get app
inews
Aa Text
Read Next : Buronan Kasus Investree Ditangkap, Gelapkan Rp2,7 Triliun dan Kabur ke Qatar

Kredit Macet di Jateng Masih Tinggi, Dampak Covid-19 Belum Sepenuhnya Pulih

Kamis, 09 April 2026 | 21:37 WIB
header img
Kredit Macet di Jateng Masih Tinggi, Dampak Covid-19 Belum Sepenuhnya Pulih. Foto: Taufik Budi

 

SEMARANG, iNewsJoglosemar.id — Kondisi kredit macet di Jawa Tengah masih menjadi perhatian serius. Otoritas Jasa Keuangan menyebut tingginya rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) tak lepas dari dampak pandemi Covid-19 yang belum sepenuhnya pulih, khususnya di sektor UMKM.

Kepala OJK Jawa Tengah, Hidayat Prabowo, mengungkapkan bahwa secara umum sektor jasa keuangan di Jawa Tengah masih berada dalam kondisi stabil pada triwulan pertama 2026, dengan pertumbuhan kredit sekitar 9 persen.

Namun di balik pertumbuhan tersebut, kualitas kredit masih menjadi tantangan utama, terutama pada segmen tertentu.

“Secara umum stabil, tapi kualitas kredit memang perlu perhatian khusus, terutama karena struktur ekonomi Jawa Tengah sangat ditopang oleh UMKM,” ujarnya kepada awak media, Kamis (9/4/2026).

Hidayat menjelaskan, tingginya ketergantungan terhadap sektor UMKM membuat kondisi perbankan sangat sensitif terhadap dinamika usaha kecil. Ketika sektor tersebut belum sepenuhnya pulih, maka dampaknya langsung terasa pada kualitas kredit.

Salah satu indikator yang menjadi sorotan adalah tingginya NPL pada Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dan BPRS yang masih berada di kisaran 18 persen. Angka ini jauh di atas rata-rata nasional yang berada di kisaran 12 persen.

Sementara itu, secara keseluruhan NPL perbankan di Jawa Tengah masih berada di bawah 5 persen, namun tetap menjadi perhatian pengawas.

“Untuk BPR dan BPRS memang relatif tinggi, salah satunya karena dampak Covid-19 yang masih terasa, terutama bagi pelaku UMKM yang butuh waktu lebih lama untuk pulih,” jelasnya.

Menurutnya, program restrukturisasi kredit yang sebelumnya digulirkan memang membantu, namun belum sepenuhnya mampu menekan angka kredit macet secara signifikan.

Selain itu, sektor perdagangan dan industri pengolahan disebut menjadi penyumbang terbesar kredit bermasalah, seiring dominasi sektor tersebut dalam struktur ekonomi daerah.

Menghadapi kondisi ini, OJK Jateng-DIY telah menyiapkan sejumlah strategi untuk menekan NPL sepanjang 2026.

Fokus utama diarahkan pada upaya menjaga agar NPL tidak terus meningkat, sekaligus memperbaiki kredit bermasalah yang sudah ada melalui pendekatan sistematis, termasuk opsi restrukturisasi lanjutan bagi debitur yang masih memiliki prospek usaha.

“Kami targetkan minimal bisa mendekati rata-rata nasional di akhir tahun ini. Ini butuh kerja keras dari semua pihak,” tegas Hidayat.

Di sisi lain, OJK juga terus mendorong penguatan literasi keuangan masyarakat agar keputusan pembiayaan dan investasi lebih bijak.

“Literasi yang kuat akan melahirkan keyakinan, dan keyakinan yang tepat akan menghasilkan keputusan keuangan yang lebih baik,” pungkasnya.

 

 

 

Editor : Enih Nurhaeni

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut