get app
inews
Aa Text
Read Next : Tips Hadapi Aquaplaning di Jalur Pantura, Dilarang Panik dan Jangan Rem Mendadak

Surya dan Angin Mengubah Wajah Pantura

Jum'at, 05 Desember 2025 | 17:59 WIB
header img
Surya–Angin Mengubah Wajah Pantura. Foto: Taufik Budi

Sinergi Energi

Target bauran energi Jawa Tengah telah diatur dalam Rencana Umum Energi Daerah (RUED) Perda Nomor 12 Tahun 2018. Namun pencapaiannya tidak bisa dilakukan ESDM sendiri, melainkan harus melibatkan berbagai OPD dan sektor.

“Target baruan enegri pada 2025 sebesar 21,32 persen pada 2025 di Jawa Tengah adalah target yang optimis. Untuk mencapai target itu, tidak hanya kami, Pemda (sinergi antar-OPD) yang bertanggung jawab atas target tersebut,” ujarnya.

Ia mencontohkan, lampu penerangan jalan tenaga surya bukan kewenangan ESDM, melainkan Dinas Perhubungan. Sementara pengembangan investasi EBT melibatkan Dinas PTSP.

“Supaya kita bisa mensinergikan terkait Dinas PTSP terkait investasi-investasi yang terkait dengan energi baru terbarukan. Itu gunanya kita membentuk Forum Energi Daerah,” jelasnya.

ESDM Jateng fokus membangun infrastruktur EBT skala mikro yang langsung dirasakan masyarakat. “Kami banyak membangun infrastruktur EBT yang mikro-mikro seperti pembangunan PLTS Atap. Itu kita ada di pesantren, di sekolah-sekolah, kemudian ada di UMKM,” terang Diah.

Setiap tahun, sebelum efisiensi anggaran, Jateng membangun 20–30 unit PLTS Atap. Selain itu, program biogas menjadi yang paling masif dengan 3.000 unit yang sudah dibangun untuk mengurangi ketergantungan masyarakat pada LPG.

“Biogas ini untuk membantu masyarakat ketika tidak bergantung kepada LPG untuk memasak,” ujarnya.

Diah menyebut Desa Banjarsari sebagai contoh keberhasilan desa membangun kemandirian energi. Desa ini memanfaatkan dana desa untuk membuat lampu PJU tenaga surya yang menerangi jalan desa.

“Kami sangat apresiatif sekali hingga Desa Banjarsari tersebut mendapat penghargaan dari kami di 2024 sebagai Desa Mandiri Energi Inisiatif,” ujarnya.

Pendampingan diberikan agar masyarakat mampu melakukan perawatan dan memahami sistem energi mereka sendiri. Jawa Tengah sedang mengembangkan berbagai inovasi EBT sesuai potensi wilayah.

“Kita masih mengembangkan terutama di daerah pantura. Banyak sekali masalah perubahan iklim di situ, rob dan lain sebagainya,” kata Diah.

Beberapa inovasi yang sedang dikaji di antaranya energi surya untuk aerator tambak (2026), cold storage bertenaga surya untuk nelayan, desalinasi berbasis energi surya, dan pemanfaatan langsung panas bumi di Dieng dan Guci. Ia menegaskan, tidak semua teknologi EBT cocok untuk semua daerah karena potensi berbeda-beda.

“EBT itu sesuai dengan potensi masing-masing wilayah,” tegasnya.

Meski potensi EBT Jateng besar, kontribusi daerah tetap kecil karena kewenangan utama berada di pemerintah pusat—mulai dari proyek PLTS skala besar hingga pemanfaatan panas bumi untuk listrik.

“Kewenangan yang paling besar adalah di pemerintah pusat,” kata Diah.

Saya kembali mengingat saat perjalanan dari Banjarsari menuju Semarang hari memang masih sore tapi mendung menutup langit. Dari kaca spion, terlihat titik-titik cahaya di Banjarsari berderet seperti paku-paku kecil yang menegaskan keberadaan sebuah desa yang tidak lagi tunduk pada gulita.

Saya pun teringat wajah-wajah warga yang saya temui—Mustofa yang kini tak takut pulang malam, Kanif yang bisa tetap memproduksi meski listrik padam, Jess yang berjualan sampai larut tanpa khawatir beban listrik. Saya merasa seperti baru saja menyaksikan bab awal dari perjalanan panjang menuju kemandirian energi, dan saya menjadi bagian kecil yang ikut merekamnya.

 

 

 

Editor : Enih Nurhaeni

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut