get app
inews
Aa Text
Read Next : Gubernur Jateng: UMKM Butuh Pinjaman Murah, Bukan Pinjol Ilegal

Kerupuk Udang UMKM Diminati Pasar Eropa, Produksi 12 Ton Sebulan

Kamis, 20 Maret 2025 | 23:16 WIB
header img
Kerupuk Udang UMKM Diminati Pasar Eropa, Produksi 12 Ton Sebulan (Taufik Budi)

SEMARANG, iNEWSJOGLOSEMAR.ID – Ika Yuanita, seorang pengusaha UMKM asal Semarang, sukses membangun bisnis kerupuk udang yang kini menembus pasar Eropa. Dengan merek Kingkaf, usahanya mampu memproduksi hingga 12 ton kerupuk udang setiap bulan. Produksi ini dilakukan di kawasan Ngaliyan, Semarang Barat, dengan melibatkan empat karyawan dan beberapa tenaga lepas.

"Kerupuk udang itu khas Indonesia. Hampir semua makanan tradisional kita cocok dipadukan dengan kerupuk. Banyak diaspora Indonesia di luar negeri yang merindukan rasa autentik ini, dan itulah yang menjadi peluang bagi kami," kata Ika Yuanita, di kediamannya kawasan Gombel Kota Semarang, Rabu (19/3/2025).

Awalnya, usaha pembuatan kerupuk ini dilakukan secara sederhana hanya untuk memenuhi pesanan di pasar. Namun, seiring meningkatnya permintaan, Ika mulai menerapkan sistem produksi yang lebih profesional. Ia juga mengganti metode kerja karyawannya agar lebih efisien dan terstruktur.

“Dulu kita produksi seadanya, hanya mengandalkan alat manual dan tenaga terbatas. Sekarang, dengan sistem yang lebih baik, kita bisa meningkatkan kapasitas produksi tanpa mengorbankan kualitas,” ujar Ika.

Tantangan Pasar Luar Negeri

Saat pertama kali masuk pasar Eropa, khususnya Jerman, Ika menghadapi tantangan besar. Salah satunya adalah kebiasaan masyarakat setempat yang tidak terbiasa menggoreng kerupuk sendiri.

“Banyak orang di Eropa, terutama warga lokal, tidak tahu cara menggoreng kerupuk dengan benar. Mereka tanya ke saya, ‘Bagaimana cara menggorengnya? Apakah ada yang sudah siap makan?’ Dari situ kami mulai mengembangkan produk yang lebih praktis dan siap santap,” jelasnya.

Untuk memenuhi kebutuhan ini, Ika membuat varian kerupuk yang sudah matang dan bisa langsung dinikmati tanpa perlu digoreng. Inovasi ini ternyata mendapat respons positif dari pasar luar negeri.

“Mereka menginginkan ukuran kerupuk yang tidak terlalu besar. Kalau biasanya yang kita konsumsi kan ukuranya cukup besar, ah yang diinginkan warga Eropa kira-kira hanya setengah ukurannya. Selain itu, mereka juga inginnya kita menggunakan minyak goreng kelapa, bukan sawit,” terangnya.

Dalam memproduksi kerupuk udang, Ika sangat selektif dalam pemilihan bahan baku. Ia hanya menggunakan daging udang tanpa kulit dan kepala, sehingga menghasilkan produk dengan cita rasa lebih murni dan tekstur lebih renyah.

“Kita pakai 100% daging udang, tidak ada campuran kulit atau kepala. Selain itu, kita juga memastikan semua bahan bebas gluten, karena banyak konsumen yang mencari produk dengan kualitas tinggi dan sehat,” ungkapnya.

Editor : Enih Nurhaeni

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut