Rupiah Anjlok Lewati Rp18.000, Pakar Ekonomi Undip: Jangan Sampai Tembus Rp20.000
SEMARANG, iNewsJoglosemar.id – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang kini berada di atas level Rp18.000 menjadi perhatian berbagai kalangan. Kondisi tersebut dinilai bukan semata-mata dipengaruhi faktor domestik, melainkan juga tekanan global yang masih berlangsung.
Pakar Ekonomi Universitas Diponegoro (Undip), Esther Sri Astuti, menilai depresiasi rupiah saat ini dipicu kombinasi faktor eksternal dan internal yang saling berkaitan.
Menurut Esther, salah satu pemicu utama berasal dari meningkatnya tensi geopolitik internasional, terutama konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel.
“Ini adalah pertanyaan yang sangat menarik kalau menurut saya ya. Bagaimana bisa depresiasi nilai tukar rupiah terhadap US dolar ini terus terjadi. Yang pertama karena memang di-trigger oleh konflik geopolitik Iran dan US Israel,” kata Esther.
Situasi tersebut mendorong investor global mencari instrumen yang dianggap lebih aman, termasuk dolar AS.
Akibatnya, permintaan dolar meningkat di pasar internasional dan memberikan tekanan pada mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Selain faktor geopolitik, Esther melihat masalah mendasar lain berada pada ketersediaan devisa dalam negeri.
Menurut dia, kebutuhan dolar di Indonesia saat ini masih lebih besar dibanding pasokan yang tersedia.
“Yang kedua kalau kita lihat lagi ini terjadi karena memang devisa yang ada di Indonesia itu tidak bisa memenuhi dari permintaan uang US dollar yang ada di Indonesia,” ujarnya.
Kondisi tersebut membuat tekanan terhadap rupiah semakin sulit dihindari.
Kebutuhan impor, pembayaran utang luar negeri, hingga aktivitas perdagangan internasional membutuhkan pasokan dolar yang besar.
Sementara itu, kemampuan Indonesia menghasilkan devisa belum tumbuh secepat kebutuhan tersebut.
Karena itu, Esther menilai pemerintah perlu memperkuat sumber-sumber devisa baru.
Ia menyebut peningkatan ekspor dan pengembangan sektor pariwisata menjadi langkah yang dapat dilakukan untuk menambah pasokan valuta asing.
“Nah sehingga ini bisa dijadikan apa solusinya adalah bagaimana kita bisa meningkatkan aliran modal masuk ke Indonesia lebih banyak. Dan di sisi lain kita bisa datangkan devisa negara lebih banyak ke Indonesia. Salah satunya dengan peningkatan ekspor, pengembangan pariwisata,” katanya.
Meski demikian, Esther mengaku tidak ingin melihat rupiah terus mengalami pelemahan tajam.
Ia berharap tekanan yang terjadi saat ini dapat segera dikendalikan melalui kebijakan ekonomi yang tepat.
“Kalau melihat potensinya kita prediksinya sih tidak pengin ya bahwa rupiah ini terus-terus turun drastis. Meskipun kita prediksi mungkin lebih dari Rp18.000. Semoga tidak sampai Rp20.000 per satu US dolar,” ujarnya.
Menurut Esther, salah satu kunci utama menjaga stabilitas nilai tukar adalah disiplin fiskal.
Pemerintah perlu memastikan penggunaan anggaran negara benar-benar memberikan dampak jangka panjang terhadap perekonomian.
Ia mengingatkan bahwa pengeluaran yang terlalu besar untuk konsumsi tidak akan menghasilkan efek berkelanjutan.
“Anggaran yang ada di APBN ini kalau difokuskan pada konsumsi, saya rasa multiplier effect-nya itu tidak dalam jangka panjang,” katanya.
Sebaliknya, alokasi anggaran perlu diarahkan pada sektor yang mampu menciptakan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
Investasi, pembangunan infrastruktur produktif, dan peningkatan kapasitas ekspor dinilai lebih efektif untuk memperkuat fundamental ekonomi nasional.
“Untuk bisa menguatkan rupiah terhadap US dolar itu butuh yang namanya aliran modal yang masuk,” ujarnya.
Selain menarik modal baru, pemerintah juga perlu menjaga kepercayaan investor.
Esther mengingatkan bahwa sentimen negatif terhadap kebijakan ekonomi dapat memicu keluarnya modal dari Indonesia.
“Jangan sampai dengan adanya aliran modal yang kurang ditambah lagi ada sentimen negatif di pasar terhadap semua kebijakan pemerintah ini menambah capital flight, capital outflow,” katanya.
Menurut dia, keluarnya modal asing akan memperbesar tekanan terhadap rupiah dan memperburuk kondisi pasar keuangan.
Karena itu, pemerintah perlu menghadirkan kebijakan yang memberikan kepastian kepada pelaku usaha dan investor.
Dengan demikian, arus investasi yang masuk dapat membantu memperkuat cadangan devisa sekaligus menjaga stabilitas nilai tukar.
Esther menilai pelemahan rupiah saat ini harus menjadi momentum evaluasi bagi seluruh pemangku kebijakan.
Ia berharap fokus pemerintah tidak hanya tertuju pada menjaga stabilitas jangka pendek, tetapi juga memperkuat struktur ekonomi agar lebih tahan menghadapi gejolak global.
“Kalau kita punya US dolar lebih banyak, saya rasa penguatan rupiah itu akan terjadi,” pungkasnya.
Editor : Enih Nurhaeni