DEMAK, iNewsJoglosemar.id - Motor yang saya kendarai menderu pelan ketika memasuki wilayah pesisir Sayung, Demak, pada siang yang terik dan lengket. Udara asin yang datang dari laut menyapu wajah saya seperti sapaan pertama bagi siapa pun yang hendak menelusuri kehidupan masyarakat di tepi Jawa bagian utara itu.
Dua kilometer sebelum masuk Desa Banjarsari, saya melewati jalan sempit yang memanjang di antara hamparan tambak, dan cahaya matahari yang memantul di permukaan air membuat langit terlihat seperti memiliki dua wajah. Di satu sisi biru, di sisi lain perak menyilaukan, dan keduanya menyambut dengan kesan yang sama: panas dan keras.
Saya memutar gas motor lebih pelan, memastikan roda tidak terpeleset di jalan tambak yang mulai retak-retak karena cuaca ekstrem yang datang hampir setiap minggu. Angin dari utara bertiup kencang, membuat tubuh sedikit oleng, namun pada saat bersamaan justru mengingatkan saya mengapa tempat ini sering dijadikan lokasi penelitian energi terbarukan.
“Kalau bukan di sini, mau di mana lagi?” gumam saya dalam hati sambil melihat tiang-tiang lampu listrik di sepanjang jalan masuk desa. Saya berhenti sejenak di bawah papan bertuliskan “Selamat Datang di Desa Banjarsari”, menghela napas, lalu menurunkan standar motor untuk memperbaiki posisi tas di punggung sebelum kembali melaju.
Begitu motor kembali melaju, suasana desa mulai terasa. Rumah-rumah sederhana berdiri di kiri dan kanan jalan, sebagian dikelilingi tambak bandeng dan udang, sebagian lagi tampak seperti sedang berjuang melawan naiknya air. Anak-anak berlarian tanpa alas kaki, melintasi jalan tanah yang berdebu, sementara para ibu duduk di beranda dengan kerudung yang berkibar tertiup angin.
Dalam perjalanan ini, saya telah berjanji pada diri sendiri untuk tidak hanya melihat panel surya dan turbin angin yang sering dibicarakan orang, tetapi juga memahami cerita manusia di balik cahaya yang mereka hasilkan. Warga memanfaatkan PLTS–PLTB hybrid (Pembangkit Listrik Tenaga Surya/ Matahari dan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu/ Angin) sebagai sumber energi baru yang disediakan alam.
Di halaman Balai Desa Banjarsari, Kepala Desa Haryanto telah menunggu dengan senyum yang ramah. Tubuhnya tegap, matanya jernih, dan nada suaranya tenang seperti biasa ketika menyambut tamu dari luar desa.
“Kami pakai Dana Desa sebesar Rp84 juta untuk energi terbarukan, Mas,” katanya ketika kami berjalan bersama menuju sisi timur balai desa, Selasa 21 Oktober 2025.
“Kami pasang tenaga surya hybrid agar bisa memberikan pencahayaan dari ujung desa ke ujung desa,” lanjutnya sambil menunjuk deretan lampu tenaga surya yang berdiri di sepanjang jalan tambak yang tampak berkilat terkena panas siang itu.
Dua kalimat sederhana itu seketika membuat saya memahami semangat yang dimiliki oleh warga desa ini. Banjarsari terbagi menjadi 9 dusun yang dipisahkan oleh tambak-tambak luas, sehingga jaringan listrik PLN yang masuk sering tidak stabil, apalagi saat cuaca buruk.
Haryanto menjelaskan bahwa wilayah desanya berada di kawasan pesisir dengan suhu yang kerap mencapai 34–36 derajat Celsius. Meski kadang turun hujan, panas tetap terasa menyengat, ditambah embusan angin utara yang hampir tidak pernah berhenti. Karena kondisi itulah, desa memilih memanfaatkan dua sumber energi yang melimpah di sana—matahari dan angin.
“Saya tidak ingin warga pulang dalam gelap,” ujarnya saat kami terus melangkah menyusuri jalan yang memanjang seperti garis batas antara daratan dan air.
Ketika kami sampai di lokasi, jembatan itu tampak seperti struktur lama yang menolak menyerah pada usia. Sebagian papan sudah keropos, sebagian lagi berlubang sehingga arus sungai terlihat jelas di bawahnya.
“Kalau malam itu ngeri, Mas,” kata Mustofa, warga yang kebetulan lewat membawa karung kecil berisi peralatan kerjanya.
Mustofa tinggal di desa tetangga, tetapi jalur yang melewati jembatan inilah yang paling cepat menuju lokasi kerjanya di Semarang. “Kalau lewat jalur lain itu muter jauh,” katanya sambil memegang erat tali karungnya.
Ia mengakui bahwa lampu-lampu tenaga surya yang dipasang sepanjang jalan antara Dusun Dombo dan Brangsong membuat perjalanan malamnya jauh lebih aman. “Kalau tidak ada lampu itu, saya tidak mungkin lewat sini jam 9 malam,” ucapnya sambil menunjuk tiang-tiang lampu yang terhubung kabel menuju sebuah menara baja setinggi 9 meter.
Editor : Enih Nurhaeni
Artikel Terkait
