get app
inews
Aa Text
Read Next : Korupsi Dana Kelurahan Bergas Lor Rugikan Negara Rp602 Juta, 3 Tersangka Ditahan

Calon Mahasiswa Baru Simak, Ini Suka Duka Kuliah Farmasi hingga Profesi Apoteker Selama Lima Tahun

Jum'at, 12 Juni 2026 | 10:36 WIB
header img
Calon Mahasiswa Baru Simak, Ini Suka Duka Kuliah Farmasi hingga Profesi Apoteker Selama Lima Tahun. Foto: iNewsJoglosemar.id/Taufik Budi

 

SEMARANG, iNewsJoglosemar.id – Menjadi apoteker bukan hanya soal mempelajari obat-obatan. Mahasiswa juga harus siap menghadapi berbagai tantangan selama menempuh pendidikan, mulai dari perkuliahan, praktikum, hingga praktik kerja di berbagai sektor layanan kesehatan.

Pengalaman itu dirasakan langsung oleh Ulfatun Dyah Nur, salah satu lulusan Program Studi Profesi Apoteker Universitas Telogorejo Semarang (UNTS) yang baru saja mengikuti pengambilan sumpah profesi apoteker.

Perempuan asal Kabupaten Grobogan tersebut menyelesaikan pendidikan selama lima tahun di kampus yang sama, mulai dari jenjang sarjana farmasi hingga profesi apoteker.

Bagi calon mahasiswa baru yang tertarik mengambil jurusan farmasi, Ulfatun menilai penting untuk memahami bahwa dunia farmasi menawarkan pengalaman belajar yang luas dan beragam.

Selama menempuh pendidikan profesi apoteker, ia tidak hanya belajar di ruang kelas, tetapi juga harus menjalani berbagai praktik lapangan di sejumlah tempat berbeda.

"Kalau suka dukanya kuliah apoteker selama lima tahun itu, kita harus berpindah-pindah tempat, tapi tetap seru karena kita mengenal banyak orang," ujar Ulfatun.

Menurutnya, mobilitas yang tinggi menjadi salah satu tantangan yang harus dihadapi mahasiswa profesi apoteker.

Mahasiswa dituntut mampu beradaptasi dengan lingkungan baru, sistem kerja yang berbeda, hingga karakter tenaga kesehatan di setiap lokasi praktik.

Meski demikian, pengalaman tersebut justru menjadi nilai tambah karena mahasiswa memperoleh wawasan yang lebih luas mengenai dunia farmasi.

"Kita mengenal berbagai macam pekerjaan, dari industri, dari komunitas, dari distributor, kita tahu semuanya," katanya.

Melalui pengalaman tersebut, mahasiswa dapat memahami berbagai pilihan karier yang bisa ditempuh setelah lulus.

Tidak hanya bekerja di apotek atau rumah sakit, lulusan farmasi juga memiliki peluang berkarier di industri farmasi, distributor obat, lembaga pemerintahan, hingga sektor penelitian.

Ulfatun mengakui berpindah-pindah lokasi praktik memang cukup melelahkan.

Mahasiswa harus menyesuaikan jadwal, lingkungan kerja, serta tuntutan kompetensi yang berbeda-beda dalam waktu relatif singkat.

"Kabar buruknya kita berpindah-pindah setiap saat, setiap waktu kita berpindah-pindah," ungkapnya.

Namun di balik tantangan tersebut, terdapat pengalaman berharga yang tidak bisa diperoleh hanya dari pembelajaran teori di kampus.

"Kabar baiknya kita dapat berbagai ilmu dari berbagai bidang keilmuan," lanjutnya.

Selama lima tahun menjalani pendidikan farmasi dan profesi apoteker, Ulfatun memilih tetap menempuh seluruh proses studinya di Universitas Telogorejo Semarang.

Ia mengaku merasa nyaman karena fasilitas pembelajaran hingga dukungan pengembangan karier tersedia dengan baik.

"Dari awal sampai akhir setia dengan Telogorejo karena memang semua lengkap," katanya.

Menurut Ulfatun, salah satu keunggulan yang dirasakan mahasiswa menjelang kelulusan adalah adanya program campus hiring yang mempertemukan lulusan dengan berbagai perusahaan dan fasilitas kesehatan.

