get app
inews
Aa Text
Read Next : Ambarawa Dipadati Ribuan Warga, 85 Kontingen Unjuk Kreativitas di Pawai Kemerdekaan

Seribu Ingkung Meriahkan Haul Ki Ageng Wonokusumo, Gunungan Hasil Bumi Ludes Diperebutkan

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 07:25 WIB
header img
Seribu Ingkung Meriahkan Haul Ki Ageng Wonokusumo, Gunungan Hasil Bumi Ludes Diperebutkan. (Foto: iNewsJoglosemar.id/Taufik Budi).

SEMARANG, iNewsJoglosemar.idTradisi Haul Ki Ageng Wonokusumo kembali digelar meriah di Desa Cukilan, Kecamatan Suruh, Kabupaten Semarang, Jumat (31/7/2026) sore. Ribuan warga memadati kawasan makam tokoh pendiri desa tersebut untuk mengikuti doa bersama, kenduri, ziarah, hingga berebut gunungan hasil bumi yang menjadi salah satu tradisi paling ditunggu masyarakat.

Salah satu ciri khas haul ini adalah tradisi setiap rumah membawa satu ingkung ayam sebagai bentuk syukur dan penghormatan kepada para leluhur. Setelah didoakan bersama, ingkung kemudian dibagikan kepada masyarakat yang hadir. Jumlahnya mencapai sekitar seribu ingkung.

Tak hanya seribu ingkung ayam, panitia juga menyiapkan tiga gunungan hasil bumi yang berisi aneka sayuran, buah-buahan, cabai, hingga berbagai bahan pangan hasil panen warga. Ketiga gunungan itu menjadi rebutan ribuan pengunjung. Bahkan, karena antusiasme warga yang begitu tinggi, gunungan hasil bumi sudah ludes diperebutkan sebelum doa bersama selesai dipanjatkan.

Dalam rangkaian haul juga digelar ritual pergantian lawon atau kain penutup makam Ki Ageng Wonokusumo. Prosesi tersebut menjadi bagian dari tradisi yang terus dijaga masyarakat sebagai bentuk penghormatan kepada tokoh yang diyakini sebagai pendiri Desa Cukilan.

Camat Suruh, Vega Lazuardi, mengatakan Haul Ki Ageng Wonokusumo merupakan agenda tahunan yang terus dipertahankan masyarakat sebagai bentuk penghormatan kepada para pendahulu sekaligus upaya melestarikan nilai kebersamaan.

"Ini merupakan tradisi rutin masyarakat untuk menghargai dan mengenang jasa-jasa para pendahulu, khususnya Ki Ageng Wonokusumo yang juga merupakan pendiri Desa Cukilan. Beliau meletakkan pondasi agar masyarakat hidup rukun dan guyub sampai sekarang," ujarnya.

Menurut Vega, nilai-nilai tersebut masih terus diuri-uri masyarakat sehingga semangat gotong royong tetap terpelihara.

Keunikan lainnya, setiap rumah di Desa Cukilan membawa satu ingkung ayam.

"Setiap rumah membawa ingkung dan nanti dibagi-bagikan. Hari ini bisa dibilang hari pembantaian ayam nasional tingkat Cukilan, jadi kambing dan sapi aman tidak dipotong," katanya berseloroh yang langsung disambut tawa warga.

Vega menambahkan, Pemerintah Kabupaten Semarang mengapresiasi masyarakat yang masih menjaga tradisi dan budaya lokal di tengah mulai memudarnya nilai kebersamaan di sejumlah daerah.

Sebagai bentuk dukungan, Pemkab Semarang melalui persetujuan Bupati Semarang Ngesti Nugraha bersama DPRD telah mengalokasikan dana hibah untuk pemugaran makam Ki Ageng Wonokusumo.

Tak hanya itu, Pemerintah Kecamatan Suruh juga telah mengusulkan Haul Ki Ageng Wonokusumo masuk dalam kalender event wisata Kabupaten Semarang.

"Kami sudah memasukkan beberapa agenda rutin desa di Kecamatan Suruh ke Dinas Pariwisata agar menjadi alternatif wisata budaya dan bisa menjadi contoh pelestarian tradisi," katanya.

Haul Ki Ageng Wonokusumo tak hanya menarik warga Desa Cukilan. Pengunjung juga datang dari berbagai daerah di Kabupaten Semarang hingga luar kecamatan untuk berziarah dan mengikuti rangkaian tradisi.

Salah satunya Cici Anggoro yang datang bersama dua rekannya dari Kecamatan Pabelan. Mereka mengaku hampir setiap tahun hadir karena percaya tradisi tersebut membawa berkah.

"Alhamdulillah dapat sawi putih sama cabai. Sebenarnya ingin dapat belimbing, tapi tinggi sekali jadi tidak kebagian. Yang unik itu ada sekitar seribu ingkung, lalu satu kaki ayam dari setiap ingkung disajikan untuk tamu dan selalu cukup. Selain itu sumber air di sini juga tidak pernah habis meski diambil banyak orang," tuturnya.

Pengunjung lainnya, Biyati, mengaku bersyukur bisa mengikuti ziarah dan mendapatkan nasi kuning dari puncak gunungan.

"Saya senang sekali setiap tahun ikut. Terima kasih kepada Desa Cukilan karena sudah memfasilitasi kami berziarah ke makam Ki Ageng Wonokusumo. Alhamdulillah saya mendapatkan nasi kuning paling atas. Semoga membawa rezeki dan keberkahan," katanya.

Hal senada disampaikan Dwi Aena. Menurutnya, kemeriahan haul selalu menjadi daya tarik tersendiri.

"Setiap tahun acaranya selalu meriah dan unik. Alhamdulillah saya dapat nanas, nanti dibuat rujak," ujarnya.

Tradisi Haul Ki Ageng Wonokusumo tak hanya menjadi agenda spiritual masyarakat, tetapi juga berkembang sebagai atraksi budaya yang memperkuat identitas Desa Cukilan. Dengan keunikan seribu ingkung, gunungan hasil bumi, ritual pergantian lawon makam, serta tingginya antusiasme masyarakat dari berbagai daerah, tradisi ini diharapkan menjadi salah satu agenda wisata budaya unggulan di Kabupaten Semarang.

 

Editor : Enih Nurhaeni

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut