SEMARANG, iNewsJoglosemar.id — Gangguan gigi pada anak masih kerap dianggap sepele, padahal jika dibiarkan dapat berujung pada infeksi serius. Dokter gigi spesialis kedokteran gigi anak Kidsmile, drg. Andya Karisaputri, Sp.KGA, menjelaskan bahwa gangguan gigi yang paling sering ditemukan pada anak-anak adalah gigi berlubang yang dibiarkan terlalu lama.
“Kasus yang paling banyak kami temui adalah gigi berlubang yang tidak segera ditangani, hingga akhirnya menimbulkan nyeri, bengkak, dan infeksi abses,” kata drg. Andya, Sabtu (10/1/2026).
Menurutnya, lubang kecil pada gigi anak sering kali tidak menimbulkan keluhan di awal. Namun jika dibiarkan, infeksi bisa menyebar hingga menyebabkan pembengkakan pada gusi dan wajah.
“Kalau sudah bengkak, itu artinya infeksinya sudah cukup berat. Padahal semua itu bisa dicegah sejak awal,” ujarnya.
Hal inilah yang menjadi perhatian utama dalam kegiatan bakti sosial Kidsmile Family Dental bertajuk “The Smile Checkpoint”, yang digelar dalam rangka anniversary ke-7 Kidsmile dengan tema “The 7th Smile Journey”.
Kegiatan edukasi, pemeriksaan, dan pelayanan gigi gratis tersebut dilaksanakan di Kidsmile Family Dental, Jalan Sompok Baru No. 73, Semarang. Peserta berasal dari Panti Asuhan Kristen Tanah Putih dan Panti Asuhan Christopherus Semarang, dengan total sekitar 30 anak berusia 6 hingga 23 tahun.
Dalam kegiatan tersebut, selain pemeriksaan gigi menyeluruh, anak-anak juga mendapatkan edukasi kebersihan mulut serta aplikasi fluoride sebagai langkah pencegahan karies gigi.
drg. Andya menekankan bahwa perawatan gigi anak sebenarnya sederhana dan tidak membutuhkan biaya mahal. Kuncinya ada pada kebiasaan yang dilakukan secara konsisten.
“Sikat gigi dua kali sehari, pagi dan malam, itu sudah sangat cukup. Tidak perlu sikat gigi mahal, pasta gigi apa pun asalkan mengandung fluoride,” jelasnya.
Ia juga menyoroti kesalahan umum yang sering terjadi, yakni anak sudah sering menyikat gigi namun caranya tidak tepat.
“Ada orang tua bilang anaknya sikat gigi sampai empat kali sehari tapi tetap bolong. Itu berarti teknik menyikatnya yang salah,” ungkapnya.
Terkait konsumsi makanan manis seperti cokelat dan permen, drg. Andya menilai larangan total justru tidak realistis bagi anak-anak.
“Tidak perlu dilarang keras. Anak-anak tetap boleh makan manis, tapi setelah itu harus berkumur dan sikat gigi dengan benar,” katanya.
Hasil pemeriksaan dalam bakti sosial tersebut menunjukkan kondisi gigi anak-anak panti asuhan relatif baik. Hal ini, menurut drg. Andya, tidak lepas dari peran pendamping panti yang membiasakan anak menjaga kebersihan gigi.
“Saya cukup kaget dan senang. Banyak gigi anak-anak yang kondisinya bagus. Ini menandakan ada pembiasaan yang baik dari pihak panti,” ujarnya.
Pendamping Panti Asuhan Christopherus, Maria Deborah, menyambut baik kegiatan tersebut karena memberikan edukasi langsung dari tenaga medis.
“Anak-anak jadi lebih paham cara merawat gigi dan bisa langsung diperiksa jika ada yang bermasalah. Ini sangat membantu kami,” katanya.
Sementara itu, Wuri Handayanti, pendamping dari Panti Asuhan Kristen Tanah Putih, menilai kegiatan ini memberi pengalaman baru bagi anak-anak.
“Kami baru tahu ada vitamin gigi seperti fluoride. Anak-anak senang, mendapat arahan, dan perawatan langsung. Senyum mereka jadi lebih percaya diri,” tuturnya.
Editor : Enih Nurhaeni
Artikel Terkait
