get app
inews
Aa Text
Read Next : Kabur Jelang Akad Nikah, Calon Pengantin Wanita Asal Pati Ditemukan Polisi di Jepara

200 Korban PHK di Jepara Belajar Digital Marketing hingga AI, Disiapkan Jadi Lebih Mandiri

Rabu, 12 Agustus 2026 | 21:18 WIB
header img
200 Peserta di Jepara Belajar Digital Marketing hingga AI, Disiapkan Jadi Lebih Mandiri. Foto: Ist

 

JEPARA, iNewsJoglosemar.id – Lebih dari 200 korban PHK (pemutusan hubungan kerja) mengikuti pelatihan pemberdayaan ekonomi di Jepara, Jawa Tengah, Rabu (12/8/2026). Mereka tidak hanya mendapat materi tentang pengembangan usaha, tetapi juga dibekali kemampuan digital marketing hingga memanfaatkan kecerdasan artifisial (AI) untuk membuat konten.

Pelatihan tersebut menjadi bagian dari Program Pemberdayaan Ekonomi dan Kemandirian (PEKA) yang digelar BPJS Ketenagakerjaan. Program ini diarahkan untuk membantu penerima manfaat dan keluarganya kembali produktif sekaligus membuka peluang membangun kemandirian ekonomi secara berkelanjutan.

Beragam materi diberikan kepada peserta, mulai dari edukasi dan sosialisasi Program Bukan Penerima Upah (BPU) BPJS Ketenagakerjaan, digital marketing, hingga pelatihan bertajuk “Bangkit Bersama AI: Dari Ide Jadi Konten Digital Instan”.

Melalui pelatihan tersebut, peserta diharapkan memiliki bekal praktis untuk mengelola keuangan, mengembangkan usaha, memperluas pasar, serta memanfaatkan teknologi untuk mendukung kegiatan ekonomi.

Peserta juga diperkenalkan dengan Aplikasi SIAP KERJA milik Kementerian Ketenagakerjaan. Layanan digital tersebut dapat digunakan untuk mengakses informasi kesempatan kerja, pelatihan dan peningkatan kompetensi, hingga layanan pendukung pengembangan karier dan usaha.

Kehadiran SIAP KERJA diharapkan menjadi jembatan bagi peserta untuk melanjutkan pengembangan kapasitas setelah mengikuti program PEKA. Dengan begitu, peluang untuk kembali memasuki dunia kerja maupun mengembangkan sumber penghasilan secara mandiri semakin terbuka.

Kepala Kantor Wilayah BPJS Ketenagakerjaan Jawa Tengah dan DIY Cahyaning Indriasari mengatakan, pembayaran manfaat jaminan sosial merupakan bagian penting dari perlindungan peserta. Namun, setelah manfaat dibayarkan, masih terdapat ruang untuk membantu penerima manfaat dan keluarganya kembali produktif.

“Kami ingin perlindungan yang dirasakan peserta tidak berhenti ketika manfaat sudah dibayarkan. Melalui PEKA, kami mencoba membuka jalan agar penerima manfaat dapat bertemu dengan berbagai peluang pelatihan, peningkatan kompetensi maupun pemberdayaan ekonomi yang dimiliki para mitra. BPJS Ketenagakerjaan berperan sebagai penghubung, sementara keberhasilannya membutuhkan kolaborasi banyak pihak,” ujar Cahyaning.

Menurut Cahyaning, pemanfaatan Aplikasi SIAP KERJA juga dapat menjadi sarana bagi peserta untuk meneruskan proses pengembangan kompetensi dan kemandirian setelah kegiatan PEKA.

Akses terhadap berbagai layanan ketenagakerjaan tersebut diharapkan memberikan lebih banyak pilihan bagi peserta, baik untuk kembali bekerja maupun membangun sumber penghasilan secara mandiri.

Sementara itu, Kepala Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Jepara Zamroni Lestiaza menilai peningkatan keterampilan semakin penting di tengah perubahan dunia kerja dan pola usaha yang semakin terdigitalisasi.

Menurutnya, kemampuan pemasaran digital hingga pemanfaatan kecerdasan artifisial dapat menjadi bekal praktis bagi peserta untuk mengembangkan sumber penghasilan maupun usaha secara lebih adaptif.

“Kami berterima kasih kepada BPJS Ketenagakerjaan, ini merupakan dukungan yang sangat berarti buat kami, ini kolaborasi yang baik. Jepara memiliki masyarakat yang produktif dan kultur kewirausahaan yang kuat. Ketika kemampuan tersebut dipertemukan dengan pemasaran digital dan teknologi, kami berharap peluang untuk tumbuh dan mandiri akan semakin besar,” kata Zamroni.

Keberhasilan PEKA Tak Cukup dari Jumlah Peserta

Pemerhati jaminan sosial dari BPJS Watch, Timbul Siregar, memandang program PEKA sebagai gagasan positif sepanjang memberikan dampak nyata bagi penerima manfaat.

Menurutnya, keberhasilan program tidak cukup diukur dari jumlah peserta yang mengikuti pelatihan. Dampak setelah program juga harus menjadi perhatian.

“PEKA jangan berhenti pada seremoni atau sekadar pelatihan. Ukuran keberhasilannya adalah ketika peserta benar-benar mengalami perubahan setelah mengikuti program, apakah keterampilannya meningkat, usahanya tumbuh, penghasilannya bertambah, dan keluarganya semakin mandiri. Itu yang harus terus dikawal,” tegas Timbul.

PEKA merupakan program fasilitasi pasca pembayaran manfaat yang bertujuan menghubungkan penerima manfaat BPJS Ketenagakerjaan dengan berbagai program pemberdayaan yang dimiliki instansi pemerintah maupun mitra potensial.

Dalam program ini, BPJS Ketenagakerjaan tidak menjadi pemberi manfaat baru. Perannya adalah sebagai penghubung antara penerima manfaat dengan ekosistem pemberdayaan yang melibatkan kementerian/lembaga, pemerintah daerah, dunia usaha, lembaga pelatihan hingga komunitas.

Konsep PEKA dikembangkan melalui pendekatan 3P, yakni Pelatihan, Produktif, dan Profit.

Tahap pelatihan diarahkan untuk meningkatkan kompetensi dan kesiapan peserta. Tahap berikutnya mendorong peserta masuk ke aktivitas ekonomi yang menghasilkan pendapatan, hingga pada akhirnya diharapkan mampu mencapai kemandirian ekonomi dan kembali terlindungi dalam program jaminan sosial ketenagakerjaan.

Program tersebut juga menempatkan asesmen, keberhasilan matching dengan program pemberdayaan, serta penyelesaian program sebagai bagian dari indikator keberhasilan.

Melalui kolaborasi dengan pemerintah, dunia usaha, lembaga pelatihan dan berbagai mitra pemberdayaan, BPJS Ketenagakerjaan berharap PEKA dapat menjadi jembatan bagi penerima manfaat untuk bangkit, kembali produktif, memperoleh penghasilan, dan membangun kemandirian ekonomi keluarga.

 

 

Editor : Enih Nurhaeni

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut