Ketua Tim Peneliti IndoQCT, Dr. Choirul Anam, M.Si., F.Med., menjelaskan bahwa IndoQCT v26d merupakan versi keempat dari rangkaian pengembangan sebelumnya. Ia menyebut versi terbaru ini dilengkapi fitur pengukuran detectability index dengan model NPW dan NPWE, metode human observer AFC, ROC, dan LROC, serta sistem penyimpanan data DICOM ke dalam database.
Hingga saat ini, pengembangan IndoQCT telah menghasilkan sekitar 95 publikasi ilmiah yang dimuat di jurnal internasional bereputasi di bidang fisika medis. IndoQCT juga telah digunakan di lebih dari 90 negara, menunjukkan pengakuan internasional terhadap inovasi riset Undip.
Pengembangan IndoQCT ditujukan untuk menjawab tantangan kendali mutu CT-scan yang selama ini masih banyak dilakukan secara manual, memerlukan waktu lama, dan rentan terhadap bias subjektivitas. Dengan sistem otomatis dan terstandar, proses evaluasi citra dapat dilakukan lebih efisien.
Dari sisi pengembangan, IndoQCT awalnya dikembangkan menggunakan Matlab sejak 2018 dan kemudian diredevelop menggunakan bahasa pemrograman Python pada 2021. Langkah ini dilakukan untuk memudahkan distribusi, pengembangan lanjutan, serta proses komersialisasi.
Keberhasilan pengembangan IndoQCT juga didukung kolaborasi Undip dengan PT Quarta Medika Indonesia (QMI). Inovasi ini menegaskan peran Undip dalam menghasilkan teknologi medis yang bermanfaat langsung bagi masyarakat luas.
Editor : Enih Nurhaeni
Artikel Terkait
