SEMARANG, iNewsJoglosemar.id — Perjalanan dari Kuningan, Jawa Barat menuju Semarang, Jawa Tengah bukan sekadar mobilitas antarprovinsi, bagi Azizah (18). Ini adalah bagian dari langkah awal menembus perguruan tinggi negeri (PTN) impian, dengan pilihan utama S1 Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM).
Untuk mewujudkannya, gadis belia itu harus melewati Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK). Yakni, seleksi nasional masuk PTN yang dilaksanakan di Universitas Negeri Semarang (Unnes) pada Minggu (26/4/2026).
Azizah didampingi kedua orangtuanya, Budi dan Nuraini. Perjalanan dimulai pada Sabtu dini hari saat gelap yang masih menyelimuti kawasan kaki Gunung Ciremai. Mobil yang mereka tumpangi bergerak meninggalkan Kuningan.
Mereka sengaja memulai perjalanan dini hari agar bisa mengatur waktu dan ritme perjalanan. Berangkat lebih awal juga untuk menghindari kepadatan lalu lintas. Mereka mengarahkan kendaraan menuju Cirebon, tepatnya melalui jalur Ciperna dan masuk jalan bebas hambatan Gerbang Tol Kanci.
Alternatif lain tersedia melalui Gerbang Tol Pejagan, namun mereka memilih rute yang dinilai paling efisien berdasarkan kondisi lalu lintas. Di sinilah peran aplikasi Travoy milik PT Jasamarga (Persero) Tbk menjadi sangat penting, sebagai sumber informasi perjalanan.
Melalui Travoy, keluarga ini dapat memantau kondisi lalu lintas secara real-time sebelum menentukan jalur yang akan diambil. “Dari Travoy kami bisa lihat kondisi jalan, jadi tidak asal pilih rute,” ujar Budi.
Setelah masuk Tol Kanci–Pejagan, perjalanan berlanjut menyusuri jalur utama Trans Jawa, yakni Tol Pejagan–Pemalang, Tol Pemalang–Batang, hingga Tol Batang–Semarang. Sepanjang perjalanan, Travoy tetap menjadi panduan utama.
Aplikasi ini memberikan akses pantauan lebih dari 3.500 kamera CCTV, informasi tarif tol, kondisi lalu lintas terkini, hingga potensi gangguan seperti kecelakaan. Selain itu, fitur rest area membantu mereka menentukan titik istirahat yang ideal setelah perjalanan panjang.
“Kalau capai, kami langsung cari rest area lewat aplikasi. Jadi perjalanan lebih terkontrol,” imbuh Nuraini.
Menjelang siang, Azizah dan keluarganya memasuki wilayah Semarang melalui Gerbang Tol Kalikangkung. Dari sana, mereka melanjutkan perjalanan menuju pusat kota dan kawasan Gunungpati.
Untuk mendekatkan akses ke lokasi ujian, mereka memilih keluar di Gerbang Tol Jatingaleh yang lebih strategis menuju kampus. Tanpa membuang waktu, mereka langsung melakukan survei lokasi ujian di kawasan Sekaran, Gunungpati.
“Kami ingin memastikan lokasi, supaya besoknya tidak bingung,” ujar Budi.
Setelah memastikan titik lokasi, mereka memutuskan untuk menginap di hotel di Semarang. Waktu istirahat menjadi prioritas agar Azizah dapat menghadapi UTBK dalam kondisi prima. Keesokan harinya, mereka berangkat usai subuh menuju kampus Karena ujian dijadwalkan pukul 06.45 WIB.
Waktu tempuh sudah diperkirakan sehari sebelumnya, sehingga perjalanan terasa lebih tenang. “Lebih siap karena sudah tahu jalurnya,” kata Azizah.
UTBK pun dapat diikuti dengan lancar. Bagi Azizah, ini adalah gerbang awal menuju impian besar, yakni menjadi mahasiswa Farmasi di UGM.
Usai ujian, suasana berubah lebih santai. Keluarga ini memutuskan untuk tidak langsung pulang, melainkan memanfaatkan waktu dengan berwisata ke Benteng Willem I atau lebih dikenal sebagai Benteng Pendem Ambarawa.
Perjalanan dilanjutkan melalui tol menuju Bawen. Sepanjang perjalanan, mereka tetap mengandalkan Travoy untuk memantau kondisi lalu lintas. Mereka sempat berharap dapat melintasi ruas Tol Bawen–Ambarawa, namun berdasarkan informasi di aplikasi, jalur tersebut belum dibuka kembali setelah masa fungsional Lebaran.
“Dengan Travoy, kami tahu kondisi jalan, jadi tidak perlu coba-coba,” ujar Budi.
