SEMARANG, iNewsJoglosemar.id – Sudah genap satu tahun sejak Mozza Axillia Gunarsa (18), warga RT 04/RW 01, Desa Gebugan, Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang, dilaporkan hilang. Di tengah penyelidikan yang masih terus dilakukan aparat kepolisian, keluarga tetap menaruh harapan agar Mozza segera ditemukan dalam keadaan selamat.
Penantian panjang itu paling dirasakan sang adik, Orlin. Dengan suara lirih, bocah tersebut mengungkapkan kerinduannya kepada kakak yang selama setahun terakhir tak pernah lagi ditemuinya.
Orlin mengaku hanya ingin kakaknya kembali ke rumah agar keluarga bisa berkumpul seperti dulu. Baginya, kebersamaan sederhana bersama Mozza menjadi hal yang paling dirindukan.
"Kakak sehat-sehat ya, biar cepat pulang. Biar bisa kumpul sama Ayah sama Mama, terus bisa pergi bareng lagi," ucap Orlin.
Ia mengenang berbagai aktivitas yang dulu sering dilakukan bersama sang kakak, mulai dari pergi bersama, jajan, hingga tidur dalam satu rumah.
"Aku kangen bisa satu rumah lagi, bisa jajan lagi sama Kakak, pergi bareng lagi, sama tidur lagi sama Kakak," katanya.
Sejak Mozza menghilang, Orlin harus terbiasa tidur sendiri. Namun, setiap hari ia tetap berharap kakaknya segera pulang.
Saat diminta menyampaikan pesan jika Mozza bisa mendengarnya, Orlin tak kuasa menyembunyikan rasa rindunya.
"Aku sayang sama Kakak. Aku sayang banget sama Kakak. Aku pengen peluk Kakak lagi."
Dengan mata berkaca-kaca, Orlin menutup pesannya dengan kalimat sederhana yang menjadi doa seluruh keluarga.
"Cepat pulang ya, Kak. Aku berharap Kakak cepat pulang, biar aku bisa sama Kakak lagi."
Sementara itu, penyelidikan kasus hilangnya Mozza Axillia Gunarsa masih terus berlangsung. Polisi mengungkap fakta baru bahwa alasan Mozza berpamitan hendak menemui seorang teman untuk mengantarkan laptop ternyata tidak terbukti setelah dilakukan penelusuran.
Kasatreskrim Polres Semarang AKP Bodia Teja Lelana mengatakan, hingga kini Mozza yang dilaporkan hilang sejak Rabu, 25 Juni 2025, belum ditemukan. Meski demikian, penyelidikan terus berjalan dengan dukungan sejumlah direktorat di Polda Jawa Tengah.
"Sampai saat ini yang bersangkutan belum ditemukan. Kasus ini masih dalam tahap penyelidikan," kata Bodia.
Menurutnya, sebelum meninggalkan rumah sekitar pukul 10.00 WIB, Mozza sempat mengirim pesan WhatsApp kepada orang tuanya. Dalam pesan tersebut, ia berpamitan hendak mengantarkan laptop milik seorang teman di sekitar kawasan Makodam Semarang.
Namun setelah dilakukan pendalaman, polisi menemukan fakta berbeda.
"Kami tidak bisa berasumsi terkait motif dari yang bersangkutan. Berdasarkan informasi awal, yang bersangkutan sempat berpamitan hendak ke rumah temannya karena mengaku sudah memiliki janji. Namun setelah kami lakukan penelusuran, temannya mengaku tidak pernah memiliki janji dengan yang bersangkutan," jelasnya.
Polisi hingga kini belum menyimpulkan penyebab hilangnya Mozza dan masih mendalami berbagai kemungkinan berdasarkan alat bukti yang telah dikumpulkan.
Dalam proses penyelidikan, telepon seluler milik Mozza yang diduga sempat dibuang telah berhasil ditemukan dan kini menjadi salah satu barang bukti penting untuk menelusuri jejak keberadaannya.
Penanganan perkara ini juga mendapat dukungan Direktorat Reserse Kriminal Umum, Direktorat Reserse Siber, serta Direktorat Reserse Perlindungan Perempuan dan Anak serta Pemberantasan Perdagangan Orang (Ditres PPA-PPO) Polda Jawa Tengah.
Selain penyelidikan digital, polisi bersama keluarga juga telah melakukan pencarian ke sejumlah daerah, termasuk hingga ke Jawa Timur dengan didampingi ayah Mozza, Singgih.
Berdasarkan data kepolisian, saat meninggalkan rumah Mozza mengenakan baju putih lengan panjang, berhijab, memakai sandal krem merek Reebok, dan mengendarai sepeda motor Honda Vario 125 hitam bernomor polisi H 5344 ALC tanpa membawa STNK.
Hingga kini, keluarga masih berharap ada kabar baik mengenai keberadaan Mozza. Di tengah berbagai upaya penyelidikan yang terus dilakukan polisi, doa dan harapan sang adik agar bisa kembali memeluk kakaknya menjadi pengingat bahwa masih ada keluarga yang setia menanti kepulangannya.
Editor : Enih Nurhaeni
Artikel Terkait
