Inovasi Produk Lokal, Ika Yuanita Menembus Pasar Global

Produk Berkembang
Di tengah perjalanan bisnis kopinya, Ika mulai melihat peluang lain. Ia bertemu dengan beberapa pelaku UMKM yang memproduksi tahu bakso, sebuah makanan khas Semarang yang memiliki banyak penggemar. Ia kemudian mencoba menjualnya di kafenya, dan tak disangka, minat pasar sangat tinggi.
"Tahu bakso awalnya hanya produk tambahan, tetapi permintaannya terus meningkat. Bahkan, ada yang meminta dikirim ke luar negeri," katanya.
Tantangan besar pun muncul. Ia berpikir keras cara mengirim tahu bakso ke luar negeri tanpa mengurangi kualitasnya, mengingat makanan ini memiliki masa simpan yang terbatas. Ika pun mulai bereksperimen dengan berbagai metode pengawetan alami hingga akhirnya menemukan teknik yang memungkinkan tahu bakso bertahan hingga satu tahun tanpa menggunakan bahan pengawet.
"Awalnya kami banyak mencoba berbagai metode agar tahu bakso bisa bertahan lama tanpa kulkas. Setelah beberapa kali uji coba, akhirnya kami menemukan cara yang tepat," jelasnya.
Hasilnya, kini tahu bakso produksinya sudah berhasil diekspor ke Eropa, Jerman, Jepang, Amerika, dan Australia. Tak hanya tahu bakso, ia juga memperkenalkan pisang sale yang memiliki pasar potensial, terutama di Jepang.
Tahu bakso produksi Kingkaf memiliki keunggulan dibandingkan produk sejenis di pasaran, salah satunya adalah komposisi bahan yang lebih sehat. Ika Yuanita menegaskan bahwa tahu baksonya menggunakan tepung tapioka sebagai campuran utama, sehingga bebas gluten.
“Kami memastikan bahwa produk kami lebih sehat karena tidak menggunakan tepung terigu, melainkan tapioka. Ini membuat tahu bakso kami gluten-free dan lebih aman dikonsumsi oleh mereka yang memiliki sensitivitas terhadap gluten,” jelasnya.
Keunggulan ini juga menjadikan tahu bakso Kingkaf semakin diminati di pasar ekspor, terutama di negara-negara seperti Jepang dan Amerika Serikat, di mana permintaan terhadap produk bebas gluten terus meningkat.
"Pisang sale ini menarik perhatian di Jepang. Mereka menyebutnya 'choco banana' karena rasanya seperti coklat. Minatnya sangat tinggi di sana," tambahnya.
Selain itu, Ika juga sukses memasarkan teh rempah khas Indonesia ke Jerman. Teh ini memiliki berbagai varian, seperti Masuk Angin Tea, Angkrah Tea, Pegal Linu Tea, Uwuh Tea, dan Rosela Tea, yang semuanya berbasis bahan herbal asli Indonesia.
"Saat ini, 80% penjualan teh rempah kami ada di Eropa. Mereka sangat menyukai produk berbahan alami dengan manfaat kesehatan," ungkapnya.
Harga teh rempahnya pun cukup terjangkau, yakni Rp30 ribu per boks berisi enam sachet. Dengan strategi pemasaran yang tepat dan kemasan menarik, produknya berhasil diterima di pasar internasional.
"Kami fokus pada kualitas dan inovasi. Selain menjaga rasa dan manfaat, kemasan juga menjadi perhatian utama kami agar menarik di pasar ekspor," terangnya.
Editor : Enih Nurhaeni