get app
inews
Aa Text
Read Next : Limbah Jadi Prestasi, Karang Taruna Desa Manggihan Antar Kabupaten Semarang Tembus 5 Besar Jateng

Enam Desa Mulai Kekeringan, BPBD Kabupaten Semarang Siapkan 150 Tangki Air Bersih

Rabu, 22 Juli 2026 | 13:06 WIB
header img
Enam Desa Mulai Kekeringan, BPBD Kabupaten Semarang Siapkan 150 Tangki Air Bersih. Foto: iNewsJoglosemar.id/Taufik Budi

 

SEMARANG, iNewsJoglosemar.id – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Semarang meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau 2026 yang diprediksi berlangsung selama lima hingga tujuh bulan dengan kondisi lebih panas dan lebih kering. Untuk mengantisipasi dampak kekeringan, BPBD menyiapkan 150 tangki atau setara 750.000 liter air bersih, sekaligus memperkuat mitigasi melalui inovasi digital SADEWA (Strategi Deteksi, Edukasi, dan Waspada Bencana).

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Semarang, Alexander Gunawan Tribiantoro, mengatakan seluruh kebutuhan pengadaan air bersih telah dianggarkan melalui APBD Kabupaten Semarang. Air akan dipasok dari sumber-sumber di wilayah Kabupaten Semarang dan didistribusikan sesuai kebutuhan masyarakat terdampak.

"Kami menyiapkan 150 tangki dengan kapasitas masing-masing 5.000 liter, sehingga total ada 750.000 liter air bersih yang disiapkan untuk menghadapi musim kemarau tahun ini," ujarnya.

BPBD mencatat sedikitnya enam desa mulai terdampak kekeringan, yakni Kalikayen, Kemitir, Bantal, Plumutan, Rembes, dan Wiru. Sementara sejumlah wilayah lain juga masuk pemantauan karena setiap tahun menjadi langganan kekeringan.

Alexander menjelaskan, kesiapsiagaan tersebut disusun berdasarkan pengalaman penanganan kekeringan beberapa tahun terakhir. Pada 2023, BPBD menyalurkan 230 tangki air bersih. Jumlah itu menurun pada 2024 dan 2025, sedangkan tahun ini disiapkan 150 tangki sebagai cadangan awal yang dapat ditambah sesuai perkembangan kondisi di lapangan.

Distribusi air bersih dilakukan berdasarkan jumlah warga terdampak. Setiap satu tangki berkapasitas 5.000 liter diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan sekitar 100 jiwa. Jika jumlah warga terdampak bertambah, BPBD akan menyesuaikan jumlah tangki yang dikirim.

"Kami tidak membatasi kuota untuk setiap desa. Selama masyarakat membutuhkan, kami akan membantu semaksimal mungkin," katanya.

Selain mengandalkan anggaran daerah, BPBD juga menggandeng berbagai pihak, seperti PDAM, Dinas Sosial, perusahaan melalui program tanggung jawab sosial (CSR), hingga organisasi kemasyarakatan untuk memperkuat distribusi bantuan air bersih selama musim kemarau.

Tidak hanya fokus pada penanganan darurat, BPBD Kabupaten Semarang juga memperkuat mitigasi melalui inovasi SADEWA atau Strategi Deteksi, Edukasi, dan Waspada Bencana berbasis Pentahelix dan digitalisasi menuju Desa Tangguh Bencana (Destana).

Menurut Alexander, SADEWA dikembangkan untuk membangun budaya sadar bencana yang dimulai dari tingkat desa. Masyarakat tidak lagi hanya menjadi objek saat bencana terjadi, tetapi didorong menjadi subjek yang mampu mengenali ancaman, melakukan langkah pencegahan, memahami jalur evakuasi, hingga melakukan penyelamatan mandiri sebelum bantuan datang.

"Melalui SADEWA, kesiapsiagaan tidak hanya dilakukan saat bencana terjadi, tetapi menjadi budaya dalam kehidupan sehari-hari masyarakat," ujarnya.

Salah satu keunggulan SADEWA adalah sistem informasi kebencanaan berbasis digital yang memungkinkan masyarakat melaporkan kejadian bencana secara real time melalui aplikasi. Sistem tersebut terintegrasi dengan data kebencanaan nasional, informasi cuaca, hingga penentuan lokasi kejadian sehingga mampu mempercepat waktu respons petugas.

Status penanganan setiap laporan juga dapat dipantau secara terbuka melalui indikator warna. Laporan yang belum ditangani ditandai warna merah, berubah menjadi kuning saat proses penanganan berlangsung, dan hijau setelah penanganan selesai.

Selain mempercepat respons saat terjadi bencana, SADEWA juga menjadi fondasi penguatan Desa Tangguh Bencana di Kabupaten Semarang. Hingga 2026, BPBD telah membentuk 116 Destana melalui kolaborasi pemerintah, akademisi, dunia usaha, media, relawan, dan masyarakat. Jumlah tersebut meningkat signifikan dibandingkan 2024 yang baru mencapai 24 desa.

BPBD juga memperkuat edukasi kebencanaan melalui program KKN tematik bersama perguruan tinggi, pembentukan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB), pelatihan relawan, simulasi evakuasi, hingga penyusunan rencana kontinjensi sesuai karakteristik ancaman di masing-masing wilayah.

Alexander mengajak masyarakat menjadikan kesiapsiagaan sebagai bagian dari budaya hidup. Menurutnya, bencana memang tidak dapat dicegah, tetapi risiko dan dampaknya dapat diminimalkan apabila masyarakat memahami potensi ancaman di lingkungannya, mengikuti edukasi kebencanaan, serta memanfaatkan sistem informasi yang telah disiapkan pemerintah.

"Dengan semangat SADEWA, kami ingin membangun masyarakat yang tangguh menghadapi bencana. Semakin siap masyarakat, semakin kecil risiko yang ditimbulkan ketika bencana terjadi," pungkasnya.

 

 

Editor : Enih Nurhaeni

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut