SEMARANG, iNewsJoglosemar.id – Perempuan pelaku usaha mikro dan kecil menghadapi ancaman serius dari penipuan digital. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengingatkan bahwa pelaku kejahatan siber semakin canggih, memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) hingga menyamarkan judi online sebagai permainan anak.
Peringatan ini disampaikan dalam Learning Event "Cakap Teknologi ke Pasar Digital" yang digelar DBS Foundation bersama Yayasan Mercy Corps Indonesia di Aula Balai Kota Semarang, Senin (28/9/2026).
Acara ini dihadiri sekitar 800 peserta, termasuk 600 perempuan pemilik dan pengelola usaha mikro dan kecil peserta program, perwakilan pemerintah daerah, lembaga keuangan, organisasi masyarakat, akademisi, serta media.
Literasi Digital untuk 40.000 Perempuan UMKM
Program Financial Inclusion for Women Entrepreneurs bertujuan meningkatkan ketahanan dan kesehatan keuangan 40.000 perempuan pemilik atau pengelola UMKM di Kota Semarang, Surabaya, dan Medan hingga 30 September 2027. Sejak diluncurkan pada Oktober 2025 hingga Agustus 2026, program ini telah menjangkau lebih dari 20.000 perempuan pelaku usaha mikro dan kecil.
Mona Monika, Head of Group Marketing & Communications PT Bank DBS Indonesia, mengatakan bahwa mendorong inklusi finansial dan pemberdayaan perempuan merupakan fokus utama DBS Foundation.
"Melalui program Financial Inclusion for Women Entrepreneurs powered by DBS Foundation, kami berharap semakin banyak perempuan pelaku UMKM memiliki akses terhadap pengetahuan, layanan, dan produk keuangan yang dapat membantu mereka meningkatkan ketahanan usaha, memenuhi kebutuhan dasar keluarga, dan membuka peluang ekonomi yang lebih luas," ujarnya.
Kesenjangan Digital Jadi Tantangan
Nazla Mariza, SVP Impact and Beyond Banking Group Marketing and Comunication PT Bank DBS Indonesia mengungkapkan bahwa program ini merupakan program jangka panjang dua tahun. Fokusnya melatih dan mendampingi 40.000 perempuan pelaku atau pemilik usaha mikro dan kecil.
"Targetnya untuk pertama kita melatih dulu dari literasi keuangan, kemudian mereka bagaimana caranya mengakses produk dan layanan keuangan yang legal, yang diawasi oleh OJK. Kemudian kita dampingi lagi literasi digital dan juga pemasaran di dunia digital," ujarnya.
Menurut Nazla, dari total UMKM di Jawa Tengah yang mencapai 30.000 lebih, sekitar 60 persennya adalah perempuan. Berarti sekitar 18.000-an pelaku UMKM perempuan. Tahun ini, program sudah mendampingi 7.000 peserta.
"Jadi artinya kita akan berkontribusi untuk meningkatkan kapasitas perempuan pelaku usaha mikro sekitar 15.000 selama 2 tahun," jelasnya.
Nazla menyoroti adanya kesenjangan digital. Dari data yang dimilikinya, 96 persen perempuan memiliki HP dan mengakses internet rata-rata 5 jam sehari. Namun, yang menggunakannya untuk usaha, bisnis, atau digital marketing hanya 31 persen.
"Ini artinya ada kesenjangan antara akses dengan pengetahuan dan pemanfaatannya untuk usaha," katanya.
Kendalanya, pertama, mereka belum tahu. Kedua, belum percaya diri karena takut digital scamming atau cyber crime. Ketiga, terlalu nyaman dengan toko konvensional fisik.
"Nah, ini yang kita coba untuk buka pikirannya. Karena orang akan menjadi PD ketika dia sudah semakin tahu, semakin praktiknya berhasil," ujarnya.
Pendampingan dan Platform Mentor
Ade Soekadis, Direktur Eksekutif Mercy Corps Indonesia menjelaskan bahwa program ini menggabungkan antara pelatihan dan pendampingan. Selain pelatihan literasi keuangan, literasi digital, dan layanan keuangan, para perempuan UMKM juga mendapatkan pendampingan pada waktu tertentu.
"Kita mempunyai fasilitator yang bisa mendampingi Ibu-ibu. Dan juga kita mempunyai platform digital namanya platform mentor. Di mana UMKM yang on board di sana bisa secara mandiri terkoneksi dengan fasilitator atau mentor," jelasnya.
