Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Aksi Jambret Gagal di Kaliwungu! 4 Pelaku Anak di Bawah Umur, Motor Dibakar Massa
Advertisement . Scroll to see content

Dulu Dikejar Rob, Warga Tambak Lorok Kini Siapkan Mangrove sebagai Benteng Garda Kedua

Selasa, 22 September 2026 | 14:55 WIB
  • author Taufik Budi
Dulu Dikejar Rob, Warga Tambak Lorok Kini Siapkan Mangrove sebagai Benteng Garda Kedua
Dulu Dikejar Rob, Warga Tambak Lorok Kini Siapkan Mangrove sebagai Benteng Garda Kedua. Foto: iNewsJoglosemar.id/Taufik Budi

 

SEMARANG, iNewsJoglosemar.id - Dulu, membuka pintu belakang rumah di Tambak Lorok berarti berhadapan langsung dengan laut. Gelombang bisa terlihat dari permukiman. Air pasang merayap ke jalan kampung, masuk ke rumah, mengganggu aktivitas warga, bahkan datang ketika sebagian warga sedang terlelap.

Bagi Dewi Setiyorini (41) kondisi itu bukan cerita dari masa lalu yang ia dengar dari orang lain. Perempuan yang sejak kecil tinggal di Tambak Lorok itu mengalaminya sendiri.

“Kalau tengah malam robnya datang, barang-barang itu langsung kena air rob. Pada jatuh,” tutur Dewi.

Rob bahkan pernah menjadi bagian dari keseharian warga. Jalan kampung nyaris tidak pernah benar-benar kering. Air laut yang berulang kali masuk membuat permukaan jalan hingga berlumut. Di rumah Dewi, aktivitas memasak dan pekerjaan rumah tangga harus dilakukan dengan kaki yang sudah terbiasa terkena air rob.

Kondisi itu berlangsung bertahun-tahun. Kajian Universitas Diponegoro (Undip) menyebut Kampung Tambak Lorok berada di kawasan RW 11 hingga RW 16 Kelurahan Tanjung Mas. Sementara khusus RW 15, kawasan yang kini menjadi salah satu pusat program pemberdayaan, dihuni sekitar 2.800 warga.

Masalahnya bukan hanya rob. Tambak Lorok juga menghadapi abrasi dan penurunan muka tanah. Penelitian Undip menyebut rob dan penurunan muka tanah menjadi bagian dari kerentanan kawasan permukiman pesisir tersebut.

Lalu datang perubahan besar. Pemerintah membangun infrastruktur pengendali rob berupa tanggul pelindung atau sheet pile. Proyek pengendalian banjir dan rob di Tambak Lorok memiliki tanggul sepanjang 3,6 kilometer, dilengkapi dua kolam retensi dan tiga rumah pompa dengan kapasitas masing-masing 500 liter per detik. Infrastruktur tersebut dirancang untuk menahan rob setidaknya 30 tahun.

Bagi warga, kehadiran sheet pile mengubah kehidupan sehari-hari. Slamet Riyanto, Ketua RW 15 Tambak Lorok, mengingat bagaimana kawasan itu dahulu nyaris tanpa penghalang dari laut.

“Sebelum 2023, tembok ini belum terbangun. Yang di depan saya itu laut lepas. Kemudian ketika warga buka pintu belakang langsung melihat gelombang laut,” kata Slamet, Kamis (17/9/2026).

Kini air laut tidak lagi langsung menerjang permukiman seperti sebelumnya. Dewi pun merasakan perubahan yang sama.

“Kalau kondisi sekarang tuh kayak kita menemukan surga dunia ibaratnya. Kita sudah aman dari rob itu aja sudah bersyukur,” ujar ibu dua anak itu.

Tetapi warga tidak ingin berhenti pada sheet pile.

Justru ketika kampung mulai aman, muncul kesadaran baru. Bangunan beton bukan satu-satunya pertahanan yang harus disiapkan. Sheet pile memang dirancang memiliki umur layanan panjang, tetapi kawasan pesisir tetap menghadapi gelombang, abrasi dan penurunan tanah. Karena itu, warga mulai menyiapkan perlindungan alami di belakang perlindungan buatan tersebut.

Mangrove diposisikan sebagai garda kedua.

Etik Prastiani, warga yang terlibat dalam KWT Cantik Bahari sekaligus kegiatan bank sampah, mengatakan upaya menanam mangrove di kawasan itu bahkan tidak langsung berhasil.

Percobaan pertama dilakukan di tengah laut. Warga membuat penyangga dari paralon dan botol air mineral agar bibit bisa bertahan. Namun gelombang besar menghancurkannya.

Percobaan kedua dilakukan lebih menepi. Hasilnya sama. Tanaman kembali terbawa ombak.

Kini warga mencoba lokasi yang berbeda. Mangrove ditanam di balik tembok yang diharapkan bisa tumbuh hingga dewasa dan menjadi lapisan perlindungan tambahan.

“Kalau tembok itu hancur, tanaman yang sudah dewasa bisa memberikan keamanan bagi warga RW 15 sendiri dari gelombang,” kata Etik.

Harapannya sederhana, jika suatu hari kemampuan struktur buatan berkurang, sudah ada vegetasi yang tumbuh di belakangnya. Bukan menggantikan sheet pile, melainkan melengkapinya.

Konsep itulah yang membuat penanaman 1.000 mangrove oleh PLN Indonesia Power UBP Semarang memiliki arti lebih luas bagi warga. Eva Wirabuana, Manajer Administrasi PLN Indonesia Power UBP Semarang, mengatakan penanaman tersebut merupakan bagian dari program Green Movement.

