Surya dan Angin Mengubah Wajah Pantura

Taufik Budi
Surya–Angin Mengubah Wajah Pantura. Foto: Taufik Budi

 

Cahaya Pesisir

Motor saya kemudian melaju ke Jalur Pantura Demak–Semarang sebelum berbelok ke Jalan Hanoman Raya. Setelah melewati perumahan elite, gerbang bertuliskan “Kampung Kuliner Pujasera Energi” menyambut saya. Kawasan yang dulunya rawan rob kini tampak terang dan tertata.

Deretan lapak dengan atap baja ringan berdiri rapi, masing-masing dilengkapi panel surya di atasnya. Lampu-lampu di pujasera menyala terang tanpa suara bising genset, sementara lapangan di sampingnya dipenuhi warga yang bermain sepak bola dan berolahraga.

Proyek percontohan energi terbarukan di kawasan pesisir Semarang, yang berjarak sekitar 3,7 kilometer dari Bandara Internasional Jenderal Ahmad Yani, kini menjadi simbol kolaborasi antara inovasi energi hijau dan pemberdayaan ekonomi warga lokal.

Aroma sate cumi, bakso ikan, dan nasi goreng kampung bercampur dengan angin laut ketika matahari mulai turun ke garis horison. Anak-anak berlarian di sekitar area permainan, sementara pedagang menyiapkan dagangan mereka tanpa terburu-buru karena tidak takut listrik padam.

“Dulu kalau malam remang-remang, sekarang terang semua, Mas,” kata Khomsatun, pedagang soto ayam dan nasi rames yang sudah berjualan di sana sebelum program energi terbarukan masuk.

Ia bercerita bagaimana dulu pedagang banyak pengeluaran untuk membayar biaya listrik. Sekarang, dengan panel surya yang menjadi sumber listrik bagi mesin penanak nasi, membuat makanan selalu hangat ketika disajikan ke konsumen.

“Kalau ramai begini, alhamdulillah sekali,” katanya sambil tersenyum lebar.

Salah satu pedagang lainnya, Jess, mengaku bergabung di Pujasera Energi karena ingin tetap produktif sembari mengurus anak. Ia memilih membuka lapak dari sore hingga tengah malam, menyesuaikan jumlah pengunjung.

“Saya dulu kerja, tapi setelah punya anak enggak bisa diam. Akhirnya jualan aja. Saya punya bakat masak, ikut zamannya anak muda sekarang, jualan seblak, bakaran, dan menu goreng-goreng,” ujar ibu dua anak itu.

Jess biasanya mulai berjualan pukul 15.00 WIB dan tutup sekitar pukul 23.00 WIB atau lebih jika masih ramai. Seluruh aktivitas dagang, seperti menyalakan blender, kipas angin, lampu, hingga mengisi daya ponsel, ditopang energi dari panel surya.

“Ada keuntungan sendiri sih, karena daya listrik PLN-nya enggak begitu banyak. Jadi bisa hemat banget. Kalau blender, kipas, lampu, charger HP, semuanya pakai panel surya,” katanya.

Penggunaan PLTS ini, menurut riset di lapangan, mampu mengurangi pengeluaran energi UMKM hingga 40–60%. Ketika daya panel surya habis, sistem otomatis beralih ke PLN. “Biasanya tuh kayak ada bunyi ‘ceklek’, mati sebentar terus nyala lagi. Itu artinya dayanya habis, pindah ke PLN,” jelasnya.

Bagi Jess dan pedagang lainnya, Pujasera Energi bukan hanya tempat berjualan, tetapi ruang belajar. Berbagai pelatihan UMKM hingga pelatihan teknis energi terbarukan kerap diberikan oleh lembaga dan kampus yang menjalin kerja sama.

“Sering ada pelatihan UMKM, cara marketing, sampai kerja sama sama kampus. Banyak banget ilmunya, dari enggak bisa jadi bisa,” ungkapnya.

Sementara itu, Dian Mayasari—anggota Koperasi Pertaharjo sekaligus tim event di Pujasera Energi—menceritakan bahwa kawasan tersebut sebelumnya menggunakan kombinasi turbin dan panel surya sebagai sumber listrik alternatif.

“Dulu pernah menggunakan turbin dan panel surya untuk mengganti energi, dan sekarang semuanya beralih ke panel surya,” kata Dian.

Pada masa awal, PLTS–PLTB hybrid berkekuatan 3 kWh dipasang di halaman Pujasera Energi dan sempat menjadi ikon kawasan kuliner itu. Namun, usia konstruksi membuat beberapa bagian besi penyangga dan turbin menua, berkarat, dan menimbulkan suara keras ketika diterpa angin laut.

“Karena lokasinya pas di depan sini, maka kadang kita dan pengunjung agak takut. Suaranya keras saat ada angin. Daerah sini kan besi-besi mudah sekali kena karat daerah pengaruh angin laut. Awal kita bikin PLTS hybrid-PLTB itu tahun 2022,” jelasnya.

Akhirnya, sistem tersebut sepenuhnya diganti dengan panel surya atap yang dinilai lebih aman dan stabil. “Sejak enam bulan lalu diganti. Manfaatnya sangat banyak dan sangat membantu buat lapak-lapak Pujasera ini. Ada 7 lapak, dan fasilitas panggung biasa untuk live music atau acara ulang tahun,” lanjut Dian.

Kini setiap atap lapak dilengkapi PLTS yang mampu menyalakan lampu, kipas, WiFi, hingga peralatan pendukung kuliner. Pengeluaran pedagang untuk listrik pun menurun drastis, memberi mereka ruang untuk menjaga harga tetap ramah tanpa mengorbankan keuntungan.

Skema pengelolaan di Pujasera Energi juga dibuat ringan dan gotong royong. Iuran tiap bulan sebagian besar dialokasikan untuk biaya air dan pemeliharaan sistem panel surya yang merupakan aset bersama kelompok.

“Lapak-lapak di sini tidak disewa mahal, cuma membantu bayar listrik dan air. Jadi biayanya enggak sampai ratusan ribu per lapak. Setiap pekan Rp35 ribu, artinya tiap hari hanya perlu iuran Rp5 ribu. Jam operasional Pujasera ini mulai pagi sampai malam,” terang Dian.

Dengan model seperti ini, kawasan pesisir tersebut tumbuh melampaui fungsi awalnya sebagai pusat kuliner. Ia kini menjadi pusat ekonomi baru, tempat para pelaku usaha mikro belajar teknologi, meningkatkan kapasitas, dan memperluas peluang mereka melalui energi terbarukan.

Editor : Enih Nurhaeni

Halaman Selanjutnya
Halaman : 1 2 3 4 5 6 7

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network