Melalui program tersebut, mahasiswa dapat langsung memperoleh informasi lowongan kerja bahkan mengikuti proses rekrutmen tanpa harus mencari sendiri.

"Kemarin ada campus hiring, ada berbagai perusahaan yang datang," ujarnya.

Kesempatan tersebut membuat lulusan lebih siap memasuki dunia kerja setelah resmi menyandang gelar apoteker.

Meski telah menyelesaikan pendidikan profesi, Ulfatun mengaku masih memiliki target akademik yang ingin dicapai.

Ia berencana melanjutkan pendidikan ke jenjang magister sembari mempersiapkan diri memasuki dunia kerja.

"Insyaallah saya mau lanjut S2 dulu, harus cari kerja juga," katanya.

Bagi calon mahasiswa baru, pengalaman Ulfatun menunjukkan bahwa kuliah farmasi dan profesi apoteker memang penuh tantangan. Namun di sisi lain, pendidikan tersebut membuka kesempatan untuk mengenal banyak bidang pekerjaan sekaligus membangun kompetensi yang dibutuhkan dalam dunia kesehatan.

Dengan bekal pengalaman praktik yang beragam, lulusan profesi apoteker diharapkan tidak hanya siap bekerja, tetapi juga mampu memberikan kontribusi nyata bagi peningkatan kualitas layanan kesehatan masyarakat.

Rektor Universitas Telogorejo Semarang (UNTS) dr. Swanny Trikajanti Widyaadmadja, M.Kes., Ph.D. mengatakan pihaknya merasa bangga dapat mengantarkan 25 lulusan profesi apoteker memasuki dunia kerja dengan bekal kompetensi yang telah teruji.

"Hari ini Universitas Telogorejo Semarang merayakan kegembiraannya dengan mengangkat sumpah 25 profesi apoteker angkatan kedua dari Program Studi Profesi Apoteker yang ada di bawah Fakultas Ilmu Kesehatan dan Teknologi Universitas Telogorejo Semarang," ujarnya.

Menurutnya, kebanggaan lain yang diraih kampus adalah keberhasilan Program Studi Farmasi memperoleh predikat Akreditasi Unggul. Predikat tersebut menjadi jaminan mutu bagi lulusan saat memasuki dunia kerja maupun melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

"Mereka saat ini bisa lulus dengan ijazah Universitas Telogorejo Semarang Prodi Farmasi dengan predikat akreditasinya unggul. Ini adalah akreditasi tertinggi yang bisa dibawa oleh teman-teman di dunia kerja," kata Swanni.

Ia menjelaskan bahwa selama pendidikan profesi, mahasiswa tidak hanya memperoleh teori di ruang kelas, tetapi juga menjalani berbagai praktik lapangan yang memperkaya pengalaman dan kompetensi mereka sebagai calon apoteker.

Karena itu, pihak kampus berharap para lulusan tetap memegang teguh nilai-nilai yang selama ini ditanamkan dalam proses pembelajaran.

"Jangan lupa untuk selalu membawa karakter dan nilai-nilai iCare, yaitu mengedepankan integritas, pelayanan, serta memanusiakan semua yang dijalani dalam kehidupan dan profesinya," tuturnya.

Selain fokus pada kualitas pendidikan, Universitas Telogorejo Semarang juga menyiapkan jalur transisi menuju dunia kerja melalui program campus hiring yang rutin digelar setiap tahun.

Melalui program tersebut, sejumlah rumah sakit, apotek, industri farmasi hingga perusahaan kesehatan mengirimkan tim Human Resources Development (HRD) ke kampus untuk melakukan proses rekrutmen secara langsung.

"Setiap tahun akhir pendidikan kami bekerja sama dengan dunia usaha dan dunia industri. Rekrutmen dilakukan di sini sehingga perusahaan bisa langsung melihat portofolio mahasiswa dan merekrut sesuai kebutuhannya," jelas Swanni.

Dengan mekanisme tersebut, lulusan tidak perlu menghadapi proses pencarian kerja secara mandiri setelah menyelesaikan pendidikan.

"Bagian dari rangkaian kami adalah mempersiapkan mahasiswa sejak diterima, belajar di sini, lulus, hingga siap bekerja," tambahnya.

 

 

 

Editor : Enih Nurhaeni

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut