Kemarau Panjang, Ratusan Pelajar Grobogan Gelar Salat Istisqa Minta Hujan
GROBOGAN, iNewsJoglosemar.id – Kemarau panjang yang berlangsung hampir empat bulan membuat ratusan pelajar di Kabupaten Grobogan ikut merasakan dampaknya. Di tengah kondisi sumber air yang mulai mengering, para siswa Sekolah Integral Luqman Al Hakim Purwodadi menggelar salat istisqa untuk memohon kepada Allah SWT agar hujan segera turun.
Salat istisqa digelar di halaman sekolah pada Sabtu (5/9/2026). Ratusan siswa SD dan SMP Integral Luqman Al Hakim Purwodadi mengikuti rangkaian kegiatan dengan khidmat di bawah langit terbuka.
Sebelum salat istisqa, para siswa terlebih dahulu melaksanakan salat Duha berjamaah. Salat istisqa dipimpin Kepala SMP Integral Purwodadi, Sobirin, sedangkan khutbah disampaikan Ustaz Abdul Karim.
Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan istigasah, zikir, dan doa bersama. Para siswa memanjatkan doa agar hujan segera turun sehingga kekeringan yang telah berlangsung berbulan-bulan dapat berakhir.
Bagi Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Perwakilan Jawa Tengah, kegiatan tersebut menjadi ikhtiar spiritual sekaligus pengingat pentingnya kepedulian terhadap masyarakat yang terdampak kekeringan.
Kepala Perwakilan BMH Jawa Tengah, Abdul Karim, mengajak masyarakat, khususnya kaum muslimin, santri, dan keluarga besar jaringan Hidayatullah, untuk bersama-sama melaksanakan salat istisqa.
“Kami mengajak kaum muslimin, para santri, dan keluarga besar jaringan Hidayatullah untuk bersama-sama melaksanakan salat istisqa. Semoga Allah segera menurunkan hujan rahmat sehingga kekeringan, khususnya di Jawa Tengah, segera berakhir,” ujarnya.
Menurut Abdul Karim, kekeringan yang berlangsung berbulan-bulan membuat sebagian masyarakat kesulitan mendapatkan air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Karena itu, BMH tidak hanya mengajak masyarakat berdoa, tetapi juga melakukan aksi nyata melalui penyaluran air bersih ke sejumlah wilayah terdampak kekeringan, termasuk Kabupaten Grobogan.
“Ketika air sulit didapat, kita baru benar-benar merasakan betapa besar nikmat air yang selama ini Allah berikan. Karena itu, selain berdoa, BMH berikhtiar menghadirkan air bersih untuk masyarakat yang membutuhkan,” katanya.
Hingga saat ini, BMH Perwakilan Jawa Tengah telah menyalurkan sekitar 20 tangki air bersih dari target 200 tangki yang akan didistribusikan ke berbagai daerah terdampak kekeringan di Jawa Tengah.
Salah seorang siswa, Afif, mengatakan dirinya bersama teman-temannya mengikuti salat istisqa sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat yang mengalami kesulitan akibat kekeringan.
“Kami berdoa agar hujan segera turun. Semoga masyarakat yang terdampak kekeringan bisa segera mendapatkan air yang cukup,” tuturnya.
Kepala SMP Integral Purwodadi, Sobirin, menjelaskan bahwa salat istisqa tersebut merupakan bagian dari gerakan jaringan sekolah Hidayatullah dalam merespons kondisi kekeringan.
“Semua jaringan sekolah Hidayatullah melaksanakan salat istisqa sebagai respon atas anjuran dari DPP Hidayatullah. Ini karena bencana kekeringan sudah berlangsung hampir empat bulan,” jelasnya.
Menurut Sobirin, kegiatan tersebut sekaligus menjadi sarana pendidikan karakter bagi para siswa. Mereka diajak memahami bahwa persoalan kekeringan tidak cukup hanya dihadapi dengan doa, tetapi juga membutuhkan kepedulian dan aksi nyata.
“Selain salat istisqa, kami juga melakukan dropping air bersih. Kepada anak didik kami tanamkan bahwa dalam menghadapi kondisi seperti ini, kita harus selalu bergantung dan memohon pertolongan kepada Allah, sekaligus berikhtiar membantu sesama,” pungkasnya.
Melalui sinergi dengan Sekolah Integral Hidayatullah dan Yayasan Amanah, BMH berharap gerakan kepedulian terhadap warga terdampak kekeringan dapat terus meluas.
Di tengah kemarau panjang, salat istisqa menjadi ikhtiar spiritual para pelajar Grobogan untuk memohon turunnya hujan. Sementara penyaluran air bersih menjadi ikhtiar nyata agar masyarakat tetap dapat memenuhi kebutuhan dasar di tengah krisis air.
Doa dipanjatkan, air bersih disalurkan, dan kepedulian terus digerakkan. Bagi warga yang tengah menunggu hujan, satu tangki air bukan sekadar bantuan, tetapi juga menjadi harapan untuk bertahan menghadapi kemarau panjang.
Editor: Enih Nurhaeni