“Hari ini sekitar ada 1.000 pohon mangrove kita tanam bersama. Dari sekian tahap yang sudah kita lakukan, kita menanam pohon mangrove di sini sudah sekitar 15.000 pohon,” ujar Eva.

Penanaman sekitar 15.000 mangrove oleh PLN Indonesia Power dilakukan sejak 2022 di sejumlah lokasi di wilayah Semarang, termasuk kawasan Tambak Lorok.

Angka tersebut masih menjadi bagian dari ekosistem yang lebih besar. Nindia Dwi Fosa, pendamping RW 15 dari Lembaga Usaha Buruh Tani dan Nelayan Keuskupan Agung Semarang (LPUBTN KAS), menyebut jumlah tanaman yang telah dikembangkan dalam keseluruhan ekosistem kawasan kini mencapai sekitar 43.000 pohon.

Targetnya tidak berhenti di angka tersebut. Kawasan itu diarahkan untuk mencapai 50.000 pohon.

“Targetnya sampai dengan 50.000 karena nanti akan dibangun Mangrove Learning Center di sini dan akan dikembangkan eco-eduwisata,” kata Nindia.

Jadi, cerita Tambak Lorok kini bukan hanya tentang berapa banyak bibit mangrove yang ditanam. Ada upaya membangun ekosistem yang membuat kawasan pesisir lebih siap menghadapi perubahan lingkungan.

Nindia mengatakan pendampingan masyarakat sudah dilakukan sejak 2018. Pendampingan tidak hanya menyentuh lingkungan, tetapi juga sosial, ekonomi dan budaya. Di kawasan RW 15 kini dikembangkan sekitar 70 jenis tanaman, mulai sayuran, tanaman obat keluarga hingga tanaman keras.

Di sisi lain, masyarakat juga mulai mengolah potensi laut menjadi sumber ekonomi baru.

Salah satunya melalui KWT Cantik Bahari yang diketuai Sri Wahyuni. Kelompok perempuan ini menjadi bagian dari ekosistem INTAN BAHARI, program PLN Indonesia Power UBP Semarang yang mengintegrasikan pertanian, peternakan dan olahan ikan untuk memperkuat ketahanan pangan dan lingkungan.

Di lahan sekitar 500 meter persegi, KWT Cantik Bahari mengembangkan greenhouse dan ruang terbuka hijau. Aktivitas warga tidak berhenti pada menanam. Ada pula pengolahan hasil, pembelajaran dan pengembangan kegiatan produktif.

Potensi laut juga masuk ke dalam ekosistem tersebut melalui KERIS PRABU atau Kombinasi Energi Hijau untuk PengeRIng dan Pengasapan Ikan menuju Produk Bernilai dan Unggul.

Mesin pengering sekaligus pengasap ikan itu memanfaatkan energi angin dan panel surya. Teknologi tersebut membuat hasil tangkapan nelayan bisa diolah menjadi produk dengan nilai jual lebih tinggi.

Belia Farina (34), salah satu perajin ikan asap, merasakan langsung perubahan itu. Sebelumnya ia mengasap ikan secara manual di rumah. Kini mesin tersebut mampu menampung sekitar 50 kilogram ikan dalam sekali proses.

Pengasapan membutuhkan waktu sekitar delapan hingga 10 jam. Ikan harus dibolak-balik setiap setengah jam agar matang merata.

“Pengasapannya lebih higienis. Asapnya tidak menyebar ke mana-mana. Steril, tidak ada lalat,” kata Belia.

Ikan sembilang, lele dan pari menjadi beberapa jenis yang diolah. Harganya pun bervariasi. Ikan lele sekitar Rp45.000 per kilogram, pari sekitar Rp70 ribuan, sementara jenis tertentu dapat mencapai Rp85.000 per kilogram.

Di titik inilah wajah Tambak Lorok mulai berubah. Perlindungan pesisir tidak hanya dibangun dari beton. Di satu sisi berdiri sheet pile sepanjang 3,6 kilometer. Di sisi lain, warga menanam mangrove. Di belakangnya tumbuh greenhouse, tanaman pangan dan kegiatan pengolahan ikan.

Slamet melihat keberlanjutan menjadi hal penting. Menurutnya, keterlibatan PLN Indonesia Power bukan hanya menyediakan fasilitas, tetapi juga mendorong kelompok masyarakat agar kelak mampu berjalan sendiri.

“Indonesia Power mendidik Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) ini untuk bisa berdikari. Setelah itu ditinggal, berarti kita sudah mandiri semuanya,” ujar Slamet.

Warga juga mulai menata kawasan agar tidak hanya menjadi tempat tinggal, tetapi memiliki fungsi edukasi dan wisata. Taman ditata, tanaman tahan air laut ditanam, mural dibuat, dan kawasan hijau dikembangkan.

Ke depan, Mangrove Learning Center akan menjadi bagian dari konsep eco-eduwisata. Rencananya terdapat area pembibitan, ruang pendidikan, perpustakaan hingga ruang bagi UMKM lokal.

Di baliknya ada kampung yang pernah berhadapan langsung dengan laut, warga yang pernah tidur sambil waswas menunggu rob, dan pengalaman berkali-kali gagal menanam mangrove karena dihantam gelombang. Mereka adalah komunitas yang kini mencoba membangun pertahanan dari dua arah yakni infrastruktur dan alam.

Sheet pile menjadi benteng yang berdiri hari ini. Mangrove dipersiapkan sebagai garda kedua untuk hari esok.

Dan bagi warga seperti Dewi, perubahan itu sudah terasa sekarang. Tidak lagi terbangun tengah malam karena air masuk rumah. Tidak lagi setiap hari beraktivitas dengan kaki terendam banjir rob.

“Sudah aman dari rob itu saja sudah bersyukur,” katanya.

 

 

Editor: Enih Nurhaeni

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut