Akses Penyadap
Ia menjelaskan bahwa produksi getah pinus di wilayah tersebut sangat dipengaruhi oleh kondisi cuaca serta aktivitas para penyadap. “Jika hujan, penyadap memilih tidak melakukan kegiatan menyadap,” kata dia.
Menurutnya kondisi tersebut menyebabkan produksi getah pinus mengalami penurunan pada periode tertentu. Namun ketika musim kemarau tiba, aktivitas penyadapan biasanya kembali meningkat sehingga produksi getah juga mengalami kenaikan.
“Tetapi begitu memasuki musim kemarau, akan naik,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa terdapat ratusan penyadap pinus yang bekerja di kawasan hutan tersebut. Setiap penyadap umumnya mengelola sekitar 300 hingga 500 pohon pinus yang menjadi sumber produksi getah.
“Penghasilan penyadap diperoleh dengan hanya bekerja menyadap getah pinus tiga hari sekali,” ujarnya.
Para penyadap juga berpeluang memperoleh insentif tambahan apabila hasil produksi getah melebihi target yang ditentukan. Jalan rabat beton tersebut diharapkan semakin memperlancar aktivitas penyadap yang setiap hari keluar masuk kawasan hutan.
Selain berdampak pada aktivitas penyadapan, infrastruktur jalan tersebut juga membuka peluang pengembangan potensi ekonomi lain di kawasan hutan pinus. Salah satunya adalah wisata alam yang memanfaatkan keindahan hutan pinus Somagede.
Kawasan hutan pinus dengan udara pegunungan yang sejuk dan panorama perbukitan mulai dikenal sebagai destinasi wisata alam oleh masyarakat sekitar. Akses jalan yang lebih baik, maka potensi kunjungan wisatawan ke kawasan diperkirakan dapat meningkat dan memberi dampak ekonomi tambahan bagi warga desa.
Editor : Enih Nurhaeni
Artikel Terkait
