Ibu Rumah Tangga Berdaya dari Griya

SEMARANG, iNEWSJOGLOSEMAR.ID - Michelia Nindya Pertiwi, seorang ibu rumah tangga berusia 33 tahun yang tinggal di Kelurahan Rowosari, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, berhasil menjalankan bisnis reseller produk serundeng secara online. Berawal dari coba-coba, kini bisnisnya berkembang pesat hingga menjual lebih dari 5.000 paket serundeng.
Awalnya, Michelia hanya membantu tetangganya menjualkan produk serundeng dengan merek Srundeng Rahayu. Namun, ia kemudian berpikir untuk menjual produk ini secara online melalui marketplace Shopee. Saat itu, penjualan serundeng di marketplace masih terbatas, sehingga Michelia melihat peluang besar.
"Saya mulai jualan serundeng di Shopee sekitar empat tahun lalu, waktu pandemi Covid-19. Saat itu, Shopee belum sebesar sekarang, dan saya iseng coba-coba jualan. Alhamdulillah, ternyata ada pembelinya," ujar Michelia, Sabtu (29/3/2025).
Michelia mengaku bahwa sejak awal semua produk yang ia jual benar-benar dibeli oleh pelanggan, bukan dari pembelian sendiri untuk menaikkan rating toko. Hal ini membuatnya semakin yakin untuk terus berjualan.
Dengan menjual produk secara online, Michelia tetap bisa menjalankan perannya sebagai ibu rumah tangga tanpa harus keluar rumah. Ia dapat mengurus pemesanan dari produsen serta pengiriman ke konsumen dengan mudah, karena kurir datang langsung ke rumahnya untuk mengambil paket serundeng yang dipesan.
"Dengan adanya kurir yang datang langsung mengambil barang, saya tidak perlu repot keluar rumah untuk mengantar paket. Jadi, semuanya bisa dikerjakan dari rumah saja," tandasnya.
Michelia juga menjelaskan bahwa serundeng ini banyak diminati oleh pelanggan yang ingin membawa oleh-oleh ke luar negeri. Produk ini memiliki daya tahan hingga satu tahun, sehingga cocok sebagai buah tangan untuk keluarga di perantauan.
"Serundeng ini kan makanan tradisional dari kelapa parut yang diberi bumbu rempah dan digoreng sangrai. Makanan ini bisa membangkitkan memori masa lalu. Banyak juga yang membelinya untuk dibawa ke luar negeri karena tahan lama," katanya.
Selain serundeng, Michelia juga menjual berbagai produk lainnya, seperti kremes ayam, kering kentang balado, dan teri kacang balado. Namun, serundeng tetap menjadi produk terlaris di tokonya, Tania Shoppa.
"Awalnya saya juga jualan baju anak, tapi karena produsennya sudah tidak bisa suplai lagi, saya fokus ke serundeng dan produk makanan lainnya," tambahnya.
Di marketplace, Michelia memilih tidak melakukan live selling karena harus tetap mengurus anak-anaknya yang masih kecil. Namun, ia tetap aktif menerima pesanan dari pelanggan setia yang langsung menghubunginya untuk membeli produk.
"Saya tidak punya karyawan, semua saya kerjakan sendiri dari rumah sambil mengurus dua anak. Jadi, saya lebih memilih mengandalkan penjualan online tanpa harus live," jelasnya.
Pesanan Melonjak
Selama Ramadan, pesanan serundeng meningkat tajam. Banyak pelanggan dari berbagai daerah yang membeli serundeng sebagai oleh-oleh atau untuk hidangan lebaran. Serundeng sangat cocok dipadukan dengan sayur opor maupun rendang, sehingga permintaan naik drastis menjelang hari raya.
"Ramadan ini memang ramai pesanan. Banyak yang beli untuk stok lebaran atau oleh-oleh keluarga, baik yang varian manis maupun pedas," ujar Michelia.
Dengan modal awal yang relatif kecil, bisnis ini cukup menguntungkan bagi Michelia. Omzetnya bisa mencapai Rp2,5 juta hingga Rp3 juta per bulan. Meski ada potongan administrasi marketplace, ia merasa masih mendapatkan keuntungan yang layak.
