Kerupuk Udang UMKM Diminati Pasar Eropa, Produksi 12 Ton Sebulan

Jaringan Distribusi Luas
Saat ini, pasar utama kerupuk udang Kingkaf di dalam negeri berada di wilayah Jawa Timur. Ika telah bekerja sama dengan beberapa distributor yang memasok produk ke berbagai toko dan supermarket di sana.
“Saat ini distribusi terbesar masih di Jawa Timur karena banyaknya permintaan. Kami juga menyediakan berbagai grade kerupuk, dari super hingga kelas standar, sesuai kebutuhan pasar,” tambahnya.
Untuk pasar ekspor, Ika bekerja sama dengan seorang distributor di Eropa yang mendistribusikan produknya ke toko-toko Asia di Jerman dan sekitarnya. Kerja sama ini bermula dari pertemuan dalam sebuah acara kurasi produk UMKM.
“Dari even kurasi, saya bertemu dengan seorang distributor yang punya banyak channel toko di Eropa. Sekarang setiap bulan atau dua kali sebulan, kita rutin kirim produk ke sana,” katanya.
Produksi Berbasis Keberlanjutan
Untuk memastikan keberlanjutan bisnisnya, Ika tidak hanya fokus pada produksi, tetapi juga pengembangan sumber daya manusia. Ia bahkan membiayai pendidikan karyawannya untuk belajar manajemen agar mereka dapat memahami bisnis dengan lebih baik.
“Saya ingin karyawan tidak hanya sekadar membuat kerupuk, tapi juga paham bagaimana mengelola bisnis ini. Makanya saya bantu mereka kuliah di jurusan manajemen. Dengan begitu, mindset mereka berubah dan mereka bisa ikut membangun usaha ini bersama-sama,” jelasnya.
Ika Yuanita menambahkan Rumah BUMN Semarang memiliki peran besar mendukung perkembangan usahanya. Dengan bekal berbagai pelatihan strategi bisnis dan inovasi, ia berkomitmen mengembangkan usahanya agar kerupuk udang khas Indonesia semakin dikenal di pasar global.
Rumah BUMN Semarang terus mendorong para pelaku UMKMagar mampu menembus pasar ekspor. Salah satu langkah yang dilakukan adalah melalui pelatihan-pelatihan yang bertujuan meningkatkan kapasitas pelaku usaha.
Editor : Enih Nurhaeni