Tantangan utama UMKM, menurut Ade, bukan hanya mendapatkan ilmu, tetapi menerapkannya. "Kalau teori mungkin gampang. Tapi yang menjadi tantangan ialah bagaimana ilmu tadi diterapkan. Inilah butuh pendampingan."
Tantangan kedua adalah akses ke pasar. "Bagaimana mendapatkan akses ke pasar yang bisa menyerap produk-produk tersebut. Positioning dari produk sehingga laku di pasar digital maupun non-digital."
Tantangan ketiga adalah akses modal. "Banyak UMKM belum punya catatan keuangan yang baik sebagai syarat untuk pinjaman. Tanpa catatan keuangan yang baik, enggak mungkin bank akan percaya."
Ade juga menyoroti bahwa mayoritas UMKM adalah usaha mikro. "Kalau jumlah UMKM dibandingkan jumlah unit usaha bisnis, 99,9 persen. Dari 99 persen itu, di atas 90 persen adalah usaha mikro."
Terkait inklusivitas, Ade menegaskan bahwa program ini juga menjangkau penyandang disabilitas. "Kita punya program khusus. Bagaimana kita bisa menjangkau mereka yang disabilitas, perempuan-perempuan disabilitas, supaya mereka bisa berpartisipasi dan tidak tertinggal."
Uang Bisa Hilang dalam Hitungan Menit
Muhammad Irfan, Manager Senior Direktorat Edukasi dan Perlindungan Konsumen Kantor OJK Jateng menjelaskan bahwa penipu digital bekerja sangat cepat. Mereka memindahkan uang hasil tipuan ke rekening lain dalam hitungan menit, bukan jam.
"Ibu kalau ketipu sama penipu di dunia digital, mereka menghilangkan duit Ibu dengan sangat cepat. Enggak hitungan jam, Bu. Menit uang Ibu bisa hilang," ujarnya.
Pola penipuan, lanjut Irfan, adalah memindahkan uang korban dari satu rekening ke rekening lainnya secara berantai. Ketika korban menyadari dan datang ke bank, uangnya sudah berpindah jauh.
"Contoh, Ibu tertipu dari rekening Bank A. Setelah berhasil menipu, mereka akan memindahkan uang Ibu ke rekening lainnya, rekening lainnya, dan rekening lainnya. Jadi ketika Ibu datang ke bank, uang Ibu sudah hilang. Sebegitu cepatnya," jelasnya.
Indonesia Anti Scam Center
OJK memiliki Indonesia Anti Scam Center (IASC) untuk menangani laporan penipuan digital. Masyarakat yang menjadi korban dapat melapor ke iasc.ojk.go.id.
"Kami punya sistem di kantor pusat. Bank-bank besar kami kumpulkan dalam satu ruangan," ujar Irfan.
Sistem ini memungkinkan koordinasi cepat antar bank. Jika seorang penipu menggunakan Bank X lalu memindahkan uang ke Bank Y, Bank X akan langsung melapor ke Bank Y untuk memblokir rekening tersebut.
"Bank X ketika menerima uang penipuan dan dapat info, dia akan langsung lapor ke Bank Y. 'Eh, Bank Y, ini uang penipuan ke kamu, blok.' Langsung diblok," jelasnya.
Namun Irfan menekankan bahwa kecepatan pelaporan sangat penting. "Karena dia juga cepat geraknya. Kecepatan pelaporan itu sangat penting."
Bahaya AI: Suara dan Wajah Bisa Dipalsukan
Irfan juga memperingatkan tentang penggunaan AI dalam penipuan. Pelaku dapat merekam suara korban hanya dari percakapan telepon singkat.
"Ibu makanya hati-hati mengangkat telepon dari nomor yang enggak dikenal. Ibu angkat, Ibu ngomong, 'Halo, ini siapa, ya?' Itu data Ibu, suara Ibu direkam. Direkam sama dia, dia pakai AI, nanti dia bisa telepon teman Ibu pakai suara Ibu. Dan dia menipu lagi teman Ibu untuk transfer," ungkapnya.
Salah satu modus yang paling berbahaya, menurut Irfan, adalah judi online yang menyamar sebagai game anak.
"Ibu lihat anak-anak Ibu main HP kayaknya main game bener, ya? Tapi ternyata apa itu? Judi online. Kelihatan kayak game, Bu. Tetapi itu judi online," ungkapnya.
Editor : Enih Nurhaeni
Artikel Terkait