"Penjualan online memang ada biaya administrasi, tapi ini seperti biaya sewa toko. Masih masuk akal dan menguntungkan,. Sampai sekarang toko saya mendapatkan rating bintang 4.9 dengan 142 pengikut," tuturnya.
Serundeng yang dijualnya memiliki beberapa pilihan kemasan, mulai dari 125 gram, 500 gram, hingga 1 kg. Dengan pilihan ini, pelanggan bisa membeli sesuai dengan kebutuhan mereka.
Meski sudah berjualan cukup lama, Michelia mengaku belum memiliki merek sendiri. Ia masih menggunakan merek asli dari produsen. Menurutnya, membuat merek sendiri membutuhkan modal tambahan yang belum ia siapkan.
"Saya masih memakai merek Srundeng Rahayu karena kalau buat brand sendiri ada biaya tambahan lagi untuk pengemasan dan sebagainya, sementara saya masih fokus jualan dan mengurus anak-anak," katanya.
"Saya juga menjalin komunikasi yang baik dengan Bu Yayuk (pemilik UMKM Srundeng Rahayu). Beliau sangat mendukung saya pada penjualan di marketplace Shopee ini, termasuk jika ada permintaan dalam jumlah besar saya langsung komunikasikan," beber dia.
Salah satu keunggulan berjualan online menurut Michelia adalah kemudahan dalam transaksi dan pengiriman. Marketplace seperti Shopee kerap menyediakan fitur gratis ongkir dan promo diskon yang menarik bagi pelanggan.
"Saya sering beli juga untuk kebutuhan rumah tangga karena banyak promo dan gratis ongkir. Jadi, selain jualan, saya juga sering belanja online," imbuhnya.
Pengalaman Michelia ini sejalan dengan Ika Yuanita, pemilik UMKM Kingkaf yang juga fokus berjualan di Shopee. Ika menjual berbagai produk seperti sale pisang, tahu bakso, dan teh rempah, dengan permintaan yang cukup tinggi.
"Kemarin ada pelanggan yang beli 30 pack sale pisang ke Jakarta untuk dibawa umrah. Pelanggan itu cari yang bisa dikirim cepat dan free ongkir, makanya saya arahkan untuk pakai Shopee," ujar Ika.
Menurut Ika, salah satu keuntungan berjualan di marketplace adalah adanya sistem pembayaran digital seperti ShopeePay. Hal ini memudahkan pelanggan dalam bertransaksi dan meningkatkan kepercayaan pembeli terhadap toko online.
"Ada fitur pembayaran ShopeePay yang memudahkan pelanggan, selain itu ada diskon tambahan juga. Ini membantu meningkatkan penjualan," katanya.
Shopee juga memiliki tim marketing yang membantu para pelaku UMKM dalam mengembangkan bisnis mereka. Tim ini memberikan pendampingan dan memastikan penjual bisa memanfaatkan fitur marketplace secara maksimal.
"Mereka cukup membantu, misalnya kalau ada kendala dalam transaksi atau butuh promosi tambahan, bisa dikonsultasikan," jelas Ika.
Baik Michelia maupun Ika sepakat bahwa berjualan di marketplace memberikan banyak kemudahan, terutama bagi ibu rumah tangga yang ingin tetap produktif dari rumah. Mereka bisa mengurus keluarga sambil tetap menjalankan usaha tanpa harus meninggalkan rumah.
Pengembangan UMKM
Shopee juga terus memperkuat komitmennya dalam mendukung pengembangan UMKM di Indonesia, terutama selama bulan Ramadan. Melalui berbagai program dan kampanye, Shopee memberikan kesempatan bagi pelaku usaha kecil untuk meningkatkan penjualan serta menjangkau pasar yang lebih luas.
Salah satu upaya yang dilakukan adalah melalui kampanye Shopee Big Ramadan Sale yang berlangsung dari 25 Februari hingga 31 Maret 2025. Kampanye ini tidak hanya memberikan kemudahan bagi konsumen, tetapi juga membuka peluang bagi UMKM dan brand lokal untuk memasarkan produknya dengan lebih efektif.
