KEBUMEN, iNewsJoglosemar.id – Penyadap getah pinus di Desa Somagede, Kecamatan Sempor, Kabupaten Kebumen mulai merasakan manfaat pembangunan jalan rabat beton sepanjang 1,5 kilometer melalui program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-127 Kodim 0709/Kebumen. Jalan yang sebelumnya berupa tanah dan sulit dilalui kini membuka akses menuju kawasan hutan pinus tempat warga mencari penghidupan sekaligus menuju lokasi wisata alam.
Pembangunan jalan tersebut menjadi salah satu sasaran fisik utama dalam program TMMD yang dilaksanakan TNI AD bersama pemerintah daerah dan masyarakat. Infrastruktur ini diharapkan mampu mempercepat mobilitas warga, terutama bagi para penyadap getah pinus yang setiap hari beraktivitas di kawasan hutan.
Salah seorang penyadap getah pinus di Desa Somagede, Muslimin (42), mengaku sangat terbantu dengan pembangunan jalan rabat beton tersebut. Ia bersama lebih dari 200 penyadap pinus selama ini mengeluhkan akses menuju lokasi penyadapan cukup sulit karena jalannya masih berupa tanah dan licin ketika musim hujan.
“Sebelumnya saya dan para penyadap lainnya harus berjalan kaki cukup jauh sambil membawa peralatan penyadapan dan wadah penampung getah,” katanya berbahasa Jawa dengan logat Kebumen yang medok, Minggu (15/3/2026).
Jalan yang rusak sering membuat perjalanan menjadi lebih lama dan melelahkan, terutama saat harus mengangkut hasil sadapan dari dalam kawasan hutan. Setelah dibangun rabat beton, aktivitas menuju lokasi penyadapan kini menjadi lebih mudah dan aman.
“Semoga jalannya awet tidak mudah rusak, agar manfaatnya bisa dirasakan dalam jangka panjang oleh masyarakat desa,” lanjut bapak dua anak tersebut.
Muslimin juga menjelaskan bahwa pekerjaan sebagai penyadap getah pinus telah dilakukan oleh banyak warga desa secara turun-temurun di Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Somagede, Perum Perhutani Unit I Jateng. Aktivitas tersebut menjadi salah satu sumber penghasilan utama bagi masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan pinus.
Ia menuturkan bahwa penyadapan getah pinus biasanya dilakukan secara berkala setiap tiga hari sekali dengan cara melukai bagian kulit pohon pinus agar getahnya keluar. Getah yang menetes kemudian ditampung dalam wadah kecil sebelum dikumpulkan untuk disetorkan kepada pengelola hutan.
Ekonomi Getah Pinus
Getah pinus memiliki nilai ekonomi karena diolah menjadi gondorukem dan terpentin yang digunakan dalam industri cat, perekat, hingga produk kimia. Selain itu, gondorukem juga banyak dimanfaatkan dalam industri kertas, karet, hingga bahan pelapis pada berbagai produk.
Aktivitas penyadapan getah pinus selama ini menjadi salah satu sumber penghidupan penting bagi masyarakat desa hutan di wilayah tersebut. Untuk itu, keberadaan akses jalan menuju kawasan hutan sangat memengaruhi kelancaran aktivitas para penyadap dalam menjalankan pekerjaannya.
Penghasilan penyadap sangat dipengaruhi produksi getah dan kondisi cuaca. Pada kondisi normal, pendapatan penyadap pinus di sejumlah wilayah Jawa Tengah berkisar Rp1,7 juta hingga Rp2 juta per bulan.
Pengelola kawasan hutan pinus sekaligus pengawas kehutanan setempat, Yadikun, juga menyambut baik pembangunan jalan rabat beton yang dilakukan melalui program TMMD.
“Selama ini akses menuju kawasan hutan memang cukup terbatas karena jalan yang rusak dan sulit dilalui kendaraan. Dengan adanya pembangunan jalan rabat beton, mobilitas masyarakat maupun petugas kehutanan di kawasan tersebut menjadi jauh lebih mudah,” ujarnya.
Ia menilai pembangunan jalan tersebut tidak hanya bermanfaat bagi warga desa, tetapi juga mendukung upaya pengelolaan kawasan hutan secara lebih baik. Akses jalan yang memadai akan mempermudah pengawasan hutan serta kegiatan pemeliharaan tanaman pinus yang menjadi sumber produksi getah.
Yadikun mengatakan turut berpartisipasi dalam pembangunan jalan tersebut dengan memberikan bantuan material berupa semen. Bantuan tersebut diberikan sebagai bentuk dukungan terhadap program pembangunan desa yang dinilai sangat bermanfaat bagi masyarakat sekitar hutan.
“Keterlibatan berbagai pihak dalam pembangunan melalui program TMMD ini menjadi semangat gotong royong antara masyarakat, pemerintah, dan TNI,” lugasnya.
Akses Penyadap
Ia menjelaskan bahwa produksi getah pinus di wilayah tersebut sangat dipengaruhi oleh kondisi cuaca serta aktivitas para penyadap. “Jika hujan, penyadap memilih tidak melakukan kegiatan menyadap,” kata dia.
Menurutnya kondisi tersebut menyebabkan produksi getah pinus mengalami penurunan pada periode tertentu. Namun ketika musim kemarau tiba, aktivitas penyadapan biasanya kembali meningkat sehingga produksi getah juga mengalami kenaikan.
“Tetapi begitu memasuki musim kemarau, akan naik,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa terdapat ratusan penyadap pinus yang bekerja di kawasan hutan tersebut. Setiap penyadap umumnya mengelola sekitar 300 hingga 500 pohon pinus yang menjadi sumber produksi getah.
“Penghasilan penyadap diperoleh dengan hanya bekerja menyadap getah pinus tiga hari sekali,” ujarnya.
Para penyadap juga berpeluang memperoleh insentif tambahan apabila hasil produksi getah melebihi target yang ditentukan. Jalan rabat beton tersebut diharapkan semakin memperlancar aktivitas penyadap yang setiap hari keluar masuk kawasan hutan.
Selain berdampak pada aktivitas penyadapan, infrastruktur jalan tersebut juga membuka peluang pengembangan potensi ekonomi lain di kawasan hutan pinus. Salah satunya adalah wisata alam yang memanfaatkan keindahan hutan pinus Somagede.
Kawasan hutan pinus dengan udara pegunungan yang sejuk dan panorama perbukitan mulai dikenal sebagai destinasi wisata alam oleh masyarakat sekitar. Akses jalan yang lebih baik, maka potensi kunjungan wisatawan ke kawasan diperkirakan dapat meningkat dan memberi dampak ekonomi tambahan bagi warga desa.
Jalur Vital Desa
Sekretaris Desa Somagede, Waris, menjelaskan bahwa jalan tersebut memiliki peran penting bagi masyarakat desa karena menghubungkan berbagai aktivitas ekonomi, pendidikan, dan mobilitas warga.
“Karena jalan rabat beton ini, yang pertama penghubungan antar-kabupaten. Kabupaten Kebumen dan Banjarnegara. Jadi ini penghubung antar-kabupaten, antar-kecamatan, terus antar-wilayah,” kata Waris.
Menurutnya, jalan tersebut selama ini memang menjadi jalur vital bagi masyarakat desa, terutama bagi warga yang bekerja di sektor pertanian dan kehutanan.
“Kebetulan di situ akses jalur pertanian sekaligus jalan pendidikan. Terus jalur masyarakat sehari-hari,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa jalur tersebut menjadi akses utama menuju lokasi penyadapan getah pinus yang selama ini menjadi salah satu sumber penghasilan warga desa. “Terus itu kan ada akses pada penyadap getah pinus,” lanjutnya.
Selain itu, jalur tersebut juga dimanfaatkan oleh masyarakat yang bekerja di lahan pertanian sekitar kawasan hutan. “Jadi ini jalur pertanian, pendidikan, wisata. Paling banyak manfaatnya,” ujarnya.
Sebelum diperbaiki melalui program TMMD, kondisi jalan tersebut cukup memprihatinkan. Jalan yang hanya berupa tanah sering kali berlumpur saat musim hujan dan berdebu ketika musim kemarau.
“Kalau sebelumnya jalan itu hanya tanah,” jelas Waris.
Ia menambahkan bahwa jalan tersebut sebenarnya pernah dibangun melalui program pemberdayaan masyarakat pada tahun 2013. Namun, kondisinya kembali rusak karena lama tidak tersentuh pembangunan.
“Saat itu dilakukan pembangunan oleh PNPM (Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat),” katanya.
Jalan Rusak
Namun setelah lebih dari satu dekade, jalan kembali rusak karena keterbatasan anggaran desa untuk melakukan perbaikan secara berkala. “Terakhir dibangun 2013. Itu sudah kembali lagi ke yang asal,” ujarnya.
Menurutnya, banyaknya kebutuhan pembangunan infrastruktur di Desa Somagede membuat perbaikan jalan tersebut harus menunggu program pembangunan lain.
“Karena sekian tahun tidak tersentuh oleh anggaran desa. Karena saking banyaknya jalan di Desa Somagede,” kata Waris.
Desa Somagede sendiri berada di wilayah perbukitan di Kecamatan Sempor yang berbatasan langsung dengan wilayah Kabupaten Banjarnegara. Kondisi geografis ini membuat akses transportasi menjadi tantangan bagi masyarakat setempat.
“Di sini kawasan pegunungan jadi berbukit-bukit,” kata Waris.
Permukiman warga di desa tersebut juga tersebar di beberapa wilayah dusun sehingga akses jalan menjadi kebutuhan penting untuk menunjang mobilitas warga. Apalagi, permukiman warga tersebar di sejumlah titik.
“Nyebar terbagi menjadi 21 RT dan 4 RW. Ada empat dusun yaitu Dusun Tengah, Dusun Pesuruhan, Dusun Jelegong, dan Dusun Teramang. Dusun Pesuruhan ini yang jadi lokasi TMMD ini,” ujarnya.
Selain dimanfaatkan untuk aktivitas penyadapan getah pinus, kawasan hutan pinus di wilayah tersebut juga mulai dikenal sebagai destinasi wisata alam. Objek wisata Watu Jali yang dikembangkan oleh masyarakat desa hutan Somagede menawarkan pengunjung untuk menikmati suasana hutan pinus dengan udara pegunungan yang sejuk serta sejumlah spot foto alam.
Lokasi wisata ini cukup strategis, terletak di antara perbatasan Kabupaten Kebumen dan Kabupaten Banjarnegara. “Wisatawan yang datang umumnya memanfaatkan area tersebut untuk bersantai, berfoto di antara pohon pinus, atau menikmati panorama alam perbukitan,” ungkap Waris.
Komandan Kodim 0709/Kebumen, Letkol Inf Eko Majlistyawan Prihantono, mengatakan pembangunan jalan tersebut merupakan salah satu upaya untuk membuka keterisolasian wilayah desa.
“Kurang lebih tiga tahun, jalan yang kita bangun ini sama sekali belum tersentuh (pembangunan),” kata Letkol Eko.
Ia menjelaskan bahwa wilayah tersebut berada di kawasan perbatasan antara dua kabupaten sehingga pembangunan akses jalan menjadi penting bagi mobilitas masyarakat.
“Lokasi di sini juga menjadi perbatasan antara Kabupaten Kebumen dan Kabupaten Banjarnegara,” ujarnya.
Menurutnya, jalan tersebut bahkan menghubungkan aktivitas warga dari dua wilayah kabupaten. “Jalan ini juga menghubungkan bukan hanya dua desa, tapi dua kabupaten,” kata Letkol Eko.
Ia berharap pembangunan jalan melalui program TMMD dapat memberikan manfaat bagi masyarakat desa, baik dari sisi ekonomi maupun akses pelayanan.
“Harapan saya dengan TMMD ini, apa-apa yang sudah kita laksanakan, baik sasaran fisik maupun non-fisik, bermanfaat untuk masyarakat,” ujarnya.
Selain pembangunan jalan rabat beton sepanjang sekitar 1.500 meter dengan lebar 2,5 meter, program TMMD ke-127 di Desa Somagede juga mencakup sejumlah kegiatan pembangunan lainnya. Kegiatan tersebut antara lain pembangunan gorong-gorong, pelat duiker, hingga perbaikan sarana ibadah untuk masyarakat desa.
Program TMMD juga melaksanakan pembangunan rumah tidak layak huni (RTLH) bagi warga yang membutuhkan serta pembangunan jamban keluarga sebagai bagian dari upaya peningkatan sanitasi lingkungan.
“Selain itu terdapat pula program TNI Manunggal Air berupa pembangunan pipanisasi untuk menyediakan akses air bersih bagi masyarakat desa,” terangnya.
Kegiatan penghijauan juga menjadi bagian dari program TMMD dengan penanaman sekitar 1.000 pohon berbatang keras di kawasan sekitar desa untuk menjaga kelestarian lingkungan.
Dengan beragam program dan terbukanya akses jalan Somagede, warga berharap aktivitas penyadapan getah pinus, pertanian, hingga wisata alam di kawasan hutan dapat berkembang lebih baik. Termasuk memberi tambahan penghasilan bagi masyarakat desa hutan.
Editor : Enih Nurhaeni
Artikel Terkait
