-ibu hingga bapak-bapak ikut ambil bagian dalam pertunjukan.

“Untuk semuanya kira-kira mungkin 150-an, dari remaja, ibu-ibu dan bapak-bapak,” ujarnya.

Bupati Semarang Ngesti Nugraha yang hadir dalam kegiatan tersebut memberikan apresiasi tinggi terhadap antusiasme masyarakat Sumberejo. Ia menilai karnaval bukan sekadar tontonan, tetapi menjadi ruang untuk memperkuat persatuan, gotong royong, guyub, rukun dan kekompakan warga.

“Atas nama Pemerintah Kabupaten Semarang memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas pelaksanaan Karnaval Budaya dalam rangka Hari Kemerdekaan RI yang ke-81 tingkat Desa Sumberejo,” kata Ngesti.

Ngesti juga menyampaikan sejumlah pesan kepada masyarakat, termasuk soal kebijakan pajak bumi dan bangunan. Ia menegaskan Pemkab Semarang tidak akan menaikkan PBB hingga akhir masa jabatannya, kecuali untuk lahan yang mengalami perubahan fungsi menjadi hotel, pabrik, kawasan pariwisata maupun tempat usaha.

“Lahan pertanian tidak akan kami naikkan sampai akhir masa jabatan nanti,” tegasnya.

Selain itu, Ngesti meminta doa masyarakat agar rencana kelanjutan pembangunan jalan dari Ujung-Ujung, Sumberejo hingga Dadapayam dapat segera terealisasi.

Yang membuat karnaval semakin terasa sebagai pesta rakyat adalah aktivitas ekonomi di sepanjang lokasi acara. Sejumlah pelaku UMKM membuka lapak dan ikut menikmati ramainya penonton.

Agus mengatakan sebagian besar UMKM yang berjualan merupakan warga lokal. Kondisi tersebut membuat karnaval tidak hanya menjadi panggung seni, tetapi juga ikut menggerakkan ekonomi masyarakat.

“Ya dari warga lokal tapi juga ada yang dari luar. Semangatnya semangat untuk ini pesta rakyat,” ujar Agus.

Sementara itu, Wakil Ketua Gerakan Wanita Sejahtera Kabupaten Semarang, Cici Anggoro, mengaku justru sulit meninggalkan lokasi karena pertunjukan yang disajikan warga begitu beragam.

“Masih bertahan karena unik sekali. Berbagai atraksi macam-macam sangat menarik sekali. Ogah-ogahan pulang,” kata Cici.

Cici juga ikut mendampingi Bupati Semarang, anggota DPRD, camat dan jajaran Forkopimcam melihat sekaligus membagikan sayuran kepada masyarakat. Kegiatan tersebut menambah warna dalam perayaan kemerdekaan di Sumberejo.

 

 



Editor : Enih Nurhaeni

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network