Selain kampanye Ramadan, Shopee juga meluncurkan Program Sukses UMKM Baru sebagai inisiatif untuk membantu pengusaha yang baru memulai bisnis online. Sejak 10 Februari 2025, program ini memberikan berbagai insentif seperti gratis biaya administrasi untuk 50 produk pertama, gratis ongkir untuk 200 pesanan pertama, serta voucher toko senilai Rp1.000.000.
Insentif ini diharapkan dapat meringankan beban operasional UMKM dalam tahap awal mereka berjualan di platform digital. Menjelang dan selama Ramadan, Shopee juga menambahkan insentif khusus bagi UMKM yang bergabung dalam program ini.
Dengan insentif tambahan ini, Shopee berupaya memastikan bahwa UMKM memiliki peluang yang lebih besar dalam meraih keuntungan selama periode peningkatan konsumsi di bulan suci.
“Shopee memahami bahwa Ramadan selalu menjadi momen penuh peluang bagi para pelaku usaha untuk meningkatkan penjualan, memperluas jangkauan pasar, dan mempererat hubungan dengan pelanggan," ujar Monica Vionna, Senior Director of Marketing Growth Shopee Indonesia, dilansir dari Okezone.
Selain bantuan berupa insentif, Shopee juga mendukung UMKM dalam proses adaptasi terhadap ekosistem digital. Melalui Kampus UMKM Shopee - Kelas Online, para pelaku usaha dapat mengakses berbagai pelatihan yang membantu mereka memahami strategi pemasaran digital, pengelolaan stok, serta optimasi penjualan.
Program ini bertujuan untuk membekali UMKM dengan keterampilan yang diperlukan agar dapat bersaing di pasar digital yang semakin kompetitif. Dengan berbagai program ini, Shopee berharap dapat menjadi mitra strategis bagi UMKM lokal dalam perjalanan mereka menuju kesuksesan.
"Kami bangga dapat memberikan ruang bagi para pengusaha UMKM dan brand lokal yang berpartisipasi dalam kemeriahan Big Ramadan Sale, membuka kesempatan bagi mereka untuk berkreasi hingga menampilkan koleksi spesial dalam menyambut Hari Raya Idulfitri," ucapnya.
Banyak Keunggulan
Riset terbaru dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) mengungkapkan bahwa Shopee menjadi platform digital yang paling banyak dipilih oleh pelaku UMKM untuk berjualan daring pada 2024. Dalam studi bertajuk "Peran Platform Digital Terhadap Pengembangan UMKM di Indonesia," sebanyak 50 persen responden UMKM menyatakan bahwa mereka menggunakan Shopee sebagai kanal utama penjualan mereka secara online.
Direktur Eksekutif INDEF, Esther Sri Astuti, mengungkapkan bahwa Shopee memiliki beberapa keunggulan yang membuatnya lebih diminati dibandingkan platform e-commerce lainnya. Keunggulan tersebut meliputi kemudahan penggunaan, harga produk yang lebih murah, ongkos kirim yang lebih terjangkau, serta ketersediaan produk yang lebih bervariasi.
1. Platform User Friendly
Esther menjelaskan bahwa Shopee memiliki antarmuka yang ramah pengguna, sehingga mudah digunakan oleh para pelaku UMKM, termasuk mereka yang baru memulai bisnis daring. Kemudahan ini memungkinkan UMKM, termasuk yang sebelumnya belum familiar dengan teknologi digital, untuk lebih cepat beradaptasi dalam ekosistem e-commerce.
"Banyak UMKM memilih Shopee karena tampilannya yang sederhana dan mudah dipahami. Dengan fitur-fitur yang intuitif, pelaku usaha dapat mengelola toko, mengunggah produk, serta berinteraksi dengan pelanggan dengan lebih efisien," ujar Esther yang juga dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Diponegoro (Undip) tersebut.
2. Harga Produk Lebih Murah
Riset INDEF juga menunjukkan bahwa harga produk yang tersedia di Shopee relatif lebih murah dibandingkan dengan platform lainnya. Faktor ini menjadi daya tarik bagi konsumen dan memberikan keunggulan kompetitif bagi pelaku UMKM yang berjualan di Shopee.
"Dengan adanya berbagai promo dan program subsidi dari Shopee, pelaku UMKM bisa menawarkan produk dengan harga yang lebih bersaing. Ini penting bagi mereka dalam menarik lebih banyak pelanggan dan meningkatkan volume penjualan," jelas Esther.
3. Ongkos Kirim Lebih Terjangkau
Selain harga produk yang lebih murah, ongkos kirim yang lebih terjangkau juga menjadi faktor utama yang mendorong UMKM untuk memilih Shopee sebagai platform utama mereka.
"Shopee menawarkan berbagai program subsidi ongkir yang sangat membantu UMKM, terutama bagi mereka yang menargetkan pasar di luar daerah asal mereka. Dengan ongkir yang lebih rendah atau bahkan gratis, produk UMKM menjadi lebih kompetitif di mata konsumen," tutur Esther.
Bantuan subsidi ongkir ini menjadi solusi bagi pelaku usaha kecil yang sering mengalami kendala dalam menjangkau pelanggan di berbagai wilayah.
4. Produk Lebih Bervariasi
Shopee juga dikenal memiliki katalog produk yang sangat beragam, baik dari segi kategori maupun variasi dalam setiap kategori. Dengan variasi produk yang luas, UMKM dapat lebih fleksibel dalam menyesuaikan penawaran mereka berdasarkan tren pasar dan permintaan konsumen.
"Banyaknya kategori dan varian produk yang tersedia di Shopee memungkinkan pelaku UMKM untuk menjangkau lebih banyak segmen pasar. Selain itu, fitur pencarian dan rekomendasi produk yang canggih juga membantu pelanggan menemukan produk yang sesuai dengan kebutuhan mereka dengan lebih mudah," terang Esther.
Digitalisasi UMKM telah menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia. Menurut laporan dari Google, Temasek, dan Bain & Company, nilai ekonomi digital Indonesia diproyeksikan akan mencapai 109 miliar dolar AS atau sekitar Rp1.721 triliun pada tahun 2025. Bahkan, angka ini diperkirakan akan meningkat signifikan pada tahun 2030, dengan estimasi mencapai 210 hingga 360 miliar dolar AS (Rp3.317 triliun - Rp5.687 triliun).
Pertumbuhan ini tidak terlepas dari peran e-commerce sebagai kontributor utama dalam ekosistem ekonomi digital nasional. Keberadaan platform seperti Shopee telah membuka banyak peluang bagi UMKM untuk memperluas pasar mereka, meningkatkan penjualan, serta beradaptasi dengan tren digital.
"Dengan adanya platform digital yang semakin berkembang, UMKM kini memiliki kesempatan lebih besar untuk memperluas jangkauan bisnis mereka dan bersaing secara lebih efektif di pasar nasional maupun global," tutur Esther.
Tulang Punggung Ekonomi
Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), Maman Abdurrahman, menegaskan bahwa UMKM memiliki kontribusi besar bagi perekonomian nasional. Dalam berbagai situasi sulit, seperti krisis moneter 1998 dan pandemi Covid-19, UMKM terbukti menjadi sektor yang mampu bertahan dibandingkan korporasi besar yang mengalami kejatuhan.
"Sektor UMKM menjadi sektor yang diunggulkan, menangani, ataupun menjadi tulang punggung di tengah badai Covid. Tidak ada yang meragukan itu. Di saat mungkin korporasi-korporasi besar dulu lantah, terjerembak, jatuh, tapi UMKM bertahan," jelasnya.
Menurutnya, UMKM membutuhkan program kemitraan yang berkelanjutan untuk mendukung kelangsungan usaha. Selain kemitraan, Maman juga menekankan pentingnya bagi pengusaha UMKM untuk segera mengadopsi teknologi digital guna meningkatkan produktivitas dan daya saing mereka.
Pemerintah menargetkan 30 juta UMKM dapat bergabung dalam ekosistem digital. Upaya digitalisasi ini meliputi adopsi pembayaran non-tunai melalui QRIS, promosi digital, serta pemanfaatan platform online untuk memperluas pasar. Langkah-langkah ini diharapkan mampu meningkatkan daya saing UMKM dan memperkuat kontribusinya terhadap perekonomian nasional.
Editor : Enih Nurhaeni