Ribuan Lampion Hiasi Langit Candi Gedongsongo, Wisatawan Seolah Dibawa ke Negeri Dongeng
SEMARANG, iNewsJoglosemar.id – Langit malam di kawasan Candi Gedongsongo berubah menjadi kanvas raksasa yang dipenuhi cahaya saat ribuan lampion diterbangkan bersamaan dalam puncak Festival Gedongsongo 2026, Sabtu (4/7/2026) malam. Di bawah siluet candi-candi kuno dan lereng Gunung Ungaran, ribuan titik cahaya perlahan naik ke angkasa, menciptakan pemandangan yang memukau ribuan pasang mata.
Suasana hening sesaat berubah menjadi tepuk tangan dan sorak kagum ketika lampion-lampion mulai meninggalkan tangan para pengunjung. Cahaya jingga yang mengambang di langit berpadu dengan sorot lampu panggung yang menyapu kawasan candi, menghasilkan panorama malam yang sulit dilupakan.
Kabut tipis yang turun perlahan justru membuat suasana semakin dramatis. Pantulan cahaya lampion di sela-sela bebatuan candi menghadirkan kesan magis, seolah membawa wisatawan memasuki kisah masa lampau yang bertemu dengan kemeriahan festival modern.
Atraksi pelepasan lampion menjadi bagian yang paling ditunggu dalam Festival Gedongsongo tahun ini. Ribuan wisatawan rela menunggu sejak sore untuk mendapatkan posisi terbaik menyaksikan momen tersebut.
Salah satunya Debbie, warga Kota Semarang. Ia mengaku baru pertama kali menyaksikan pelepasan ribuan lampion di kawasan Candi Gedongsongo. Pemandangan yang tersaji, menurutnya, jauh melampaui bayangannya.
"Saya membayangkan lampion-lampion itu terbang tepat di atas bangunan candi, lalu dipadukan dengan sorot lampu yang menyinari candi. Ternyata saat melihat langsung, suasananya jauh lebih indah dari yang saya bayangkan," ujar Debbie.
Perempuan itu mengaku beberapa kali sengaja menghentikan aktivitas memotret hanya untuk menikmati panorama yang ada di hadapannya. Baginya, keindahan malam itu tidak cukup hanya diabadikan melalui kamera.
"Kalau hanya dilihat dari foto atau video mungkin sudah bagus. Tapi saat berada langsung di sini, rasanya berbeda. Cahaya lampion, kabut pegunungan, udara dingin, lalu candi yang diterangi lampu membuat suasananya seperti di negeri dongeng," katanya.
Debbie berharap atraksi pelepasan lampion dapat menjadi agenda rutin setiap tahun. Menurutnya, konsep tersebut memiliki daya tarik yang kuat untuk mendatangkan wisatawan dari berbagai daerah.
"Kalau dibuat rutin, saya yakin orang akan rela datang lagi. Apalagi tempatnya di kawasan candi seperti ini. Rasanya berbeda dibanding festival lampion di tempat lain," ujarnya.
Festival Gedongsongo 2026 mengusung tema "Eksotik Gedongsongo", memadukan pelestarian budaya melalui ritual Resik Candi dengan hiburan modern. Selain pesta lampion, pengunjung juga disuguhi pertunjukan seni tradisional dan penampilan penyanyi nasional Niken Salindry.
Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Semarang, Wiwin Sulistyowati, mengatakan penyelenggaraan Festival Gedongsongo sengaja dipadukan dengan Festival Bunga Bandungan dalam satu akhir pekan untuk memperkuat daya tarik wisata Kabupaten Semarang.
"Adanya efisiensi anggaran membuat kegiatan kedinasan di hotel berkurang, sehingga tingkat okupansi hotel di Bandungan sempat turun. Karena itu, tahun ini kami padukan langsung dengan Festival Bunga Bandungan. Dampaknya, okupansi hotel kembali meningkat tajam dan ekonomi UMKM bergerak," kata Wiwin.
Sementara itu, Bupati Semarang Ngesti Nugraha menyebut festival-festival tematik menjadi salah satu strategi pemerintah daerah untuk meningkatkan jumlah kunjungan wisata. Menurutnya, berbagai inovasi yang dilakukan telah mendorong kunjungan wisatawan di Kabupaten Semarang mendekati satu juta orang.
"Dengan bertambahnya berbagai destinasi wisata dan hadirnya festival rutin seperti ini, peningkatan kunjungan wisata kita hampir menyentuh angka satu juta pengunjung. Pada tahun 2026 ini, kami berharap angka tersebut terus merangkak naik," ujar Ngesti.
Perpaduan ribuan lampion yang menari di langit malam, megahnya bangunan Candi Gedongsongo yang diselimuti sorot cahaya, serta udara sejuk lereng Gunung Ungaran menjadikan Festival Gedongsongo 2026 bukan sekadar pertunjukan, melainkan pengalaman visual yang meninggalkan kesan mendalam bagi setiap pengunjung yang hadir.
Editor : Enih Nurhaeni