Travoy juga menyediakan fitur cek saldo e-toll, layanan derek online, resi digital, hingga informasi darurat yang membuat perjalanan terasa lebih aman. Secara nasional, lebih dari satu juta pengguna telah memanfaatkan Travoy dalam perjalanan mereka di jalan tol.
Setibanya di Benteng Pendem Ambarawa, perjalanan panjang itu ditutup dengan suasana santai. Bangunan bersejarah dengan dinding bata ekspos menjadi latar refleksi setelah perjuangan UTBK. “Senang, setelah ujian bisa refreshing,” ujar Azizah semringah.
Manfaat Travoy juga dirasakan langsung oleh pengguna jalan. Salah satunya Andi Laksono, wisatawan Benteng Pendem Ambarawa asal Surabaya. Ia juga merasakan kemudahan dalam perjalanan berkat aplikasi tersebut.
“Travoy ini sangat bermanfaat. Tadi di awal membantu saya untuk memastikan saldo kartu tol sebelum perjalanan. Kemudian, saya juga bisa lihat kemacetan,” ujarnya.
Direktur Utama PT. Jasamarga, Rivan A. Purwantono, menyampaikan bahwa pembaruan aplikasi terus dilakukan untuk memperkaya layanan baik versi Android 4.9.2 maupun iOS. Aplikasi Travoy hadir sebagai ekosistem digital informasi jalan tol terintegrasi yang dapat diakses secara real-time.
“Ada fitur Travoy Pay yang menghadirkan layanan transaksi multibiller termasuk fasilitas top up saldo kartu uang elektronik secara cepat dan mudah melalui aplikasi,” kata Rivan.
Pembaruan ini juga dilengkapi berbagai fitur pendukung seperti Travoy Event, Red Zone untuk titik rawan kecelakaan, hingga framing CCTV yang mampu menyesuaikan tampilan berdasarkan kondisi lalu lintas.
“Travoy juga menghadirkan fitur Map sebagai peta digital yang menampilkan berbagai informasi penting di sepanjang jaringan jalan tol, mulai dari jalur pemeliharaan, gangguan lalu lintas, hingga rekayasa lalu lintas yang sedang berlangsung,” ujar Rivan.
Selain itu, Travoy menghadirkan fitur pencarian SPBU dan SPKLU, Route Finder untuk alternatif rute perjalanan, serta Radio Travoy FM yang menyajikan informasi lalu lintas secara streaming.
“Pembaruan aplikasi Travoy juga dilengkapi dengan kanal layanan pelanggan yang semakin terintegrasi. Melalui Call Center 133 serta fitur Chat Us yang memudahkan pengguna jalan dalam memperoleh bantuan dan informasi layanan operasional selama 24 jam,” jelas Rivan.
Pengamat transportasi dari Universitas Katolik Soegijapranata Semarang, Djoko Setijowarno, menyebut kelancaran arus lalu lintas di jalan tol kerap disalahartikan sebagai peluang untuk memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi. Padahal, kondisi jalan yang lengang justru berpotensi meningkatkan risiko kecelakaan, akibat pengemudi kehilangan kendali atau terlambat mengantisipasi situasi di depan.
“Kalau lancar, jangan ngebut. Justru pelan itu lebih aman,” ujarnya.
Menurut Djoko, faktor keselamatan harus menjadi prioritas utama, terlebih pada ruas jalan tol baru atau jalur panjang seperti Trans Jawa yang sering membuat pengemudi terlena. Ia menilai, disiplin dalam menjaga kecepatan, jarak aman antarkendaraan, serta kewaspadaan terhadap kondisi cuaca menjadi kunci utama dalam berkendara aman.
Selain faktor kecepatan, ia juga menyoroti pentingnya kesiapan pengemudi secara fisik dan mental. Perjalanan jarak jauh, terutama yang dimulai sejak dini hari seperti yang dilakukan Azizah dan keluarganya, berpotensi menimbulkan kelelahan. Karena itu, pengemudi disarankan memanfaatkan rest area secara optimal untuk beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan.
Djoko juga menekankan bahwa perkembangan teknologi harus dimanfaatkan sebagai alat bantu keselamatan, bukan sekadar pelengkap perjalanan. Aplikasi seperti Travoy dinilai mampu memberikan informasi krusial yang dapat membantu pengemudi mengambil keputusan secara cepat dan tepat.
“Pengguna jalan tol disarankan mengakses aplikasi untuk memantau kondisi lalu lintas secara real-time. Di situ kita bisa melihat kepadatan hingga rekayasa lalu lintas,” jelasnya.
Ia menambahkan, pemanfaatan informasi digital ini menjadi semakin penting di tengah meningkatnya volume kendaraan, terutama pada momen-momen tertentu seperti arus mudik, libur panjang, maupun perjalanan penting seperti menuju lokasi ujian.
Editor : Enih Nurhaeni
Artikel Terkait
