Mbak Koken Boneka Asal Jepang Ajarkan Proses Melahirkan, Bisa Ekspresi Nyeri
SEMARANG, iNewsJoglosemar.id - Sebuah boneka perempuan terbaring di atas bed praktik. Perutnya membesar, wajahnya memperlihatkan ekspresi nyeri, dan tubuhnya dirancang menyerupai kondisi ibu melahirkan secara alami. Bagi mahasiswa kebidanan, boneka ini bukan sekadar alat peraga. Ia adalah jembatan pertama sebelum berhadapan dengan kehidupan nyata di ruang bersalin.
Boneka simulasi persalinan itu akrab disebut Mbak Koken. Media pembelajaran ini dirancang untuk meniru secara detail proses kehamilan hingga persalinan, lengkap dengan mekanisme pembukaan, keluarnya bayi, sampai pengeluaran plasenta. Kehadirannya menjadi fondasi penting bagi mahasiswa sebelum terjun langsung mendampingi ibu melahirkan di lapangan.
Dosen S-1 Kebidanan Universitas Telogorejo Semarang (UNTS), Mudy Oktiningrum, S.Si.T., M.Keb, menuturkan bahwa pembelajaran kebidanan tidak cukup hanya mengandalkan teori. Mahasiswa perlu memahami proses persalinan secara visual, teknis, dan emosional.
“Dengan boneka ini, mahasiswa bisa belajar bagaimana proses kehamilan dari bulan ke bulan, bagaimana mekanisme bayi keluar dari jalan lahir, hingga bagaimana memberikan asuhan pascapersalinan,” ujarnya.
Boneka simulasi asal Jepang ini bernilai sekitar Rp500 juta dan dilengkapi pengaturan tahapan kehamilan sejak usia nol hingga sembilan bulan. Saat persalinan, mahasiswa dapat melihat secara nyata bagaimana jalan lahir meregang, bagaimana posisi kepala bayi, hingga simulasi penanganan robekan dan penjahitan.
Tak berhenti di proses melahirkan, Mbak Koken juga digunakan untuk pembelajaran asuhan nifas, mobilisasi ibu pascamelahirkan, hingga edukasi pemasangan alat kontrasepsi seperti IUD. Semua tahapan itu disimulasikan agar mahasiswa memiliki kesiapan mental dan keterampilan sebelum bertemu pasien sebenarnya.
Lebih dari itu, Prodi Kebidanan Universitas Telogorejo juga mengusung pendekatan gender-based, yang menekankan pendampingan persalinan dengan empati dan pengelolaan nyeri. Mahasiswa diajarkan teknik relaksasi, pengaturan napas, hingga metode alami untuk membantu ibu menghadapi kontraksi.
“Mahasiswa tidak hanya belajar tindakan medis, tetapi juga bagaimana mendampingi ibu melahirkan secara manusiawi,” kata Mudy.
Pembelajaran berbasis praktik juga bergema di laboratorium Program Studi S-1 Farmasi. Di ruangan berbeda, mahasiswa berhadapan dengan alat canggih bernama Thin Layer Chromatography (TLC)—perangkat penting untuk memisahkan dan mengidentifikasi senyawa kimia.
Dosen S-1 Farmasi Universitas Telogorejo, apt. Ranatri Puruhita, M.Farm, menjelaskan bahwa TLC menjadi alat krusial dalam proses awal pengembangan obat berbasis bahan alam.
“Bahan alam itu mengandung banyak senyawa. TLC membantu mahasiswa memastikan senyawa target—misalnya flavonoid—benar-benar ada, sekaligus mengetahui kadarnya,” jelasnya.
Dengan nilai investasi sekitar Rp1,8 miliar, alat TLC tergolong langka dan belum banyak dimiliki kampus farmasi, khususnya di Jawa Tengah. Keberadaannya membuka ruang pembelajaran yang lebih presisi, tidak lagi bergantung pada metode identifikasi sederhana yang minim akurasi.
Mahasiswa farmasi mulai memanfaatkan alat ini sejak semester tiga, baik untuk praktikum, penelitian skripsi, hingga Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). Dari TLC, mahasiswa belajar mengekstraksi bahan alam, mengidentifikasi senyawa aktif, lalu mengembangkannya menjadi sediaan farmasi seperti krim, salep, hingga produk kosmetik.
“Semua produk farmasi itu berawal dari identifikasi senyawa. Tanpa dasar itu, kita tidak bisa melangkah lebih jauh,” ujar Ranatri.
Editor : Enih Nurhaeni