get app
inews
Aa Text
Read Next : Go International, UNTS Perluas Jejaring Perguruan Tinggi di Malaysia

Princess Gavi Juara Balap Kuda Piala Raja Mangkunegaran, 30.000 Penonton Padati Arena

Senin, 11 Mei 2026 | 10:29 WIB
header img
Princess Gavi Juara Balap Kuda Piala Raja Mangkunegaran, 30.000 Penonton Padati Arena. (Foto: Istana).

SEMARANG, iNewsJoglosemar.id- Gelanggang Pacuan Kuda Tegalwaton, Kabupaten Semarang, berubah menjadi lautan manusia pada Minggu, 10 Mei 2026. Ribuan penonton memadati arena sejak pagi untuk menyaksikan Indonesia’s Horse Racing (IHR) Piala Raja Mangkunegaran & Triple Crown Serie 2 2026.

Event perdana Piala Raja Mangkunegaran itu bukan sekadar perlombaan kuda pacu. Ajang tersebut menjelma menjadi perpaduan olahraga, budaya, hiburan modern, hingga ruang pertemuan masyarakat lintas generasi.

Sekitar 30.000 pengunjung hadir memeriahkan acara yang digelar SARGA.CO bersama PP PORDASI dan Pura Mangkunegaran tersebut. Bahkan saat siang hari, panitia menyebut jumlah pengunjung telah menembus lebih dari 17.000 orang.

“Per jam 12.00 jumlah pengunjung sudah mencapai 17.313 orang,” ujar panitia di sela acara.

Atmosfer arena pacuan terasa berbeda dibanding balapan kuda pada umumnya. Ribuan pengunjung datang mengenakan kain tradisional Jawa sesuai tema budaya yang diusung penyelenggara.

Tak hanya menyaksikan duel sengit 147 kuda terbaik dari berbagai daerah di Indonesia, masyarakat juga menikmati hiburan keluarga, pertunjukan budaya, hingga pembagian es krim gratis.

Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunagara X mengatakan penyelenggaraan Piala Raja Mangkunegaran memiliki makna sejarah yang sangat panjang bagi Pura Mangkunegaran.

Menurutnya, hubungan Mangkunegaran dengan tradisi berkuda sudah berlangsung sejak ratusan tahun lalu, bahkan sejak era legiun dan kavaleri Mangkunegaran.

“Karena kuda dan Mangkunegaran untuk kami sejarahnya sudah sangat panjang,” katanya.

Ia menjelaskan, tradisi berkuda di Mangkunegaran telah ada sejak abad ke-19. Bahkan kawasan Solobalapan pada masa lalu disebut pernah menjadi arena pacuan kuda sebelum berdirinya stasiun kereta api.

“Dulu sendiri Mangkunegaran di dalam istananya juga menjadi arena berkuda untuk keprajuritan,” ujarnya.

Mangkunagara X menyebut penyelenggaraan Piala Raja Mangkunegaran menjadi upaya menghidupkan kembali sejarah panjang tersebut dalam wajah baru yang lebih dekat dengan masyarakat.

“Ini sejarah yang panjang yang hari ini kita hidupkan kembali bersama dengan rekan-rekan dari Pordasi dan Sarga,” katanya.

Menurut dia, momen Adeging Mangkunegaran ke-269 ingin dirayakan bersama masyarakat luas melalui kegiatan yang menghadirkan kegembiraan dan kebersamaan.

“Kita melihat masyarakat hari ini senang berkumpul dengan keluarganya, dengan anak-anaknya, dengan teman-temannya,” katanya.

Ia menilai kebersamaan dan ruang perjumpaan sosial menjadi hal paling berharga dari penyelenggaraan event tersebut.

“Merayakan sesama manusia satu sama lain itu menurut kita adalah yang paling penting dan paling berharga,” ujarnya.

Dalam perlombaan utama, kuda Princess Gavi asal Jawa Barat berhasil keluar sebagai pemenang Piala Raja Mangkunegaran usai menjuarai Kelas Terbuka Handicap 2.000 meter.

Sementara Saga Serumpun dari Sumatera Barat memenangkan Kelas 3 Tahun Derby 1.600 meter sekaligus menggagalkan upaya terciptanya sejarah back to back Triple Crown Indonesia oleh Maxi of Khalim dari Jawa Barat.

Secara keseluruhan, sebanyak 54 kuda berhasil naik podium dan memperebutkan total hadiah Rp600 juta.

BHM Stable dari Kalimantan Selatan menjadi stable dengan podium terbanyak, yakni tujuh podium. Disusul King Halim Stable dari Jawa Barat dengan enam podium serta Eclipse Stable dengan lima podium.

Sedangkan Jemmy Runtu, Meikel Soleran, dan Trully Pantouw menjadi joki dengan raihan podium terbanyak, masing-masing empat podium.

Managing Director SARGA Group Nugdha Achadie mengatakan konsep event sengaja dirancang sebagai sportainment experience yang memadukan olahraga, budaya, dan hiburan modern.

“Melalui IHR Piala Raja Mangkunegaran & Triple Crown Serie 2 2026 ini, kami ingin menghadirkan pacuan kuda sebagai sebuah sportainment experience yang memadukan kompetisi olahraga, nilai budaya, dan hiburan modern,” katanya.

Dia berharap konsep tersebut mampu memperluas daya tarik olahraga berkuda kepada generasi muda dan audiens baru.

“Kami berharap event hari ini dapat menambah daya tarik olahraga dan budaya berkuda kepada generasi dan audiens yang lebih luas,” ujarnya.

Tema berkain yang diusung dalam event itu juga menjadi perhatian pengunjung. Mangkunagara X menyebut kain tradisional merupakan bagian dari identitas budaya yang ingin diperkenalkan sebagai gaya hidup masa kini.

“Karena kain itu merupakan suatu bagian dari identitas kita,” katanya.

Menurutnya, banyak pengunjung yang awalnya belum pernah berkain justru merasa senang saat mengenakannya di arena pacuan.

“Ternyata kita kembali ke identitas itu sangat-sangat menyenangkan,” ujarnya.

Dia menilai Piala Mangkunegaran bisa menjadi medium memperkenalkan budaya kepada generasi muda dengan pendekatan yang lebih segar dan menyenangkan.

Selain budaya, Mangkunagara X juga menilai pacuan kuda memiliki daya tarik besar sebagai hiburan generasi muda.

Ia bahkan menyebut atmosfer pacuan kuda tak kalah menarik dibanding olahraga balap internasional.

“Mungkin generasi saya senang nonton Formula 1, nonton MotoGP. Saya rasa ini menurut saya lebih seru,” katanya.

Ketua Umum PP PORDASI Aryo Djojohadikusumo menyatakan kebanggaannya atas lahirnya Piala Raja Mangkunegaran yang disebut menjadi tonggak baru dalam sejarah pacuan kuda Indonesia.

“Setelah Piala Raja Hamengku Buwono yang digelar setiap tahun, hari ini secara perdana kita bisa menyelenggarakan Piala Raja Mangkunegaran,” katanya.

Aryo mengatakan PP PORDASI memiliki program memperbanyak ajang Piala Raja di berbagai daerah di Indonesia.

Menurut dia, konsep pacuan kuda saat ini tidak hanya fokus pada olahraga, tetapi juga menggabungkan budaya dan hiburan modern.

“Kita memperbanyak Piala Raja sehingga dapat menambah gengsi dan perayaan budaya dalam pacuan kuda,” ujarnya.

Ia menyebut ke depan konsep serupa juga berpotensi dikembangkan di Sumatera hingga Kalimantan dengan menyesuaikan budaya lokal masing-masing daerah.

“Kalau di Sumatera mungkin coraknya ulos, kalau di Kalimantan mungkin berbeda lagi,” katanya.

Ketua Komisi Pacu PP PORDASI Munawir mengatakan konsep Piala Raja terinspirasi dari tradisi pacuan bergengsi di Inggris seperti Royal Ascot.

Menurutnya, Indonesia juga memiliki potensi besar mengembangkan pacuan kuda berkelas internasional.

“Jadi kita jangan kalah sama luar negeri,” ujarnya.

Mangkunagara X sendiri mengaku semakin tertarik mengembangkan ekosistem berkuda setelah beberapa kali hadir dalam event pacuan kuda nasional.

“Saking senangnya sampai pengin bikin sendiri juga,” katanya sambil tersenyum.

Dia mengatakan Pura Mangkunegaran juga tengah menyiapkan revitalisasi gedung Kavaleri Artileri yang dahulu menjadi stable kuda di kawasan istana.

“Tentunya salah satu hal yang sedang kita rencanakan adalah merevitalisasi gedung Kavaleri Artileri,” ujarnya.

Menurutnya, revitalisasi itu diharapkan dapat memperkuat kontribusi Mangkunegaran dalam perkembangan olahraga berkuda di Indonesia.

Piala Raja Mangkunegaran sendiri menjadi seri pertama King’s Cup Series dalam rangkaian IHR 2026 yang akan terdiri dari tiga seri Piala Raja.

Event tersebut diikuti 147 kuda dari Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Utara.

 

 

 

 

Editor : Enih Nurhaeni

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut