Lomba Mading Utang Negara Jadi Cara Seru Literasi Keuangan Pelajar SMP di Semarang
SEMARANG, iNewsJoglosemar.id – Upaya menanamkan literasi keuangan sejak dini kini digerakkan langsung oleh generasi muda. Di Kota Semarang, seorang pelajar SMA menjadi motor penggerak edukasi finansial bagi siswa SD hingga SMP melalui kegiatan kreatif yang melibatkan ratusan pelajar.
Adalah Calvin Santoso (16), siswa kelas 10 dari Siswa kelas 10 dari SMA Jakarta Intercultural School (JIS) di Jakarta, yang menggagas gerakan edukasi keuangan melalui platform “Inveskida". Sejak 2022, ia mulai mengembangkan program ini sebagai respons terhadap minimnya pembelajaran literasi keuangan di sekolah.
“Indonesia sekarang ini negara berkembang. Saya ingin mengajak anak-anak Indonesia cerdas di bidang keuangan. Harapannya, 20 tahun lagi mereka bisa membawa Indonesia jadi negara maju,” ujar Calvin di sela kegiatan di Grand Maerokoco, Anjungan Kota Semarang, Jjmat (10/4/2026).
Berkolaborasi dengan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) IPS Kota Semarang dan Dinas Pendidikan Kota Semarang, Inveskid menggelar ajang kreatif bertajuk Wall Gallery Competition dengan tema “Hutang Negara, Buat Apa?”.
Kompetisi ini menantang siswa SMP untuk memvisualisasikan pemahaman mereka tentang keuangan negara melalui karya majalah dinding (mading) yang informatif dan edukatif.
Tak hanya sekadar lomba, kegiatan ini juga bertujuan mengikis stigma negatif tentang utang negara. Sekaligus menanamkan kesadaran bahwa pengelolaan keuangan publik yang bijak menjadi fondasi penting bagi pembangunan nasional.
Di lokasi kegiatan, ratusan siswa tampak antusias mempresentasikan karya mereka. Berbagai isu seperti utang negara, inflasi, hingga pembangunan infrastruktur dikemas dalam bentuk visual yang menarik.
Salah satu peserta mengaku awalnya menganggap tema tersebut cukup berat. Namun melalui proses lomba, pemahamannya justru semakin terbuka.
“Sebagai anak SMP, hal kecil yang bisa dilakukan itu mengurangi jajan dan lebih banyak menabung. Kalau semua anak Indonesia melakukan itu, utang negara bisa digunakan untuk pembangunan yang tepat,” ujar salah satu peserta.
Sementara itu, Aquila Nancia, siswa SMP Negeri 4 Semarang, mengaku kegiatan ini menjadi pengalaman pertamanya mempelajari keuangan negara secara langsung.
“Seru banget, jadi tahu arti utang negara dan untuk apa digunakan. Jadi lebih paham dan nggak cuma dengar istilahnya saja,” katanya.
Di sela kegiatan, para guru pendamping juga mendapatkan pembekalan khusus terkait penguatan kurikulum literasi keuangan. Materi yang diberikan mencakup strategi menghadapi tantangan keuangan digital, seperti bahaya pinjaman online (pinjol), judi online (judol), hingga investasi bodong.
Tak hanya itu, guru juga diperkenalkan pada pemanfaatan teknologi Artificial Intelligence (AI) sebagai alat bantu pembelajaran interaktif di kelas.
Subkoordinator Kurikulum dan Penilaian SMP Dinas Pendidikan Kota Semarang, Fajriyah, menyampaikan apresiasi terhadap inisiatif ini.
“Kami sangat mendukung kegiatan ini. Literasi keuangan penting agar anak-anak tidak tertinggal. Apalagi sekarang tantangan di era digital semakin kompleks,” ujarnya.
Menurutnya, metode lomba mading menjadi pendekatan efektif karena mendorong siswa memahami materi sebelum menyajikannya dalam bentuk karya.
“Ini bukan sekadar lomba. Anak-anak belajar memahami konsep keuangan negara secara menyeluruh, lalu menuangkannya dalam karya. Ini pembelajaran nyata,” jelasnya.
Pihak MGMP IPS Kota Semarang juga menilai kolaborasi ini sebagai langkah strategis untuk memperkuat literasi siswa.
“Sinergi antara Inveskid dan guru menjadi kekuatan utama. Kami bergerak bersama untuk meningkatkan pemahaman siswa tentang keuangan,” ujar perwakilan MGMP.
Calvin sendiri mengaku bersyukur kegiatan ini mendapat dukungan dari berbagai pihak, terutama para guru yang menjadi ujung tombak pendidikan.
“Kami tidak bisa berjalan sendiri. Dukungan MGMP dan guru-guru sangat penting agar edukasi ini bisa sampai ke siswa,” katanya.
Ia berharap kegiatan ini tidak berhenti sebagai event semata, tetapi berkembang menjadi gerakan literasi yang berkelanjutan.
Editor : Enih Nurhaeni