Energi Komunitas
Proyek PLTS hybrid yang dibangun di kawasan Pujasera Energi ini menjadi salah satu bentuk komitmen Pertamina dalam mendorong percepatan transisi energi berbasis komunitas. Inisiatif ini sejalan dengan arah pembangunan energi nasional, di mana pemerintah menetapkan target Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2060.
Area Manager Communication, Relations, and Corporate Social Responsibility (CSR) PT Pertamina Patra Niaga Jawa Bagian Tengah, Taufiq Kurniawan, menjelaskan bahwa Pujasera Energi di Semarang merupakan contoh penerapan energi baru terbarukan (EBT) berbasis PLTS dengan sistem off-grid. Ia menyebut proyek ini dirancang agar komunitas pesisir dapat merasakan langsung manfaat kemandirian energi tanpa ketergantungan pada jaringan PLN.
“Pujasera Energi ini menggunakan energi baru terbarukan melalui sistem PLTS off-grid. Sistem ini hanya menyerap energi matahari pada siang hari, lalu menyalurkannya kembali pada malam hari,” ujar Taufiq.
Secara teknis, panel surya yang terpasang di area Pujasera terdiri dari 20 lembar modul fotovoltaik. Keseluruhan modul tersebut mampu menghasilkan daya listrik sekitar 5 kilowatt-hour (kWh) per hari. Energi yang terkumpul pada siang hari disalurkan ke baterai penyimpanan berkapasitas menengah, sehingga dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan penerangan maupun operasional kios pada malam hari ketika aktivitas warga pesisir masih berlangsung.
Dengan sistem off-grid ini, kelompok pengelola Pujasera kini tidak lagi terbebani biaya listrik seperti sebelumnya. Taufiq menjelaskan bahwa sebelum penggunaan PLTS, biaya yang harus ditanggung untuk penerangan dan operasional bisa mencapai Rp600 ribu per bulan. Namun setelah sistem energi surya berjalan, angkanya turun drastis menjadi sekitar Rp200 ribu per bulan.
“Sebelumnya, untuk kebutuhan penerangan dan operasional, kelompok ini harus membayar listrik sekitar Rp600 ribu per bulan. Setelah menggunakan PLTS, biayanya turun menjadi sekitar Rp200 ribu per bulan, artinya ada penghematan sekitar Rp400 ribu setiap bulan,” jelasnya.
Menurut Taufiq, efisiensi tersebut merupakan alasan utama mengapa konsep Pujasera Energi dikembangkan. Pertamina ingin memastikan bahwa pemanfaatan energi bersih tidak hanya mengurangi emisi, tetapi juga benar-benar membantu masyarakat menekan biaya hidup serta memperluas peluang ekonomi mereka.
“Konsep ini bertujuan meringankan beban operasional dan pengeluaran kelompok, serta ke depan bisa dimanfaatkan untuk kegiatan sosial kemasyarakatan,” ungkapnya.
Selain Pujasera Energi, Pertamina Patra Niaga juga telah menjalankan sejumlah program transisi energi lainnya, yakni Desa Energi Berdikari (DEB) dan Sekolah Energi Berdikari (SEB). Program-program ini memiliki tujuan yang sama: memperluas akses masyarakat terhadap energi bersih, membangun literasi energi sejak dini, dan membentuk ekosistem energi hijau yang berkelanjutan hingga tingkat desa.
“Kami juga mengembangkan Desa Energi Berdikari dan Sekolah Energi Berdikari untuk memperkuat gerakan menuju Indonesia Net Zero Emission tahun 2060,” tutur Taufiq.
Upaya Pertamina ini berjalan seiring dengan kebijakan pemerintah. Pada periode 2024–2034, pemerintah menargetkan 76 persen dari tambahan kapasitas pembangkit nasional—sekitar 69,5 gigawatt (GW)—akan berasal dari energi terbarukan dan sistem penyimpanan energi. Langkah transformatif ini diperkirakan menciptakan perubahan besar pada cara Indonesia memproduksi dan mengelola energi.
Di sudut lain, saya bertemu Satria Pinandita, pakar EBT sekaligus dosen Teknik Elektro Universitas Semarang (USM). Ia merupakan salah satu figur penting di balik sistem hybrid di Tambakharjo dan Banjarsari. Ia meyakini potensi panas dan angin di pesisir utara Jawa dapat menjadi jawaban atas krisis listrik yang selama ini menghantui desa-desa nelayan.
“Prinsipnya sederhana, kita memanfaatkan apa yang ada di sekitar. Matahari dan angin di pesisir ini tidak pernah absen,” ujar Satria yang saat ini sedang mengikuti [rogram doktoral di Yogyakarta.
Risetnya bermula di Tambakharjo, Semarang. Di sana, ia membangun sistem hybrid untuk melistriki pujasera energi yang dikelola warga. Dari proyek kecil itu, muncul gagasan yang lebih besar: desa pesisir harus bisa mandiri listrik.
Pada 2023, inovasi tersebut dibawa ke Desa Banjarsari, Demak — wilayah tambak yang selama bertahun-tahun tenggelam dalam gelap saat malam tiba. “Di Banjarsari, mereka sepakat untuk membangun pembangkit hybrid untuk penerangan jalan desa,” jelasnya.
Lampu otomatis menyala saat senja dan padam menjelang subuh berkat sensor cahaya. Meski sederhana, hasilnya mengubah rasa aman dan aktivitas warga. “Ini sistem off-grid, tidak terhubung PLN. Jadi sekalipun listrik mati, desa tetap terang,” tegasnya.
Satria menjelaskan, turbin angin bekerja malam hari atau saat cuaca mendung, sementara panel surya mengambil alih pada siang hari. Dua sumber energi saling melengkapi sehingga pasokan tetap stabil. Bagi Satria, teknologi ini bukan semata soal panel dan baling-baling.
“Selama ini banyak daerah pesisir tergantung pada bantuan pemerintah atau PLN. Padahal, dengan sedikit inovasi, mereka bisa mandiri,” ujarnya.
Editor : Enih Nurhaeni
Artikel Terkait
