Bosan Menunggu Kerja, Lulusan Kuliah Ini Pilih Jadi Petani Milenial di Kabupaten Semarang
SEMARANG, iNewsJoglosemar.id – Di saat banyak anak muda memilih bekerja di pabrik atau merantau setelah lulus kuliah, Muhammad Khairul Anam justru mengambil jalan berbeda. Pemuda 25 tahun asal Kecamatan Ungaran Barat itu memutuskan mengelola lahan milik keluarganya dan menekuni dunia pertanian.
Keputusan tersebut diambil setelah ia lulus kuliah dan belum mendapatkan pekerjaan. Tawaran dari sang ibu untuk menggarap lahan di dekat rumah menjadi titik awal perjalanannya sebagai petani milenial.
"Setelah lulus kuliah saya belum punya pekerjaan. Lalu ibu menawarkan untuk mengelola lahan sendiri," ujar Muhammad Khairul Anam, Selasa (21/7/2026).
Lahan yang dikelolanya berada di wilayah Genuk, Kecamatan Ungaran Barat. Meski mayoritas petani di daerahnya menanam padi, Khairul memilih mencoba komoditas lain karena ingin menghadirkan sesuatu yang berbeda.
Menurutnya, menjadi petani memiliki daya tarik tersendiri. Selain memiliki waktu kerja yang lebih fleksibel, profesi tersebut juga memberikan ruang untuk mengembangkan usaha sendiri. Namun, fleksibilitas itu tetap harus dibarengi dengan kedisiplinan dalam merawat tanaman.
"Jam kerjanya memang lebih fleksibel, tetapi tanaman tetap harus dirawat setiap hari," katanya.
Di balik pilihannya menjadi petani, Khairul juga melihat fenomena yang cukup mengkhawatirkan. Ia mengaku semakin sedikit anak muda di daerahnya yang tertarik terjun ke sektor pertanian. Sebagian besar justru memilih bekerja di pabrik karena dianggap lebih praktis.
Langkah kecil yang ia pilih setelah lulus kuliah kini menjadi bagian dari harapan besar untuk menjaga keberlangsungan sektor pertanian. Di tengah semakin langkanya petani muda, ia membuktikan bahwa bertani tetap bisa menjadi profesi yang menjanjikan jika dikelola dengan ilmu, inovasi, dan kemauan untuk terus belajar.
Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan Pemerintah Kabupaten Semarang menggagas Program Sekolah Tani Milenial sebagai upaya regenerasi petani.
Kepala Dinas Pertanian, Perikanan, dan Pangan (Dispertanikap) Kabupaten Semarang, Edy Sukarno, mengatakan sektor pertanian saat ini menghadapi tantangan besar berupa krisis sumber daya manusia.
Berdasarkan Sensus Pertanian 2023, petani milenial di Kabupaten Semarang hanya sekitar 11,8 persen, sedangkan petani berusia lanjut mencapai 77,8 persen. Dalam kurun waktu 10 tahun, jumlah rumah tangga usaha pertanian juga menurun hingga 10,27 persen, sementara jumlah penduduk terus bertambah.
"Karena itu kami menyelenggarakan Sekolah Tani Milenial untuk memotivasi generasi muda agar kembali mau terjun menjadi petani, baik di bidang budidaya maupun agribisnis," kata Edy Sukarno.
Program tersebut telah berjalan sejak 2024 dan kini memasuki angkatan keenam. Setiap angkatan diikuti sekitar 40 peserta sehingga total telah menjangkau sekitar 240 anak muda.
Pelatihan digelar di enam kecamatan penghasil tembakau, seperti Sumowono, Bringin, Bancak, Kaliwungu, Bandungan, dan wilayah lainnya. Meski berlangsung di sentra tembakau, materi yang diberikan tidak hanya membahas budidaya tembakau, tetapi juga mencakup berbagai bidang pertanian.
Peserta mendapatkan dua kelompok materi, yakni keterampilan teknis budidaya pertanian serta peningkatan kapasitas kewirausahaan. Mereka juga dibekali pengetahuan mengenai pemasaran digital, pengembangan usaha, hingga cara menjadi entrepreneur di sektor pertanian.
Menurut Edy, penguatan sumber daya manusia menjadi faktor utama dalam menjaga keberlanjutan sektor pertanian.
"SDM adalah faktor yang paling menentukan. Kalau ini tidak kita siapkan, program lain akan sia-sia. Statistik menunjukkan jumlah petani terus berkurang, sehingga kami ingin membangkitkan minat anak-anak muda," ujarnya.
Selain Sekolah Tani Milenial, Pemerintah Kabupaten Semarang juga tengah menyiapkan program penyuluh masuk sekolah agar edukasi pertanian dapat menjadi bagian dari kegiatan pembelajaran sejak dini.
Bupati Semarang Ngesti Nugraha mengatakan regenerasi petani menjadi perhatian serius pemerintah daerah mengingat mayoritas petani saat ini telah berusia di atas 50 tahun.
"Harapan kami anak-anak muda menjadi petani yang modern, tidak seperti dulu lagi. Mereka harus dibekali edukasi dan inovasi agar mampu mengembangkan sektor pertanian," kata Ngesti Nugraha.
Sebagai bentuk dukungan, Pemkab Semarang rutin menggelar pelatihan petani milenial sekaligus menyalurkan bantuan alat dan mesin pertanian, seperti transplanter, hand traktor, hingga rice milling unit yang telah didistribusikan ke setiap kecamatan.
Selain itu, pemerintah daerah juga mendorong penerapan pertanian ramah lingkungan dengan mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia secara bertahap menuju sistem semi organik hingga organik.
Editor : Enih Nurhaeni