get app
inews
Aa Text
Read Next : Go International, UNTS Perluas Jejaring Perguruan Tinggi di Malaysia

Lulusan IT Sukses Jadi Koreografer Istana Presiden, Adaptif AI untuk Gerakan Tari

Sabtu, 09 Mei 2026 | 09:17 WIB
header img
Lulusan IT Sukses Jadi Koreografer Istana Presiden, Adaptif AI untuk Gerakan Tari. (Foto: iNewsJoglosemar.id/Taufik Budi).

SEMARANG, iNewsJoglosemar..id — Kisah unik datang dari salah satu alumni yang berhasil meniti karier sebagai lead choreographer di Istana Presiden meski berasal dari jurusan komputer.

Cerita tersebut disampaikan Direktur Kampus BINUS University @Semarang, Fredy Purnomo, saat membahas relevansi pendidikan di era Artificial Intelligence (AI) dan transformasi digital.

Menurut Fredy, dunia kerja saat ini berkembang sangat dinamis sehingga karier seseorang tidak selalu berjalan lurus sesuai jurusan kuliah. Namun, keterampilan yang dipelajari selama pendidikan tetap dapat digunakan dalam profesi berbeda.

Dia mencontohkan salah satu alumni BINUS yang awalnya berasal dari bidang komputer, tetapi kemudian memilih berkarier di dunia tari profesional.

“Jadi ada contohnya alumni kami, lulusan komputer, tapi malah jadi professional dancer dulu,” ujar Fredy, Jumat (8/5/2026).

Meski sempat merasa tidak enak karena bekerja di luar bidang kuliah, alumni tersebut justru berhasil mencapai posisi penting di lingkungan Istana Presiden.

“(Ia) beberapa kali datang ke kampus, kalau ketemu saya selalu minta maaf karena bekerja tidak sesuai dengan bidang ilmu. Tapi bentar dulu, kamu dancernya seperti apa? Saya lead choreographer di Istana Presiden. Oke itu, saya dukung,” lanjutnya.

Fredy menjelaskan kemampuan teknologi yang dipelajari selama kuliah ternyata tetap dimanfaatkan dalam pekerjaan sehari-hari sebagai koreografer.

“Tetap dalam pelaksanaan sehari-hari, dia menciptakan koreografi, datanya dimasukkan ke aplikasi, sehingga akhirnya dia bisa menciptakan koreografi, dia tetap memanfaatkan skill di komputernya,” jelasnya.

Menurut Fredy, kisah tersebut menunjukkan bahwa pendidikan tidak hanya soal kesesuaian profesi dengan jurusan, tetapi juga bagaimana keterampilan yang dimiliki dapat diterapkan secara fleksibel di berbagai bidang.

BINUS University @Semarang sendiri saat ini terus mendorong mahasiswa agar memiliki mental adaptif dan menjadi pembelajar sepanjang hayat. Kampus tersebut juga menerapkan konsep Human-AI Collaboration dalam kurikulum pembelajaran.

Fredy mengatakan mahasiswa tidak hanya dipersiapkan untuk pekerjaan yang ada saat ini, tetapi juga profesi baru yang mungkin belum muncul hari ini.

“Kami melihat bahwa pendidikan harus mulai memberikan dampak sejak mahasiswa masih kuliah. Melalui pendekatan digital transformation, mahasiswa tidak hanya dipersiapkan untuk pekerjaan yang ada hari ini, tetapi juga untuk menghadapi pekerjaan yang bahkan belum ada saat ini,” katanya.

Ia menambahkan kampus juga terus menanamkan rasa ingin tahu kepada mahasiswa agar mampu bertahan menghadapi perubahan zaman.

“Di mana pun mereka belajar, benih keingintahuan itu sudah ditanamkan, sehingga ketika sudah lulus mereka selalu menjadi seorang insan pembelajar,” tandasnya.

Menurutnya, perkembangan teknologi dan percepatan transformasi digital membuat proses memilih pendidikan tinggi kini semakin kompleks bagi orang tua maupun calon mahasiswa. Pilihan pendidikan tidak lagi sekadar menentukan kampus atau jurusan, tetapi juga memastikan lulusan tetap relevan menghadapi perubahan dunia kerja di era Artificial Intelligence (AI).

Banyaknya pilihan pendidikan dan derasnya arus informasi justru sering menimbulkan kebingungan. Orang tua kini tidak hanya mencari pendidikan terbaik, tetapi juga kepastian bahwa anak mereka siap menghadapi dunia kerja yang berubah sangat cepat.

Fenomena tersebut terlihat dari masih tingginya angka career mismatch di Indonesia. Sekitar 35 hingga 36 persen lulusan diketahui bekerja tidak sesuai dengan latar belakang pendidikannya. Sementara laporan global menunjukkan sekitar 22 persen pekerjaan diprediksi mengalami perubahan pada 2030 akibat perkembangan teknologi.

Riset Populix bersama juga menunjukkan kekhawatiran orang tua kini semakin berkembang. Kekhawatiran itu tidak hanya soal pemilihan jurusan, tetapi juga mengenai sejauh mana pendidikan mampu memberikan arah yang jelas dan kesiapan menghadapi perubahan era digital.

Menjawab tantangan tersebut, menghadirkan pendekatan pembelajaran berbasis digital transformation dan AI experience. Kampus tersebut berupaya membekali mahasiswa dengan kompetensi digital, pengalaman nyata, dan kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi.

“Perkembangan AI membuat dunia kerja berubah jauh lebih cepat dari sebelumnya. Karena itu, pendidikan tidak bisa lagi hanya berfokus pada teori, tetapi harus mampu memberikan pengalaman nyata dan pemahaman bagaimana teknologi digunakan di dunia industri. Di BINUS @Semarang, kami membekali mahasiswa dengan AI experience agar mereka tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu memahami dan memanfaatkannya secara strategis,” ujarnya.

Ia menegaskan pendidikan saat ini harus mampu memberikan dampak sejak mahasiswa masih menjalani masa kuliah.

“Kami melihat bahwa pendidikan harus mulai memberikan dampak sejak mahasiswa masih kuliah. Melalui pendekatan digital transformation, mahasiswa tidak hanya dipersiapkan untuk pekerjaan yang ada hari ini, tetapi juga untuk menghadapi pekerjaan yang bahkan belum ada saat ini,” tambahnya.

Menurut data internal BINUS University, sekitar 85 persen lulusan bekerja sesuai bidang ilmu yang dipelajari. Sisanya menemukan passion baru yang tetap berkaitan dengan keterampilan yang dimiliki selama kuliah.

Fredy mencontohkan salah satu alumni jurusan komputer yang kini menjadi lead choreographer di Istana Presiden. Meski berkarier di dunia tari, alumni tersebut tetap memanfaatkan kemampuan teknologinya dalam menciptakan koreografi berbasis aplikasi digital.

“Jadi kita selalu dorong seperti ini,” ujarnya.

 

Digital Psychology Program, Gary Collins Brata Winardy, menjelaskan perkembangan teknologi dan perubahan sosial membuat tekanan dalam menentukan pendidikan semakin besar.

 

“Kekhawatiran akan masa depan adalah hal yang wajar. Orang tua dan anak mengalami kekhawatiran dan ketakutan salah memilih jurusan. Apalagi saat perkembangan teknologi membawa ketakutan bahwa jurusan yang saat ini dipilih tidak lagi relevan di kemudian hari,” jelasnya.

Menurut Gary, kondisi tersebut sering memicu keraguan dalam mengambil keputusan.

“Ketika seseorang tidak memiliki gambaran yang jelas tentang masa depan, mereka cenderung overthinking dan ragu dalam menentukan pilihan. Karena itu, pendidikan yang mampu memberikan arah, pengalaman nyata, dan exposure terhadap dunia kerja akan sangat membantu mengurangi kecemasan tersebut,” ucapnya.

Editor : Enih Nurhaeni

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut