Pembelajaran berbasis praktik juga bergema di laboratorium Program Studi S-1 Farmasi. Di ruangan berbeda, mahasiswa berhadapan dengan alat canggih bernama Thin Layer Chromatography (TLC)—perangkat penting untuk memisahkan dan mengidentifikasi senyawa kimia.
Dosen S-1 Farmasi Universitas Telogorejo, apt. Ranatri Puruhita, M.Farm, menjelaskan bahwa TLC menjadi alat krusial dalam proses awal pengembangan obat berbasis bahan alam.
“Bahan alam itu mengandung banyak senyawa. TLC membantu mahasiswa memastikan senyawa target—misalnya flavonoid—benar-benar ada, sekaligus mengetahui kadarnya,” jelasnya.
Dengan nilai investasi sekitar Rp1,8 miliar, alat TLC tergolong langka dan belum banyak dimiliki kampus farmasi, khususnya di Jawa Tengah. Keberadaannya membuka ruang pembelajaran yang lebih presisi, tidak lagi bergantung pada metode identifikasi sederhana yang minim akurasi.
Mahasiswa farmasi mulai memanfaatkan alat ini sejak semester tiga, baik untuk praktikum, penelitian skripsi, hingga Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). Dari TLC, mahasiswa belajar mengekstraksi bahan alam, mengidentifikasi senyawa aktif, lalu mengembangkannya menjadi sediaan farmasi seperti krim, salep, hingga produk kosmetik.
“Semua produk farmasi itu berawal dari identifikasi senyawa. Tanpa dasar itu, kita tidak bisa melangkah lebih jauh,” ujar Ranatri.
Editor : Enih Nurhaeni
Artikel Terkait
