get app
inews
Aa Text
Read Next : Tips Hadapi Aquaplaning di Jalur Pantura, Dilarang Panik dan Jangan Rem Mendadak

Surya dan Angin Mengubah Wajah Pantura

Jum'at, 05 Desember 2025 | 17:59 WIB
header img
Surya–Angin Mengubah Wajah Pantura. Foto: Taufik Budi

Menara Hybrid

Struktur menara warna biru itu tampak kontras dengan semak-semak yang merayap di sekelilingnya. Di puncak menara, tiga turbin angin poros vertikal berputar perlahan diterpa angin utara yang tak pernah absen. Ketiganya membentuk siluet yang tegas melawan langit yang sebagian tertutup mendung.

Turbin itu bukan sekadar baling-baling; melainkan unit pembangkit berkapasitas 500 Watt. Turbin inilah yang memastikan listrik tetap tersedia saat malam atau ketika hujan atau mendung gelap menutupi matahari.

Tepat di bawah turbin, terpasang empat panel surya yang membentuk kisi-kisi bidang datar seperti sayap raksasa. Panel-panel itu menghadap ke langit dengan sudut optimum untuk menangkap sinar matahari pesisir utara Jawa yang rata-rata bersinar 5 jam per hari. Dengan kapasitas 1.200 Watt-peak (Wp), modul ini menjadi sumber energi utama di siang hari.

Sistem hibrida ini bekerja serempak yakni panel surya menghasilkan 6.000 Wh energi per hari, sama dengan turbin angin. Sehingga, keseluruhannya membentuk produksi energi harian 12.000 Wh.

Energi yang terkumpul disimpan dalam sebuah baterai 3.600 Watt yang dipasang di bagian tengah menara, terlindungi oleh kotak logam agar aman dari paparan garam laut dan korosi. Baterai ini dirancang untuk menyokong penyalaan 17 titik lampu PJU berdaya masing-masing 50 Watt. Total konsumsi penerangan mencapai 10.200 Wh per malam—masih menyisakan surplus energi harian 1.800 Wh.

Surplus itu bukan angka kecil. Sistem ini bisa bertahan 20 tahun, dan analisis menunjukkan sistem ini dapat menghasilkan energi 87,6 MWh, sementara kebutuhan penerangan hanya 74,7 MWh, sehingga tercipta surplus energi 12,9 MWh. Jika dihitung menggunakan tarif listrik 1.352 rupiah/kWh, maka total penghematan mencapai Rp17.417.800 selama umur teknis sistem.

Saya memperhatikan lampu-lampu itu. Malam hari, lampu akan hidup otomatis, memberikan cahaya putih terang yang mampu mencapai radius hampir 20 meter. Teknologi sederhana ini justru menjadi penyangga kehidupan di desa pesisir yang kerap diterjang cuaca ekstrem.

“Ini bukan soal lampunya saja,” kata Haryanto ketika melihat saya mencatat detail kecil itu. “Ini soal rasa aman, soal anak-anak bisa pulang dari mengaji tanpa takut, dan pekerja bisa pulang malam tanpa deg-degan.”

Kami kembali ke balai desa, lalu melanjutkan perjalanan ke rumah produksi UMKM milik Muhammad Kanif. Rumahnya berada di jalur tambak yang agak naik, sehingga aman dari banjir rob. Begitu tiba, aroma mi lidi yang baru matang langsung menyapa hidung saya, membuat perut seolah dipaksa bereaksi.

“Kami pakai panel surya untuk proses produksi,” katanya ketika saya menanyakan perubahan yang dialaminya. “Jadi meskipun listrik PLN mati, oven masih bisa jalan,” tambahnya sambil menunjuk sebuah oven besar yang masih hangat.

Dua kalimat itu terasa seperti kalimat kemenangan bagi pelaku UMKM. Produksi mi lidi membutuhkan listrik yang stabil, terutama untuk proses pemanggangan yang harus mencapai suhu tertentu agar mi tidak lembek atau terlalu keras. Setiap mati listrik berarti bahan baku yang rusak, waktu yang hilang, dan kerugian.

Kanif bisa memproduksi hingga 100 kilogram mi dalam sehari jika permintaan tinggi, terutama menjelang Ramadan ketika pesanan meningkat dari berbagai kota seperti Semarang, Kudus, Jepara, dan Solo.

“Alhamdulillah sekarang lebih tenang,” katanya sambil menunjukkan panel surya berukuran sekitar 10 meter persegi di atas atap rumahnya.

Hujan turun saat kami sedang melihat ruang penyimpanan bahan baku di rumah Kanif. Suara hujan menghantam atap rumah seng seperti dentuman-dentuman yang berulang, dan saya tidak bisa menahan diri untuk melihat ke luar.

Air turun deras, membuat jalanan tambak gelap karena awan hitam menutup seluruh langit. Dalam kondisi seperti itu, saya memahami mengapa warga menyebut pesisir sebagai tempat yang bisa berubah dalam satu menit.

“Begini kalau hujan besar,” ujar Kanif sambil melihat air mengalir deras di selokan kecil.

Saya dan Haryanto terpaksa berteduh selama hampir empat puluh menit sebelum hujan mereda. Namun yang menarik perhatian saya adalah lampu-lampu di jalan tambak yang menyala otomatis meski hujan deras membuat sore tampak seperti malam.

“Dulu kalau lampu PLN mati ya gelap total,” kata Haryanto ketika melihat saya memandangi pemandangan itu. “Sekarang kalau gelap ya lampu surya yang nyala.”

Ketika hujan benar-benar reda, saya melanjutkan perjalanan ke Kota Semarang. Tujuan berikutnya adalah Pujasera Energi Tambakharjo, sebuah kawasan kuliner pesisir yang dikelola oleh warga dengan dukungan PLTS.

 

Editor : Enih Nurhaeni

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut