Sampah Pasar Tradisional Semarang Overload, Bau dan Risiko Kesehatan Mengintai
SEMARANG, iNewsJoglosemar.id – Tumpukan sampah yang menggunung di sejumlah pasar tradisional dan TPS di Kota Semarang memicu bau menyengat dan risiko gangguan kesehatan bagi warga sekitar. Kondisi semakin parah terutama di musim hujan.
Di antaranya terjadi di sekitar TPS Muktiharjo Kidul yang menjadi salah satu titik dengan beban sampah tinggi dalam beberapa waktu terakhir. Selama musim hujan, penumpukan sampah di TPS menjadi persoalan serius bagi lingkungan permukiman warga.
Ketua RW 8 Kelurahan Muktiharjo Kidul, Ali, menjelaskan bahwa sampah yang menumpuk tidak hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga berpotensi memicu masalah kesehatan akibat bau dan genangan air.
“Kami sebagai warga RW 8 menyikapi TPS di wilayah kami yang selama musim penghujan menumpuk menjadi persoalan lingkungan dan kesehatan,” ungkapnya, Kamis (15/1/2026).
Ia mengajak warga untuk membuang sampah pada tempatnya, karena kondisi greografis wilayah mereka tergolong rendah sehingga rawan terdampak saat musim hujan. Ali juga mengapresiasi jajaran Pemkot Semarang yang merespons cepat keluhan warga.
“Alhamdulillah, sudah ada tindakan nyata dari Ibu Wali Kota Semarang, Ibu Agustin. Sampah yang kemarin menumpuk, sekarang sudah berkurang. Warga kami sangat berterima kasih atas respons yang sigap ini,” jelasnya.
Penanganan sampah juga dilakukan pada sejumlah titik yang terdampak beban sampah tinggi. Untuk Pasar Penggaron yang mengalami overload, Pemkot Semarang menurunkan dua armada dengan dua ritasi serta satu alat berat, dengan target penuntasan pada Jumat (16/1). Pola serupa diterapkan di Pasar Jatingaleh dengan dua armada armroll dan target penyelesaian pada tanggal yang sama.
Penanganan di TPS Lanal telah tuntas pada 15 Januari 2026, sementara TPS Purwosari/Patriot diperkuat dengan satu armada dump truck. Di TPS Bukit Kencana Jaya, Pemkot akan menambah alat berat (excavator dari DISPERKIM), lima dump truck, dua armroll, tambahan satu kontainer, serta penataan ritasi harian karena keterbatasan kontainer dan satu armroll yang rusak. Seluruh rincian teknis ini menjadi bagian dari operasi lapangan yang saat ini berjalan.
Selain itu, penanganan sampah juga dilakukan di titik lain seperti TPS Lingkar Tanjung Panggung Lor dan Pasar Suryokusumo. Sedangkan TPS Rumah Pompa mendapat dukungan dua dump truck dari TPA dan 10 personel dari DISPERKIM.
“Kami tidak hanya mengangkut, tetapi menata sistemnya armada, ritasi, kontainer, hingga koordinasi lintas OPD. Tujuannya jelas, tidak ada lagi tumpukan yang mengganggu aktivitas warga dan berpotensi menimbulkan masalah kesehatan,” ungkap Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng.
Pola penanganan di Muktiharjo Kidul akan diperluas ke TPS-TPS lainnya yang telah dipetakan sebagai titik rawan overload. Penanganan khusus yang dilakukan di TPS Muktiharjo Kidul akan dilanjutkan secara bertahap ke TPS lain di Kota Semarang sehingga persoalan sampah tertangani dari hulu ke hilir.
Editor : Enih Nurhaeni