get app
inews
Aa Text
Read Next : 51.372 Wisatawan Asing Naik Kereta di Daop 4 Semarang Selama Semester I 2026

Ketoprak Cilik Sang Kusuma Wilis Hidupkan Perjuangan Nyi Ageng Serang di Ungaran

Sabtu, 27 Juni 2026 | 09:00 WIB
header img
Ketoprak Cilik Sang Kusuma Wilis Hidupkan Perjuangan Nyi Ageng Serang di Ungaran. Foto: iNewsJoglosemar.id/Taufik Budi

SEMARANG, iNewsJoglosemar.id – Udara dingin di kaki Gunung Ungaran menyelimuti Lapangan Condrowinoto, Dusun Dampu, Desa Kalongan, Kecamatan Ungaran Timur, Jumat (26/6/2026) malam. Kabut tipis perlahan turun di tengah alunan gamelan yang bertalu-talu, menciptakan suasana magis saat puluhan anak memasuki panggung sambil menari dan menaburkan bunga sebagai pembuka pementasan ketoprak cilik berjudul "Sang Kusuma Wilis".

Tak lama kemudian, tokoh sentral Nyi Ageng Serang tampil dengan langkah tegap dan sorot mata penuh wibawa. Mengenakan busana kebesaran seorang panglima, ia memimpin pasukan rakyat menghadapi serdadu Belanda. Adegan demi adegan disambut tepuk tangan ratusan penonton yang memenuhi area pertunjukan.

Pementasan tersebut merupakan bagian dari Pentas Kolaborasi Pendadaran Condrowinatan Sanggar Budaya Condrowinoto, yakni ujian kenaikan tingkat bagi para murid sanggar yang rutin digelar setiap liburan sekolah.

Sekitar 80 anak terlibat dalam pertunjukan yang mengangkat kisah perjuangan Nyi Ageng Serang sebagai pahlawan perempuan yang gigih mempertahankan Nusantara dari penjajahan Belanda.

Pemilik Sanggar Budaya Condrowinoto, Raden Nganten Eropeana Puspitasari, mengatakan lakon tahun ini sengaja dipilih agar anak-anak mengenal sejarah perjuangan bangsa melalui media seni tradisional.

"Lakon tahun ini kita mengajarkan sejarahnya Nyi Ageng Serang. Jadi perjuangan kita mengangkat seorang pejuang wanita yang gigih berjuang untuk mempertahankan Nusantara dari Belanda," ujarnya.

Menurutnya, kegiatan pendadaran merupakan agenda tahunan yang diselenggarakan layaknya sistem pendidikan formal.

Setelah menjalani ujian, para murid akan menerima rapor sebelum memasuki masa libur sanggar dan pembukaan pendaftaran peserta didik baru.

"Memang setiap tahun kegiatan ini kita adakan setiap liburan sekolah. Kegiatan kami mengikuti seperti sekolah formal. Setelah ujian nanti ada penerimaan rapor, kemudian sanggar libur, lalu membuka pendaftaran murid baru," katanya.

Saat ini Sanggar Budaya Condrowinoto memiliki hampir 100 murid aktif, sedangkan sekitar 80 anak mengikuti pendadaran tahun ini.

Raden Nganten menjelaskan, ketoprak dipilih sebagai materi ujian karena menjadi bagian dari pembelajaran Budi Pekerti Jawa, selain kelas tari, karawitan, dan wayang.

"Di sanggar ada kelas tari, karawitan, wayang, dan budi pekerti Jawa yang saya wajibkan untuk anak-anak. Jadi mereka tidak hanya bisa menari atau karawitan, tetapi harus memiliki jati diri dan budi pekerti yang baik sebagai orang Jawa," jelasnya.

Menurutnya, tujuan utama mendirikan Sanggar Budaya Condrowinoto adalah mengembalikan jati diri generasi muda yang mulai tergerus perkembangan zaman.

Ia mengaku ingin anak-anak tidak hanya mengenal budaya asing, tetapi juga bangga terhadap budaya leluhurnya.

"Saya selalu menanamkan kepada anak-anak, kalian lahir di tanah Jawa, besar di tanah Jawa, apa yang bisa kalian berikan untuk tanah Jawa. Itu tujuan saya mendirikan sanggar ini supaya generasi muda tidak lupa dengan jati dirinya," tuturnya.

Ia berharap dari sanggar tersebut lahir generasi penerus bangsa yang memiliki karakter kuat sekaligus mencintai budaya Nusantara.

"Harapan ke depan saya ingin mencetak generasi muda, pemimpin-pemimpin bangsa yang memiliki jati diri Nusantara," katanya.

Antusiasme masyarakat terhadap kegiatan tersebut, lanjutnya, terus meningkat setiap tahun.

Jika sebelumnya pendadaran hanya dilaksanakan di pendopo sanggar, kini pertunjukan dipindahkan ke lapangan terbuka karena jumlah penonton yang terus bertambah.

"Antusiasmenya sangat luar biasa. Dulu kami masih mengadakan di pendopo, tetapi karena peminat semakin banyak, tiga tahun terakhir kami mengadakan di tempat yang lebih luas," ungkapnya.

Selain dihadiri masyarakat Kabupaten Semarang, pentas budaya tersebut juga dihadiri tamu dari keluarga besar Keraton Yogyakarta.

Raden Nganten Eropeana Puspitasari menjelaskan dirinya merupakan bagian dari Trah Hamengkubuwono II. Karena itu, pengangkatan kisah Nyi Ageng Serang juga memiliki kedekatan historis dengan keluarganya.

"Kebetulan saya adalah Trah Hamengkubuwono II. Nyi Ageng Serang adalah besan dari Eyang Hamengkubuwono II. Malam ini kami juga didampingi pesederekan Trah Hamengkubuwono II yang diwakili Bapak Raden Hendro Marwoto selaku ketua Trah Hamengkubuwono II," jelasnya.

 

 

Editor : Enih Nurhaeni

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut